
Sesampainya mereka di rumah sakit, Sherina bejalan tepat di sebelah suaminya. Putrinya bahkan sangat anteng, menikmati pemandangan rumah sakit yang kali ini sedikit padat oleh pasien.
"Kita langsung konsultasikan kakimu terlebih dahulu. Baru setelahnya aku akan menghubungi Alissa." Sherina menolehkan kepalanya dan menatap suaminya.
Marvin hanya menganggukkan kepalanya ringan, lalu membawa istrinya menuju ruangan milik dokter pribadinya.
Selama di dalam ruangan, Marvin menceritakan semuanya yang dirinya rasakan, dengan begitu antusias. Sherina pun menyimak apa yang suaminya katakan, dan juga dokter tersebut katakan.
"Jadi suami saya sudah bisa berjalan dengan normal, Dok? Lalu bagaimana dengan jadwal pelepasan pen-nya? Apakah harus sesegera mungkin?" tanya Sherina dengan wajah yang sedikit serius.
"Tidak perlu terburu-buru. Saya yakin Pak Marvin masih ingin menikmati masa-masa setelah sembuh. Jika dirasa nanti sudah siap untuk pelepasannya, beri kabar saja padaku. Lagipula membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk proses pemulihan setelah pelepasan pen."
Sherina mengangguk riang dan menatap sang suami. Dari tatapannya, dirinya yakin jika Marvin setuju dengan apa yang dokter tersebut katakan.
"Baiklah, sepertinya semua sudah selesai. Kita pamit terlebih dahulu, Dok. Terimakasih atas bantuannya selama ini." Marvin dengan begitu rendahnya, menyalami dokter berusia lebih dari setengah abad itu.
"Saya akan memberikan tip atas apa yang sudah Anda lakukan selama ini. Nikmatilah, terimakasih banyak."
Sherina tersenyum dan menggandeng tangan suaminya yang bahkan berukuran lebih besar dengannya. Mereka berjalan meninggalkan ruangan tadi dan menuju ke ruangan lain, sesuai dengan arahan Sherina.
"Kita sudah sampai." Sherina menatap sang suami, yang saat ini menatap pintu dengan logo vip di depannya.
"Sampai?" tanya Marvin dengan memiringkan kepalanya untuk menatap istrinya.
"Oh, ya. Aku lupa mengatakannya padamu. Wanita itu ... maksudku Alissa, dia baru saja menjalani operasi. Jadi aku memilihkan tempat ini untuknya. Tenang saja, aku sudah memberikan deposit untuk perawatannya, dengan uang pribadiku. Aku takut kau tidak akan setuju jika aku mengatakannya padamu."
Marvin menghela napasnya. Tangan besarnya terulur dan menyentuh pipi milik Sherina. Jemarinya mengusap pipi dengan kulit susu itu, dengan tatapan yang begitu dalam.
__ADS_1
"Sayang, aku tidak mengira jika kau akan berbuat sejauh ini. Aku bahkan mampu dibuat terkejut berkali-kali atas semua perbuatanmu." Marvin menelisik jauh kedua mata milik istrinya.
"Terkadang aku takut gagal memahami mu. Terlalu banyak rahasia dalam dirimu, Sher. Kau begitu kompleks. Kau terlalu sempurna untukku, Sayang." Sherina menyayangkan hal itu.
Dia menarik bibirnya ke satu sisi, lalu menggelengkan kepalanya.
"Marvin. Kau sudah mengetahui semua hal tentang istrimu ini. Ini bukan kepribadian yang aku sembunyikan. Ini semata-mata aku lakukan demi kau." Sherina mengelus lengan suaminya dengan tatapan yang sangat Marvin sukai.
Tatapan tentram yang diberikan wanita itu, mampu membuat siapapun jatuh ke dalam pesonanya.
"Hmm, baiklah. Mari masuk dan temui Allisa terlebih dahulu, sebelum membawa Ailey." Sherina hendak melangkah dan mengajak suaminya masuk.
Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendengar penolakan dari suaminya. "Tidak. Lebih baik kau saja yang masuk ke dalam dan mengatakan semuanya. Biarkan aku dan Niskala menunggumu di luar."
Marvin mengambil putrinya dari gendongan sang istri. Dia duduk di kursi tunggu yang ada tepat di depan ruangan tersebut. "Kenapa tidak masuk? Kita akan membawa Ailey. Setidaknya beri salam perpisahan padanya. Lagipula dia adalah ibu dari anakmu."
Marvin yang baru saja duduk itu, menatap sang istri. Senyum hangatnya menyapa pengelihatan ibu anak satu tersebut. "Aku memiliki istri yang harus aku jaga perasaannya. Jadi pergi saja. Jangan hiraukan aku dan kekasih kecilku ini."
"Nyonya," panggil Alissa dengan menahan batuknya.
Sherina segera berjalan mendekat, dan menggenggam tangan milik wanita tersebut. Ada raut penuh kekhawatiran yang memenuhi wajah cantik Sherina.
"Bagaimana keadaanmu? Kau akan sembuh, bukan? Aku minta jangan menyerah, bertahanlah demi anakmu." Sherina merasakan getaran yang luar biasa dahsyatnya di dalam dadanya.
"Saya sudah menunggu terlalu lama, Nyonya. Saya takut Ailey melihat kepergian saya. Saya mohon bawa pergi dia, Nyonya. Dia masih sangat kecil. Dia suci, sama sekali tidak memiliki dosa." Alissa mengatakan hal tersebut disela napasnya yang terasa begitu sesak.
Sherina merasakan cairan hangat menetes di pipinya. Dia mengusap tangan milik Alissa yang mulai dingin.
__ADS_1
"Jangan seperti ini, kau harus memiliki semangat untuk sembuh. Kau pasti bisa mengalahkan penyakit ini. Aku yakin." Sherina mencoba meyakinkan Alissa, meskipun wanita itu terus menggelengkan kepalanya
"Saya sudah menyerah dengan takdir saya, Nyonya. Waktu saya sudah tidak lama lagi." ucapnya begitu lirih.
"Biarkan dia tahu siapa ayahnya, Nyonya. Saya mohon agar Nyonya sudi merawat dan membesarkannya. Semoga kelak ketika besar nanti, dia memiliki hati sebesar Anda. Tuhan yang akan membalas semua kebaikan Nyonya pada saya dan putri saya."
Sherina menangis semakin terisak. Dia terus menundukkan kepalanya dengan air mata yang tak kunjung mereda.
"Nyonya, waktu saja tidak lama lagi. Saya ucapkan banyak terimakasih, Nyonya. Jika saya bertemu dengan Tuhan nantinya, saya akan memohonkan agar Nyonya dan Tuan selalu diberi kebahagiaan."
Sherina menganggukkan kepalanya dalam-dalam dengan perasaan yang sudah kalut.
"Tolong bawa pergi putri saya, Nyonya. Bawa dia pergi, se ... sekarang!" Sherina menggelengkan kepalanya ketika samar-samar melihat tangan Alissa yang mulai mengepal.
"Tolong!" ucap Alissa kesakitan, dengan begitu menyiksa, yang mau tidak mau langsung melepaskan tangan wanita itu.
Sebelah tangan wanita itu mulai menekan bel pasien yang menjuntai hingga ke genggamannya.
Sherina segera mengangkat tubuh kecil Ailey ke dalam dekapannya, dan melangkah keluar dari ruangan dengan sangat buru-buru. UJung matanya bahkan masih melihat bagaimana akhir hidup dari wanita itu.
Tubuh Sherina bergetar dengan hebat, dengan pelukan yang begitu erat pada Ailey. "Ibu akan menjagamu, Sayang."
Sherina muncul dibalik pintu, dengan air mata yang masih berjatuhan. Marvin yang melihat hal itu segera bangkit, dan khawatir ketika melihat istrinya.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Marvin dengan panik, yang langsung membuat Sherina kembali menangis.
"Dia sudah tiada. Kita harus segera pergi!" ucap Sherina dengan nada yang bergetar ketakutan.
__ADS_1
Marvin kaget ketika mendengar jawaban Sherina. Saat Sherina hendak menggiringnya untuk pergi, Marvin mencoba menghentikannya. "Tapi bagaimana dengannya?"
Sherina tidak menjawab, sebelum akhirnya segerombol perawat dan dokter berjalan berbondong ke kamar rawat Alissa. "Aku mohon percaya padaku. Kita harus segera pergi, Vin."