Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 130


__ADS_3

Ivander masuk ke perusahaan dengan wajah lesunya, yang membuat semua orang yang berada di lobi perusahaan itu, menatapnya kebingungan. Dan ya, selain wajah murungnya, mereka juga dibuat kebingungan karena tidak biasanya Marvin datang tanpa Alissa di sampingnya.


Hal itu cukup membuktikan bahwa kedekatan antara Marvin dan Alissa tidak hanya diketahui oleh orang-orang terdekat, tapi juga dengan seluruh karyawan yang Marvin punya.


"Apa kau sudah mendengar kabar terbaru? Jika sekretaris lama dari perusahaan sebelah sudah kembali. Oh ya, kita perlu sedikit lebih keras untuk mengimbanginya. Karena bagaimana pun kita tahu, bagaimana orang tersebut berhasil membawa nama perusahaan hingga terkenal di seluruh kalangan."


Samar-samar Marvin mendengar ucapan tersebut ketika dirinya berjalan menuju lift. Di detik itu juga, ingatannya tertuju pada sang istri. Ya, dia sempat melupakan bagaimana hebatnya Sherina ketika dahulu masih menjadi primadona di hatinya, bahkan hingga sekarang.


Tidak dapat dipungkiri memang, dirinya sedikit tidak menyukai ketika sang istri harus kembali bekerja dan seolah tidak mementingkan perannya di pernikahan. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya lah yang sudah memulai semua ini. Dan mau tidak mau dirinya juga harus menyelesaikannya.


"Selamat pagi, Marvin." sapa seorang wanita dengan tiba-tiba di belakangnya, yang membuat pria itu sedikit terkesiap.


Dengan sedikit pergerakan, pria itu menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita dengan pakaian ketatnya yang tersenyum lebar menghadap dirinya. Ah, andai saja dirinya tidak berada di depan semua karyawannya, mungkin dia akan memarahi wanita itu habis-habisan. Karena dengan terang-terangan berani menyapanya tanpa keformalan di hadapan seluruh karyawan.


"Jangan lupakan posisimu ketika di kantor! Aku atasan mu!" ucap Marvin dengan tegas, yang membuat Alissa mengerinyitkan keningnya seolah-olah dirinya tidak mengetahui apapun.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berubah menjadi seperti ini?" tanya Alissa dengan nada sok manjanya, seolah belum tahu jika dirinyalah yang menjadi penyebab hampir hancurnya rumah tangga Marvin.


"Omong kosong!" ucap Marvin tanpa ekspresi lalu segera masuk ke lift, dan meninggalkan Alissa di luar.


Demi apapun, saat ini Alisa benar-benar malu. Bagaimana tidak, Marvin meninggalkan dan mengacuhkannya di hadapan semua orang yang ada di lobby saat ini. Terlebih lagi dengan barisan karyawan yang berjejer di sebelahnya, yang menatapnya dan yang sedikit menahan tawanya dengan berbisik sesama rekan kerja.


"Ya, mau bagaimana lagi? Sudah jelas jika nyonya Chadsell telah sembuh dari komanya. Tidak perlu dibandingkan, sudah pasti dia akan didepak jauh-jauh. Bagaimana bisa seonggok sampah berharap masih diperhatikan oleh bosnya?" ucap salah satu karyawan yang sudah mengetahui tentang kesembuhan Sherina, yang membuat Alissa menatapnya dengan tajam.


"Apa yang kalian lihat!? Dan apa yang kalian tertawakan!? Kembali pada pekerjaanmu, dan lakukan apa tugas-tugas kalian!" ucap Alissa tidak suka, yang lagi-lagi disambut gelak tawa oleh semua orang.


"Hey, ingatlah! Kau bukan bos di kantor ini. Kau hanyalah seorang wanita murahan, yang merangkap sebagai seorang sekretaris!" ujar salah satu senior yang ada di sana yang lagi-lagi dianggukki oleh semua orang.


Dengan kesalnya, Alisa tidak lagi menunggu lift yang akan mengantarkannya ke lantai paling atas, di mana dirinya berada di ruangan yang sama dengan Marvin.


Perempuan itu berjalan menuju ujung ruangan, dan menggunakan tangga darurat yang bisa menyelamatkannya dari semua omongan sadis, yang dilakukan oleh karyawan Marvin yang lain.

__ADS_1


Sementara di perusahaan yang terletak tidak jauh dari perusahaan milik Marvin. Seorang wanita tengah disambut dengan begitu hangat oleh semua orang, yang saat ini memeluknya satu persatu. Bagaimana tidak, dahulu mereka bekerja dengan Sherina, dengan posisi Sherina ya masih menjadi staf biasa.


Tapi sekarang wanita itu kembali dengan posisi yang lebih tinggi, karena memiliki banyak pengalaman ketika di luar negeri dan menjadikannya sebagai seorang sekretaris dari CEO di perusahaan mereka.


"Sherina, kau tahu? Aku sangat bahagia ketika kau kembali. Bagaimana pun, kita semua merindukanmu. Bukan begitu?" tanyanya kepada semua orang, yang saat ini tengah mengerumuni Sherina dan mereka langsung menganggukkan kepalanya. Setuju dengan apa yang sahabat wanita itu katakan.


"Bekerjalah dengan nyaman, dan beritahu kami jika kamu membutuhkan apapun itu. Kami yakin, bos baru kita akan senang dengan kinerjamu." Ucapan sang sahabat itu, berhasil membuat Sherina mengerutkan alisnya.


"Bos baru? Bukankah masih Pak Hendry yang memimpin perusahaan ini? Terakhir, dia memang pindah ke Jerman sebelum aku memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Tapi apakah itu berarti jika perusahaan ini sudah diambil alih oleh orang lain?" tanya Sherina yang dijawab dengan gelengan kepala dari wanita itu.


"Tidak. Tidak diambil alih oleh orang-orang lain. Perusahaan ini hanya dikelola atau diturunkan tangan ke anak Pak Hendry. Dia masih muda, berumur tiga puluh satu tahun, mungkin. Tapi mendengar kiprah bisnisnya ketika berada di luar negeri, kami yakin perusahaan ini dapat maju semakin pesat lagi nantinya. Berkat bantuan mu juga pastinya."


Sherina hanya menganggukkan kepalanya selama mendengar penjelasan dari sang sahabat. Yang dirinya pikirkan saat ini hanyalah, bagaimana jika ternyata dirinya tidak cocok dengan atasannya kali ini yang notabenenya dirinya akan memiliki banyak interaksi dengannya.


Tepat ketika Sherina masih memikirkan masalahnya, tiba-tiba seseorang dari luar sana mengagetkan mereka semua yang tengah menyambut Sherina.


"Morning semua. Apa ada yang belum sarapan?" suara bariton itu, berhasil membuat semua orang menoleh dengan senyum yang biasa mereka berikan kepada pemilik suara itu.


"Segera pergi ke kafetaria dan mulai bekerja dalam 30 menit untuk semuanya." Ucap pria itu yang membuat senyum lega semua karyawannya tertuju padanya.


"Memang Pak Kevin yang paling mengerti kita semua." Pria bernama Kevin, yang tidak lain merupakan CEO baru di perusahan itu tersenyum simpul setelah mendengarnya.


"Oh ya, pak. Kenalkan, ini Bu Sherina. Beliau yang akan menggantikan sekretaris yang lama dan menjadi sekretaris bapak," ucap Maya yang membuat pria itu langsung mengalihkan tatapannya ke seorang wanita dengan rambut yang dikuncir kuda, dengan jas abu-abu yang membalut tubuhnya.


Tatapan Sherina seketika bertemu dengan mata hitam milik pria. Entah bagaimana, ketika melihat mata itu, dirinya sudah tahu jika pria itu merupakan pria yang mudah diajak bekerja sama.


"Oh, sekretaris yang kemarin papa bicarakan?" tanya pria itu, yang saat ini tengah menatap mata Sherina dan langsung disambut dengan anggukkan kepala dari ibu dua anak itu.


"Benar dengan saya sendiri. Saya Sherina," ucap Sherina dengan suara lembutnya yang membuat semua orang menatapnya dengan begitu manis.


"Baiklah. Bisa datang ke kantor dalam waktu lima menit?" tanya pria itu yang langsung membuat Sherina menatap ke Maya sejenak.

__ADS_1


"Baiklah, lima menit kemudian saya akan datang ke kantor anda." jawab Sherina yang langsung dianggukki oleh Kevin.


Pria itu segera berbalik setelah mengatakan sedikit masukan pada semua karyawannya, dan membuat semua orang yang berada di ruangan itu menatap Sherina yang terlihat sedikit tegang.


"Tenanglah, Bu. Pak Kebin bukanlah tipikal orang yang arogan, keras, dan galak. Tapi dia lebih humoris dan bisa menyesuaikan situasi," ucapan itu yang langsung membuat Sherina menghembuskan nafasnya sedikit panjang.


"Baiklah, aku akan bersiap naik ke atas. Dan untuk kalian, semangat bekerjanya." ucap Sherina yang langsung membuat semua orang mengangguk.


Mereka menatap kepergian Sherina dan kembali ke meja masing-masing. "Andai saja Sherina belum memiliki suami, dia terlihat sangat cocok dengan pak Kevin. Bukan begitu?" tanya Maya pada wanita yang ada di sebelahnya, yang membuat wanita itu terlihat sedikit berpikir.


"Hmm... Aku pikir mereka akan menjadi pasangan paling serasi dari semua pasangan yang ada." jawabnya setuju, yang membuat Maya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku akan sarapan terlebih dahulu dan kita mulai bekerja." Maya pun pergi dari kantor divisinya, menuju ke kafetaria.


****


"Aku harap kau bisa betah bekerja di sini dan bisa menyesuaikan juga denganku," ucap Kevin setelah pembicaraan santainya dengan Sherina.


Sherina mengangguk kecil dan tersenyum, yang membuat matanya sedikit menyipit. "Tentu saja, Pak. Senang bekerjasama dengan anda," jawab Sherina yang membuat pria itu menganggukkan kepalanya ramah.


"Baiklah, ruangan mu ada di seberang ruangan ku. Kau bisa bertanya padaku jika kau belum mengetahui beberapa detail pekerjaan yang lain," ucap pria itu yang membuat Sherina mengangguk patuh.


Setelah kepergian Sherina, pria itu terdiam sedikit lama sembari menatap pintu yang baru saja ditutup oleh sekretaris barunya itu.


Pria itu tiba-tiba tersenyum, yang dirinya sendiri pun tidak tahu entah karena apa dirinya bisa tersenyum. Dia lalu menggelengkan kepalanya, ketika sadar dengan apa yang dirinya lakukan.


"Astaga apa yang kau pikirkan?" ucap Kevin pada dirinya sendiri, lalu memijat pelipisnya lembut. Dia memejamkan matanya sejenak dan setelah itu langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam saku.


Dia mencari nomor seseorang dan langsung meneleponnya di waktu itu. Selang beberapa saat, teleponnya pun diterima dengan orang yang dirinya tuju. Dia menghembuskan nafasnya perlahan dan mulai bertanya pada orang tersebut.


"Pa, boleh aku tahu tentang Sherina?"

__ADS_1


__ADS_2