Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 17


__ADS_3

Seharian ini Ivander sangat sedikit berbicara dengan Nessie. Pria itu lebih memilih untuk menghindari kegiatan yang kemungkinan akan membuatnya bertemu dengan Nessie.


Berbeda halnya dengan Sherina. Wanita yang tengah makan siang dengan teman kantornya itu, tengah melamun menatap ke luar jendela yang ada di hadapannya.


"Pilihan ku tidak salah, bukan? Hanya itu yang bisa ku lakukan." Sembari mengaduk kopinya, Sherina menundukkan kepalanya.


"Kau sudah benar, Rin. Mau diapakan pun, kamu berhak atas rumah tanggamu. Dia suamimu, dan kau istri sahnya." Gadis cantik yang duduk di sebelah Sherina itu, sangat setuju dengan rencana sahabatnya.


"Tapi kenapa harus menikah? Bukankah jika dengan cara seperti itu, otomatis kau memberikan kesempatan agar wanita itu semakin dekat dengan suamimu?"


Benar, dengan cara menikah, otomatis suaminya akan selalu dekat dengan sekretarisnya itu. Tapi, Sherina sudah memikirkan semuanya dengan begitu matang.


"Itu usaha terakhirku, Nad. Ku bisa melihat, apakah selama beberapa bulan ke depan suamiku bisa berubah atau tidak. Syukurlah jika Ivander bisa tersadar, tapi jika tidak maka mau tidak mau aku harus menyerah."


Sherina tersenyum tipis sembari membayangkan jika suaminya dapat disadarkan. Pasti hal itu akan menjadi hal yang paling membahagiakan baginya.


"Kau wanita yang sangat kuat, Rin. Kau pasti bisa," ujar Nadine mencoba menyemangati sahabatnya.


"Tapi jika ku lihat, wanita itu tidak lebih baik darimu. Aku sudah melihat wajahnya," Nadine menyantap makan siangnya sembari melanjutkan obrolannya dengan Sherina.


Sore harinya, Sherina yang baru pulang dari kantor mengernyitkan keningnya saat melihat mobil lain yang terparkir di halaman rumahnya. "Apakah tamu Ivander?"


Lantaran tak ingin pusing menebak, Sherina segera masuk ke dalam rumah. Sherina yang sejak tadi penasaran dengan siapa yang datang ke rumahnya itu, seketika merotasikan matanya saat tahu jika kekasih suaminya lah yang datang ke rumah.


"Kau sudah pulang?" tanya Ivander yang langsung menarik lengannya dari pinggang Nessie.

__ADS_1


Sherina hanya mengangguk sekali dan berjalan menuju kamarnya. Ivander menatap punggung Sherina yang tertutup oleh rambut lurus berwarna coklat milik wanita itu.


"Bisakah kau duduk sebentar, di sini?" tanya Ivander lagi yang membuat Sherina menolehkan kepalanya.


"Setelah aku mandi," jawab Sherina dengan terus melangkahkan kakinya.


Ivander hanya mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban Sherina.


Setelah beberapa saat, Sherina kembali ke bawah dengan ponsel yang ada di tangannya. Wanita itu duduk di seberang Ivander dan Nessie yang sedang menonton televisi.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Sherina yang langsung disambut dengan deheman dari pria itu.


"Aku yang akan berbicara padamu," sela Nessie yang hanya ditanggapi dengan wajah datar oleh Sherina.


"Apakah benar yang dikatakan oleh Ivander? Kau meminta agar kami menikah?" Nessie bertanya hal tersebut dengan sangat semangat.


Sherina mengangguk sembari menekuk kedua sikunya di atas paha. "Benar, apakah kau senang?"


Nessie yang sejak tadi sudah terlalu senang itu seketika menatap Sherina dengan wajah datarnya. Dia menatap Ivander yang ternyata juga menatapnya dengan tatapan datar.


"Tidak, aku hanya memastikan saja. Bukan begitu, Sayang?" jawab Nessie dengan sedikit kaku sembari memeluk lengan milik Ivander.


Sherina bersikap biasa saja saat melihat hal tersebut. "Apa yang dikatakan oleh kekasihmu itu, semua benar. Kau hanya tinggal mengikuti jalan permainannya saja."


Nessie mengerut saat mendengar apa yang Sherina katakan. Wanita itu berkedip bingung sembari menatap Sherina serta Ivander.

__ADS_1


"Akhir pekan ini kau juga siapkan paspor serta visamu. Kita akan ke Kanada," ujar Sherina lagi sembari menatap Ivander serta Nessie secara bergantian.


Nessie mengangguk patuh. Berbeda halnya dengan Ivander. Pria itu menatap Sherina dengan tatapan penuh arti. Dia melihat ada sesuatu yang sedang Sherina tahan.


Saat Ivander hendak berbicara lebih banyak dengan istrinya, tiba-tiba ponsel milik Sherina berdering. Wanita itu menatap layar ponselnya dan seketika senyumnya mengembang.


"Diko?" pekik Sherina dengan begitu bahagianya, sembari menerima telepon dari pria bernama Diko itu.


"Diko?! Kamu apa kabar?!" sapa Sherina dahulu yang langsung membuat Ivander menatapnya dengan tatapan tajam.


"Aku baik, Rin. Kamu apa kabar, hm?" jawab pria itu dengan begitu bahagianya.


"Kalian lanjut saja, aku harus pergi." Sherina yang ingin berbicara banyak hal dengan Diko itu pun memutuskan untuk pergi dari hadapan suaminya dan kekasihnya.


Nessie yang melihat perbedaan reaksi dari pasangan suami istri di hadapannya itu, hanya menganggukkan kepalanya menyahuti apa yang Sherina katakan.


Ivander menatap kepergian istrinya yang saat ini berjalan menuju teras rumah. Rahang milik pria itu seketika mengerat saat membayangkan apa yang dibicarakan oleh kedua sahabat dekat itu.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau terus menatap wanita itu?!" Nessie yang geram karena sejak tadi Ivander menatap Sherina yang berada di luar, menolehkan kepala Ivander dengan begitu kasar.


"Jangan sentuh aku! Dan jangan terlalu ikut campur dengan urusanku!" bentak Ivander lalu segera bangkit dari duduknya.


Pria itu melangkahkan kakinya untuk naik ke atas. Entah mengapa, ada yang membakar hatinya ketika melihat Sherina menerima telepon dari pria lain.


"Aku tidak akan membiarkan pria baj*ngan itu mendekati Sherina!"

__ADS_1


__ADS_2