
Sherina menghabiskan hari-harinya untuk mengurung diri di rumah. Beberapa pekerjaannya pun bahkan dia alihkan ke asistennya karena hal tersebut.
Dia menghabiskan semua waktunya hanya untuk meratapi nasibnya dan mengharap pria itu datang kepadanya.
Tapi terhitung sudah tiga pekan lebih, pria itu tak menyambanginya. Saking berharapnya, terkadang Sherina menatap balkon yang ada di rumahnya. Berharap agar pria itu meminta maaf padanya serta menjelaskan semuanya padanya. Tapi hal tersebut mustahil terjadi.
Dia sadar, dia juga bersalah dengan apa yang menimpanya. Tapi hal itu tidak semurninya salah. Karena jika diingat pria itu bahkan tidak sedang mabuk. Maka dari itu dia berusaha bertahan di sana, berjaga jika terjadi sesuatu pada Marvin.
Tapi apa yang dia pikirkan itu justru menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Sementara Ivander, pria yang bahkan sudah tak bertemu dengan Sherina hampir sebulan lamanya itu, benar-benar benar kebingungan.
Setiap dua datang ke kantor, pasti pegawai yang ada di sana mengatakan jika Sherina sedang dinas ke luar kota. Dan setiap dirinya berangkat atau keluar dari rumah, dia tak pernah berpapasan dengan wanita itu.
Sampai puncaknya hari ini, dia sudah tidak tahan karena belum menemui Sherina lagi. Pria itu mendekati pintu rumah Sherina dan mengetuknya.
"Sherina? Apakah kau di rumah?" Tak hanya mengetuk pintu, pria itu juga menekan bel rumahnya.
Sherina yang mendengar bel rumahnya ditekan dari luar itu, hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Itu adalah suara Ivander. Pria itu beberapa kali mendatangi rumahnya, meskipun tak pernah dia bukakan pintunya.
Pandangan wanita itu seketika memburam. Dia tiba-tiba merasakan pusing dan mual yang langsung menyerangnya. Dengan cepat, wanita itu pergi ke kamar mandi dan memuntahkan cairan bening, di lantainya dengan begitu saja.
__ADS_1
Sherina mencoba menahannya, tapi justru hal itu membuatnya muntah semakin parah lagi. Wanita itu menangis sambil menjatuhkan tubuhnya di ambang pintu, dengan putus asa.
Sepertinya apa yang dia takutkan sejak malam itu, benar-benar menghantuinya. Dia menggelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan pikirannya.
"Tunggu sebentar. Tanggal berapa ini? Kenapa aku belum menstruasi?" Ucap Sherina lalu segera berjalan mendekat ke ranjang.
Wanita itu menutup bibinya dengan tak percaya, ketika dia tahu jika dia sudah melewatkan jadwal haid teraturnya, sejak dua minggu yang lalu.
"Astaga. Apa yang harus aku lakukan?" Dengan tubuh gemetar, wanita itu meluruhkan tubuhnya ke lantai, dan memeluk tubuhnya.
Sherina mencengkeram rambutnya dengan erat, merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Wanita itu menghapus air matanya, karena percuma saja. Tangisannya tidak akan mengubah apapun.
Dia bangkit dan mengambil ponselnya untuk membeli benda yang saat ini menjadi puast atensinya. Setelah memesan, Sherina menyiapkan wadah untuk menjadi tampungan bagi air kecilnya.
Tak lama setelahnya, bel rumahnya pun berbunyi. Sherina dengan cepat langsung mengambil barang pesanannya dan kembali menutup pintunya.
"Semoga saja tidak benar," gumam Sherina dengan nada bergetarnya lalu langsung memasukkan alat tersebut sesuai petunjuk yang ada di belakang kemasan.
Sementara Ivander yang baru saja keluar dari apartemen itu, mengernyit karena melihat jasa pengiriman barang dari salah satu toko obat di dekat sana.
Dengan cepat pria itu langsung mencegatnya karena melihatnya mengantar sesuatu ke unit Sherina. "Permisi, bisakah saya mengetahui apa yang dipesan oleh wanita di seberang sana?"
__ADS_1
Pria yang mengantarkan testpack dan beberapa obat pesanan Sherina itu menganggukkan kepalanya. Dia mengatakan jika Sherina membeli beberapa obat dan juga testpack dari toko obatnya.
"Sh*it! Testpack!? Untuk apa Sherina membelinya!?" Dengan jantung yang berdetak kencang, Ivander mengepalkan tangannya sesaat setelah pria itu pergi.
Ivander mencoba memasukkan pin yang sekiranya dia bisa membukanya. Tapi dia sama sekali tidak berhasil. Demi apapun, saat ini Ivander benar-benar merasa panik.
Apa yang terjadi pada Sherina. Apakah dia membelikannya untuk orang lain? Atau justru untuk dirinya sendiri?
"Sial! Kenapa dia mengganti pin rumahnya!?" Umpat Ivander kesal ketika tahu jika Sherina sudah mengganti pin rumahnya.
Lain halnya dengan Sherina. Wanita itu sudah menggenggam testpack yang sudah dia tes dengan urinnya sejak tadi. Dia yakin, saat ini hasilnya pasti sudah terlihat. Tapi keberaniannya lah yang membuat wanita itu belum sanggup untuk melihatnya.
Tapi setelah menimbang-nimbang, Sherina pun akhirnya menmbuka telapak tangannya dan melihat apakah hasil yang ditunjukkan oleh benda itu.
Tubuh Sherina seketika menegang ketika melihat dua garis merah yang ada di alat tersebut. Perlahan dia mendekatkan alat itu ke matanya, dan melihat keterangan jika dia sudah mengandung 2 Minggu.
Sontak Sherina menutup mulutnya dan menangis dengan begitu histeris. Apa yang dia dapatkan saat ini? Dia saat ini tengah mengandung. Hasil perbuatan paksa yang Marvin lakukan padanya, malam itu.
"Tuhan! Kenapa harus seperti ini!" Ucap Sherina putus asa sambil memeluk lututnya. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa yang ada di depan televisi, sambil terus menggenggam testpack dengan hasil positif itu.
Dia marah dengan apapun yang ada di hidupnya. Dia kecewa dengan takdir yang menyertainya di kehidupan ini. Ibunya, Ivander, bahkan Marvin, dia membenci semuanya.
__ADS_1
Wanita itu terus menangis dengan sesenggukan sampai tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan yang membawa tubuh kurusnya ke dalam dekapan hangatnya.