
Marvin bergegas mengambil ponselnya, dan mencari nama Alissa di kontaknya. Entah mengapa ada perasaan yang tidak nyaman pada dirinya ketika tiba-tiba mendengar suara Alissa yang memanggilnya.
Tapi pria itu segera menghentikan tangannya, ketika tiba-tiba ada panggilan masuk, dan itu tidak lain adalah dari Alissa, sang sekretaris.
"Al!? Kau baik-baik saja?" ucap pria itu dengan nada khawatirnya, setelah panggilannya dirinya terima.
"Mohon maaf, Pak. Saya ingin memberi kabar jika pemilik dari ponsel ini, baru saja mengalami kecelakaan. Saat ini pemilik ponselnya sudah berada di rumah sakit kota."
Setelah mendengar hal itu, dengan cepat Marvin langsung mematikan panggilannya secara sepihak. Dia dengan cepat langsung mengambil kuni mobilnya, tanpa berganti baju terlebih dahulu.
Seolah tidak berpikir, dia hanya ingin segera tiba di rumah sakit secepatnya. Marvin langsung pergi ke rumah sakit tanpa membuang banyak waktu. Yang dia inginkan adalah bagaimana agar dirinya dapat segera tiba di rumah sakit.
Tepat saat mobil Marvin baru saja keluar dari rumahnya, Anne yang tengah membuka pintu gerbang itu menatapnya dengan bingung. Bukankah Ivander baru saja mengatakan jika Marvin baru pulang? Lalu kenapa pergi lagi?
"Bukankah dia baru kembali? Kenapa pergi lagi? Atau dia akan ke rumah sakit?" Anne langsung memberondong pertanyaan pada Ivander yang tengah memasangkan seat belt untuknya, dengan wajah yang berkerut.
"Aku rasa sangat mustahil jika dia pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Sherina." Ivander segera membawa mobilnya dan melesat menuju rumah sakit.
Anne masih menatap mobil milik Marvin yang tengah berjalan keluar dari komplek. "Bagaimana jika dia benar pergi untuk menemui Sherina? Apa yang akan kita jadikan sebagai alasannya?"
"Lalu kalau tidak?" Anne terdiam ketika Ivander melirikkan matanya pada dirinya.
Benar, dia tidak harus berharap jika Marvin pergi untuk menjenguk istrinya yang ada di rumah sakit. Keduanya seketika terdiam, dan tidak ada percakapan di antara mereka selama dalam perjalanan.
"Seharusnya kita bawa anak-anak sekalian. Paling tidak mereka memiliki kegiatan untuk keluar, walau tidak lama." Anne menolehkan kepalanya kepada Ivander yang tengah fokus dengan kemudinya.
"Percuma saja membawa anak-anak. Sherina sedang tidak bisa diganggu. Dia harus istirahat total, agar kondisinya cepat membaik. Jika ingin membawa anak-anak, besok saja. Mereka libur, besok." jawab Ivander tanpa ingin dibantah.
"Cara didikmu sedikit keras, untuk mereka. Setidaknya beri mereka waktu untuk keluar," imbuh Anne tanpa menatap Ivander.
Sementara pria itu, dia sama sekali tidak berniat untuk menjawab ucapan Anne. Keduanya terus begitu sampai akhirnya mereka telah tiba di rumah sakit.
Ya, setelah cukup beristirahat, Ivander mengajak Anne ke rumah sakit untuk mengurus beberapa surat pindah milik Sherina yang masih kurang. Tapi betapa terkejutnya mereka, ketika melihat Marvin yang tengah berjalan menuju lobi rumah sakit dengan tergesa.
"Loh, benar ke rumah sakit ternyata. Apakah benar ingin menemui Sherina?" Ivander yang mendengar ucapan Anne itu, segera mengikuti arah pandang wanita itu.
"Jangan mudah menebak, Sayang. Biarkan dia kebingungan dan menyesali perbuatannya. Untuk sekarang, mari kita selesaikan urusan Sherina terlebih dahulu." Ivander segera menarik pinggang Anne agar mendekat, dan berjalan langsung ke ruangan sang dokter.
__ADS_1
Anne yang berpikir jika Marvin datang ke rumah sakit untuk menjenguk Sherina itu mulai berpikir bagaimana caranya untuk menghadapi pria itu nantinya. Tapi tidak seperti yang mereka bayangkan, Marvin ke rumah sakit justru untuk wanita lain. Bukan untuk istrinya.
****
Setelah semua urusannya selesai, Ivander dan Anne pun memutuskan untuk pamit. Mereka berjalan beriringan, hingga tiba ketika mereka bertemu dengan Ivander yang baru saja keluar dari salah satu ruangan yang tidak jauh letaknya dari tempat mereka berdiri.
Melihat hal itu, sontak keduanya saling melempar tatap. Anne membulatkan matanya, dengan pancaran raut penuh kebingungan pada Ivander. Tidak jauh berbeda, Ivander juga menatap pria itu dengan alis yang berkerut.
Langkah besar pria itu dengan perlahan mulai mendekat pada Ivander dan Anne, yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan bingung.
"Van, Ann." Sapa pria itu dengan sedikit canggung, yang langsung di angguki oleh Anne.
"Oh hai, Vin. Lama tidak bertemu," jawab Anne dengan suara yang sedikit kaku.
Marvin hanya menganggukkan kepalanya dan menatap Ivander, pria yang sejak tadi menatapnya tanpa henti.
"Apa yang kau lakukan di sini? Menjenguk Sherina?" tanya Ivander dengan nada tajamnya, memperlihatkan ketidaksukaannya pada pria yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Ah... iya! Aku akan menjenguk Sherina." jawab Marvin sedikit terlambat, yang langsung membuat senyum miring muncul di bibir Ivander.
"Akan menjenguk? Jadi kau belum menjenguknya begitu kau tiba di sini? Lalu apa yang baru saja kau lakukan?" cibir Ivander dengan begitu sengit, yang membuat Anne sedikit merasa tidak enak dengan apa yang baru saja calon suaminya katakan.
"Ivan! Itu bukan urusanmu!" pekik Anne tertahan, sembari menahan lengan Ivander.
"Diam dahulu, Ann. Aku sedang bertanya pada Marvin!" ucap Ivander tegas, yang membuat Marvin merasa tersinggung.
"Ah ini... aku baru saja menjenguk Alissa, sekretaris ku. Dia baru saja mengalami kecelakaan."
Bodoh! Pria itu benar-benar bodoh, dengan mengatakan hal itu di hadapan Ivander dan Anne. Decakan remeh terlontar dengan begitu saja dari bibir Ivander.
"Alissa?" beo Anne seolah merasa familiar dengan nama yang baru saja Marvin sebut.
"Ya, Alissa. Dia adalah sekretaris pertamaku dahulu. Biar ku ingatkan kembali, dia adalah ibu kandung Ailey." jawab Marvin dengan hati-hati setelah melihat ekspresi wajah Ivander padanya.
"Oh, sekretaris rupanya. Hmm, aku baru tahu jika wanita lain yang mengalami kecelakaan justru lebih penting daripada istri sah yang sudah berjuang melawan kematian selama bertahun-tahun. Miris!"
Ivander sengaja tidak menatap Marvin yang saat ini menatapnya dengan tatapan seriusnya. Pria itu tertawa renyah untuk beberapa saat, lalu kembali membalas tatapan tajam yang Marvin berikan padanya.
__ADS_1
"Kenapa harus menjenguknya? Tidak perlu... Kau tidak perlu repot-repot melakukannya. Temui istrimu ketika dia sudah mati nanti!" Ivander menekankan perkataannya dengan tatapan mata penuh amarahnya.
Melihat Marvin yang hendak menjawab ucapan calon suaminya, dengan cepat Anne langsung mencegah keduanya dan berniat membawa pergi Ivander dari sana.
"Kami pergi dahulu, Vin. Maaf," ucap Anne berpamitan lalu segera menyeret lengan Ivander untuk pergi dari sana.
Marvin merasakan pukulan hebat setelah mendengar ucapan Ivander tadi. Entah mengapa, dia merasa sakit ketika pria itu berhasil mengingatkannya, tentang dirinya yang sangat jarang mengunjungi istrinya.
"Aku akan ke Sherina terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor." Pria itu mencoba menenangkan dirinya, dengan mengunjungi sang istri. Sebagai pemuasan diri, jika dirinya tidak bersalah karena jarang berkunjung.
Pria itu terus berjalan, melewati koridor dan jajaran ruang rawat vip yang ada di rumah sakit tersebut. Langkah besarnya terus maju hingga membawanya berhenti tepat di depan pintu kamar rawat inap milik istrinya.
Dia mengambil napasnya dalam-dalam, dan segera membuka pintunya dengan seluruh keberanian yang sudah dirinya kumpulkan.
Pria itu berjalan dengan kepala yang tertunduk, tidak berani menatap ke depan. Dia mungkin tidak akan sanggup untuk menatap wajah milik wanita yang selama 4 tahun ini coba dirinya hilangkan dari memorinya.
Dia terus berjalan, hingga akhirnya dia sudah tiba di sebelah ranjang. Dada pria itu tiba-tiba menjadi sesak. Dia mulai memberanikan dirinya untuk mengangkat tangannya, dan menggenggam tangan milik istrinya.
"Sherina," panggil pria itu dengan lirih, seolah tengah memanggil nama wanita yang sangat dirinya rindukan.
Pria itu masih mencoba mengontrol perasaannya, sebelum tiba-tiba dirinya tersadar jika tangan ini bukanlah tangan milik istrinya. Dan ya, tidak ada cincin pernikahan yang sama dengan cincin yang sampai saat ini masih dirinya simpan di rumah.
Dengan cepat dia segera mengangkat kepalanya. Marvin lebih terkejut lagi ketika melihat jika bukan sang istri yang ada di atas ranjang. Melainkan wanita lain.
Napas pria itu seketika memburu. Dia melepaskan tangan wanita itu yang dirinya genggam, dan menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Tidak! Di mana istriku?" dengan panik yang bercampur kebingungan, pria itu berjalan mundur hendak menjauh dan tidak sengaja menubruk kursi yang ada.
"Sherina!?" panggil Marvin dengan ketakutan sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.
Hal yang Marvin lakukan itu justru membuat sang empu kamar terbangun dari tidurnya.
"Siapa kau!? Kenapa kau ada di kamarku?" tanya wanita itu dengan sedikit panik yang membuat Marvin mencoba untuk tenang.
"Maafkan aku. Tapi aku kira ini masih kamar istriku. Dua hari yang lalu dia masih ada di sini." jelas Marvin sembari kembali memastikan jika dirinya sedang tidak salah kamar.
"Tidak ada istri mu, di sini. Aku baru masuk kemari, siang tadi."
__ADS_1
Marvin terdiam sejenak, dan berpikir dengan cepat.
'Awas kau, Van!'