Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 129


__ADS_3

Marvin dengan mata memerah, berbisik tepat di telinga Sherina. Pria itu menarik tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah cantik milik wanita yang selalu dirinya inginkan itu.


"Kau pikir aku tidak bisa melakukan apapun? Kau milikku, dan akan seperti itu sampai kapanpun. Apa kau lupa?"


Tubuh Sherina seketika membeku. Matanya menatap penuh ketakutan ke kedua mata hitam milik suaminya. Napasnya mendadak berhenti, dengan jantung yang terasa tidak berdegup.


Mata itu. Suara itu. Dan gelagatnya mengingatkan Sherina ke kejadian yang berhasil membuatnya trauma. Kejadian yang hampir merenggut semua hidupnya, dan ternyata dilakukan oleh orang yang sama. Masa di mana, pria yang ada di hadapannya ini hampir melecehkannya di tempat umum.


Tubuh Sherina bergetar penuh ketakutan, dengan air mata yang terus turun membasahi pipinya. Semua memori itu seakan dituang dengan bersamaan ke otaknya.


"Pergi! Jangan sentuh aku." Lirih Sherina tanpa tenaga, lalu merasakan jika tubuhnya limbung.


Andai saja jika tidak dengan cepat Marvin menahannya, mungkin Sherina sudah terjatuh ke lantai. Pria itu memeluk Sherina dan perlahan mendudukkan sang istri ke lantai.


Sherina menangis sejadi-jadinya, dan menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Ya, penyakit mental yang dahulu dia alami ketika awal masa menikah dengan Ivander kembali kumat.


Marvin yang melihat istrinya tiba-tiba menangis itu, dengan cepat langsung memeluknya. Dia memejamkan matanya, dengan bibir yang terus merapalkan panggilan-panggilan lembut pada sang istri.


"Sayang..."


"Aku minta maaf. Aku mohon,"


Marvin berulang kali membawa Sherina ke dalam dekapannya, tapi wanita itu terus menolaknya. Tangisan itu, ya Marvin mengingat semuanya dengan jelas sekarang.


Segera Marvin menggertakkan rahangnya, dan memejamkan matanya. Ini semua salahnya. Semua yang terjadi pada istrinya, pada anak anaknya, dan pada pernikahannya, terjadi karenanya.


"Aku minta maaf, Sayang. Aku mohon maaf..." Marvin kembali menitikkan air matanya.


Terlalu banyak kesalahan yang sudah dirinya lakukan pada istrinya. Sherina sudah menahan banyak hal sendirian.


"Lihat aku. Ini aku..." Marvin mencoba membingkai wajah kecil istrinya, dan membawanya untuk menatap dirinya.


Sherina masih tidak ingin melakukannya. Tapi berkat ucapan Marvin, wanita itu pun akhirnya bersedia membuka matanya.


"Ini aku. Aku berhasil menjadi suamimu. Jadi tidak perlu takuti apapun itu. Aku ada di sini." Marvin menatap lembut kedua mata itu, yang tak mengubah apapun dari tatapannya.

__ADS_1


Marvin menghapus air mata istrinya, dan mencoba menenangkannya. Dia berharap ada sedikit kelembutan yang tertinggal di hati kecil istrinya.


"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, okay? Aku akan menjelaskan semuanya sambil berjalan. Jadi-"


"Keluar, sekarang. Aku ingin sendiri." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Sherina.


Dengan lemas, Marvin masih tidak ingin meninggalkan istrinya. Tapi, dia tidak ingin membuat istrinya menderita lagi. Jadi mau tidak mau, Marvin menganggukkan kepalanya dan mengangkat tubuh Sherina, yang membuat sang empu terkejut.


"Apa yang kau lakukan!? Turunkan aku!" Sherina hendak memberontak agar diturunkan, tetapi Marvin segera mendudukkannya di ujung ranjang, dan menekuk sebelah lututnya untuk berbicara dengannya.


"Aku pergi bukan berarti aku suka jika kau mengusirku. Aku hanya ingin memberi waktu padamu. Aku akan kembali ketika kau sudah bisa bicara denganku." Marvin menatap Sherina yang tidak mau menatapnya.


"Maka kembalilah tahun depan!" Jawab Sherina ketus, yang membuat raut wajah pria itu berubah tak terbaca.


"Beristirahatlah. Aku menyayangimu." Sebelum meninggalkan istrinya, Marvin menyempatkan untuk mengecup kening istrinya.


Begitu Marvin membalikkan tubuhnya, Sherina segera mengusap bekas kecupan suaminya dengan raut wajah risinya.


"Kau pikir aku lemah?"


Pagi harinya, Marvin yang masih mengantuk itu berjalan keluar kamar.


Pria dengan setelan abu-abu yang berjalan dengan mata yang masih terpejam itu, berhasil menarik perhatian seluruh wanita yang ada di meja makan. Matanya yang hitam menunjukkan jika pria itu tidak dapat tertidur, sepanjang malam.


"Morning, Ayah!" Suara lucu itu berhasil membuat Marvin membuka matanya.


Dia sedikit terkejut ketika melihat dua putri cantiknya saat ini tengah menatapnya, dengan mata bulat menggemaskan itu. Dia bergegas tiba di bawah dan mengelus puncak kepala milik putrinya.


"Bunda sudah bangun?" tanya Marvin ketika mengecup pipi erah muda milik gadis tertuanya.


"Nggak usah cium-cium, Yah. Kakak udah besar!" Sama seperti ibunya, gadis berkuncir kuda itu mengusap pipi miliknya yang baru saja diberi kecupan pagi oleh ayahnya.


Marvin sedikit tersenyum dan mengusap kepala putrinya. Dia beralih ke putri kecilnya, dan mencubit perlahan hidung mungil itu.


"Ayah jorok, ayah belum mandi. Jadi jangan cium-cium Kala." Marvin benar-benar terkejut dengan perubahan putri besarnya itu.

__ADS_1


Dia yang dahulu sangat manis, dan banyak bicara. Sangat berbeda dengan Ailey yang sekarang. Dia lebih irit bicara, dan sangat protektif terhadap adiknya.


"Okay, ayah tidak akan menggangu adikmu. Baiklah, kita sarapan dahulu. Apa perlu ayah panggilkan Bunda kalian?" Ucap Marvin mengalah, yang langsung disambut dengan senyum miring Ailey.


"Sayang, ini bekal adikmu. Jangan lupa ingatkan Kala untuk minum vitaminnya, okay? Bunda pisahkan tempat makan kalian, ya?"


Tiba-tiba suara nyaring itu menggema di seluruh ruang makan. Marvin yang sejak tadi menatap kedua putrinya itu, dengan cepat beralih menatap seorang wanita yang benar-benar berbeda saat ini.


Mengingatnya, Marvin kembali diingatkan ke masa di mana dirinya masih berusaha keras untuk mendapatkan wanitanya. Dia terlihat begitu elegan ketika kembali memakai tuxedo di tubuh kecilnya.


Suaranya terdengar begitu menentramkan hati Marvin. Inilah yang dia rindukan selama empat tahun lamanya. Dia ingin istrinya lah yang mengurus semuanya. Tidak dengan berbaring tanpa merespon ucapannya, dengan waktu yang begitu lama.


Ailey yang sejak tadi menatap sang ayah itu, diam-diam tertawa. Seolah dirinya yang tengah membalaskan dendam, dia menyebikkan bibirnya dan mengibaskan rambut coklatnya.


"Pesona bunda memang tidak pernah terkalahkan." gumam gadis itu lalu tertawa kecil.


Sherina menyiapkan tas kedua putrinya, dan membantu anaknya untuk menyelesaikan sarapan mereka. Selama itu pula, Marvin menatapnya tanpa berkedip dan masih tidak bosan mengagumi kecantikan istrinya itu.


"Sudah selesai? Baiklah, ayo kita berangkat. Bunda akan mengantar kalian, sekalian berangkat." Sherina pergi tanpa sarapan, kali ini.


Ya, setelah membicarakannya dengan Ivander dan Anne, minggu lalu, kini Sherina memutuskan untuk kembali bekerja. Untungnya atasannya ketika di perusahaan lama masih mau menerimanya dengan lapang tangan.


"Jangan lupa beri salam pada ayah kalian." Sherina membawa tas kulit berwarna abu-abu, yang sangat kontras dengan jasnya itu, dan melewati Marvin dengan begitu saja.


"Sher," panggil Marvin setelah menyalami kedua putrinya, dan membiarkan mereka pergi keluar terlebih dahulu.


Sherina berhenti sejenak, dan tidak menolehkan kepalanya ke belakang. Dia hanya menghembuskan napasnya, dan menatap lurus ke depan.


"Aku pergi bekerja terlebih dahulu. Sampai jumpa." Setelah mengatakan hal tersebut dengan begitu datarnya, sepatu heels milik Sherina mulai menggema di seluruh ruangan.


Marvin menatap penuh kecewa pada sang istri yang berjalan keluar rumah. Ada rasa ego yang melebihi ambang batas normalnya ketika melihat sang istri harus kembali bekerja.


Ya, dia merasakan jika harga dirinya sedikit terlukai ketika melihat hal itu. Dia menundukkan kepalanya dan menghembuskan napas panjang.


"Ini semua salahmu. Kau harus melakukan sesuatu."

__ADS_1


__ADS_2