
Ivander yang belum selesai menyantap sarapannya, itu meletakkan sendoknya dan menatap punggung Anne yang menjauh menuju ke halaman belakang. Dia mengalihkan tatapannya dan menatap Nessie yang ada di seberangnya, seolah memberitahu apa yang saat ini telah dirinya pikirkan.
"Selesaikan sarapan mu terlebih dahulu, setelah itu susul Anne." Nessie memberi saran dan melanjutkan makannya setelah melihat Ivander menuruti ucapannya.
Meninggalkan Nessie dan juga Ivander yang masih duduk di meja makan, Anne meletakkan Kanwa di kursi makannya dan menyuapinya dengan penuh kasih sayang. Dia menatap lekat wajah tampan milik bocah itu, dan merekamnya dengan baik-baik di otaknya. Sebagai simpanannya ketika dia merasa rindu pada Kanwa nantinya.
"Kanwa, dengarkan ibu sebentar saja. Ketika nanti ibu pergi, tolong jadilah anak yang penurut. Jangan cengeng, oke? Bukan kah Kanwa anak yang pintar? Jadi tolong menurut lah dengan ucapan mama dan papamu. Jangan merepotkan mereka," bisik Anne dengan nada beratnya sembari menatap putra sambungnya dengan wajah sendu.
Wanita itu mengatupkan bibirnya, dan mengingat masa-masa di mana dirinya begitu menyayangi bocah itu, selayaknya putra kandungnya. Dia yang terbangun tengah malam ketika Kanwa menangis. Dirinya yang menghabiskan hampir setengah harinya karena merasa khawatir dengan tubuh panas Kanwa. Dan dirinya juga lah yang mengurus semua keperluan bocah itu,mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.
Rasanya akan sedikit tidak ikhlas ketika dirinya harus meninggalkan Kanwa dengan begitu mendadak. Terlalu banyak kenangan manis dan ikatan batin yang mulai terjalin antara dirinya dan Kanwa.
"Semoga nanti ibu bisa bertemu dengan Kanwa lagi, ya? Doakan ibu, supaya ibu bisa membawa kembali putra ibu. Ibu berjanji akan mengunjungimu ketika semuanya sudah selesai nanti." Anne berjanji pada putra sambungnya itu dengan air mata yang telah menetes, dan buru-buru dirinya hapus. Dia takut jika ada yang melihatnya.
Sementara Ivander, pria itu mengernyitkan keningnya ketika samar-samar mendengar ucapan Anne. Dengan cepat ia langkahkan kakinya, dan berhenti tepat di sebelah Anne yang duduk menghadap putranya.
"Apa yang kau katakan?" tanya Ivander sebelum duduk di sebelah Anne.
Anne yang tiba-tiba dihampiri oleh Ivander itu, segera menggelengkan kepalanya. Dia cepat-cepat memastikan jika tidak ada air mata lagi di kedua pipinya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Hanya beberapa nasihat untuk Kanwa. Bukan begitu, Boy?" Sahut Anne sembari mengangkat tubuhnya dan membawa mangkok kecil bekas tempat makan milih Kanwa.
"Saya permisi dahulu, Tuan." pamit ana lalu hendak beranjak dari hadapan Ivandar. Tapi dengan cepat, pria itu tiba-tiba menangkap tangannya dan menghentikan langkahnya.
"Ada apa denganmu? Apakah ada masalah?" tanya Ivander dengan begitu tenangnya, yang membuat Anne menggertakkan rahangnya.
"Tolong kerja samanya, Tuan. Saya harus membereskan yang lain."
****
Di rumah Sherina, wanita itu berjalan ke atas dimana suaminya dan anak-anaknya masih tertidur. Setelah membuka pintu senyum wanita itu seketika mengembang ketika melihat suaminya, berada di tengah, diantara dua putri kecilnya.
Orang pertama yang menggerakkan tubuhnya adalah Ailey. Gadis kecil itu perlahan mulai mengerjapkan matanya, dan membuka mata indah itu secara perlahan. Senyum Sherina seketika terpampang ketika melihat dua bola mata kecil yang menatapnya dengan penuh keceriaan.
"Selamat pagi, Sayang!" sapa Sherina lalu mengecup kening milik Ailey.
Poni sedahi gadis itu disampirkannya ke samping oleh Sherina, dan mengecupnya berulang kali di tempat yang sama.
Gadis itu tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan menaikkan kedua tangannya ke atas. "Aduh aduh, bagaimana tidurnya? Nyenyak sayangku?" tanya Sherina dengan begitu lembut langsung dianguki oleh Ailey.
__ADS_1
Sherina meminta Putri pertamanya itu untuk membangunkan Marvin dan juga adik kecilnya. Tidak ada penolakan. Ailey melakukannya dengan begitu lucu, yang membuat Sherina memiringkan kepalanya.
Wanita itu menghela napasnya dengan begitu lega, ketika melihat interaksi antara suaminya dan juga Ailey. Yang lebih membuatnya bersyukur adalah ketika tahu jika Ailey menganggap Alissa sebagai kakaknya, bukan ibunya.
Seketika dia mengingat tentang cerita Alissa yang menyembunyikan Aliey selama ini karena dianggap sebagai aib karena dirinya melahirkan tanpa suami dan diusia yang sangat dini.
Kemungkinan besar nama putrinya dahulu dijadikan satu dengan keluarga ayah Alissa. Jadi mau tidak mau, Aliey diakukan sebagai adik Alissa.
Nyatanya hal tersebut benar-benar membuat dirinya dan Marvin merasa begitu lega. Setidaknya mereka memiliki kesempatan untuk menjelaskan tentang bagaimana kondisi Alissa pada gadis itu.
"Sayang bangunlah. Lihatlah, Ailey sudah membangunkanmu." ucap Sherina berbisik lalu mengecup pipi milik suaminya.
Wanita itu tersenyum tipis dan mencubit hidung mancung milik suaminya, ketika melihat Marvin yang langsung merespon panggilannya.
Pria itu meregangkan tubuhnya dan mencium bibir istrinya sekilas, sebelum menatap kedua putrinya yang masih berada di sampingnya.
"Aku masih tidak menyangka. Bagaimana bisa aku tiba-tiba memiliki dua buntut seperti ini." Racau Marvin dengan rasa tak percayanya, dan menjadikan paha isinya sebagai bantalannya.
Dia menatap tingkah lucu Ailey yang yang tengah membangunkan putri kecilnya.
__ADS_1
"Kala, banun."