Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 77


__ADS_3

Semua orang terharu mendengar ikrar yang diucapkan oleh kedua mempelai. Ditatapnya Marvin dan juga Sherina yang terlihat sangat berbahagia. Anne yang mengetahui bagaimana perasaan Ivander itu, mengulurkan tangannya dan mengelus lengan kekar milik Ivander.


"Dia sudah bahagia dengan pilihannya. Aku yakin kau bisa menerimanya," ucap Anne lirih dengan sebelah tangannya lagi yang tengah menahan tubuh Kanwa.


Ivander tidak menjawab, dia hanya menetap wajah natural milik Anne sejenak, lalu menganggukkan kepalanya dengan lemah. Pria itu kembali menatap ke depan dengan tangannya yang saat ini tengah menggenggam tangan kecil milik anaknya.


Tidak lama setelah acara selesai, Sherina berjalan mendekati Anne yang sedang menundukkan kepalanya, menatap tidur pulas bayi kesayangannya. "Kau sangat menyayanginya?"


Anne mengangkat kepalanya, dan terpana saat melihat Sherina yang kini duduk di depannya. Wanita itu menggenggam tangan kanan Sherina yang saat ini sudah tersemat cincin pernikahannya dengan Marvin.


Mereka terdiam sejenak. Anne mengalihkan pandangannya dan menatap perut besar milik Sherina. Tangannya terlepas dan kini beralih mengelus perut Sherina.


"Aku berharap bayimu kelak, bisa kau rawat dengan tanganmu sendiri. Seorang anak akan selalu membutuhkan ibunya, sampai kapanpun itu. Begitu juga dengan Kanwa. Aku berharap, semoga suatu saat nanti, ibu kandung Kanwa dapat kembali dan merawat putra tampannya ini. Meskipun aku sangat menyayanginya, tetapi besar harapanku melebihinya."


Sherina menatap kedua mata Anne saat mengatakannya. Sherina menangkap suatu perasaan yang Anne berikan pada Kanwa. "apakah kau yakin, kau bisa berpisah dengan Kanwa?"

__ADS_1


Anne seketika terdiam saat mendengar pertanyaan dadakan dari Sherina itu. Wanita itu memutus tatapannya dengan Sherina. "mau tidak mau, aku harus yakin. Bagaimana pun aku ini hanya ibu susunya. Aku juga sudah mengatakan pada Ivander tentang hal ini, dia juga sudah menyetujuinya."


Sherina mengernyit. "menyetujui akan hal apa? Dia bahkan sudah berganti ibu susu untuk Kanwa untuk beberapa kali, dan tidak ada yang berhasil. Tapi setelah mendapatkan mu dan kau berhasil mengurus anaknya, apakah kau yakin dia akan setuju jika kau berhenti dari hal ini? Aku rasa tidak mungkin."


Anne tidak menjawab. Dia menghembuskan napasnya dan menggelengkan kepalanya.


"Entahlah, aku juga belum tahu. Mungkin untuk beberapa bulan ke depan aku masih akan di sini. Tapi ketika Kanwa sudah berhenti ASI, kemungkinan aku akan kembali ke Jerman. Aku masih berusaha untuk mengurus hak asuh putraku. Kau tahu akan hal itu."


Sherina merasa iba dengan apa yang terjadi di hidup Anne. Wanita itu sama dengannya, hidup sebatang kara, tanpa kedua orang tuanya. "apapun yang akan kau ambil nantinya, aku akan selalu mendukungmu Ann. Jika ada yang harus ku bantu, katakan saja. Kau juga sudah mengenal dengan baik, suamiku. Kami ada untukmu." Anne menganggukkan kepalanya dengan tenang.


Sementara itu, tidak jauh dari tempat Sherina dan Anne berbincang, seorang pria sejak tadi menatap Sherina tanpa berkedip.


Ivander duduk di sebelah Marvin dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "aku yakin, kau akan menjadi pria paling beruntung di dunia ini."


Marvin menolehkan kepalanya dan mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Ivander.

__ADS_1


"Kau benar. Aku sangat-sangat beruntung karena berhasil memilikinya. Aku benar-benar berterimakasih dengan kebodohanmu di masa lalu,Van." Marvin bercanda sambil menyenggol lengan pria itu dengan sikunya.


Ivander terkekeh perlahan sebelum Marvin menanyai dirinya tentang Anne. "apakah Anne berhasil mengurus putramu?"


Ivander menolehkan kepalanya ke Marvin sejenak, sebelum akhirnya menatap Anne yang sejak tadi tidak bosan menggendong putranya.


"Anehnya berhasil. Padahal mereka tidak memiliki ikatan darah atau semacamnya, bahkan aku baru saja mengenalnya. Tapi dia berhasil membuat putraku nyaman dengannya." Ivander menatap lekat wajah tenang milik Anne lalu beralih ke Kanwa yang bahkan belum terbangun sejak tadi.


"Dengarkan aku. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Terima saja semua kenyataannya. Lantas bagaimana dengan hubunganmu dengan istrimu itu?" Pertanyaan Marvin berhasil membuat Ivander mengingat proses perceraiannya dengan Nessie yang bahkan belum dirinya urus lagi.


"Aku sudah menceraikannya, tetapi wanita itu tidak terima. Entahlah, sudah sampai mana proses perceraianku dengan wanita itu." Marvin menatap pria yang dahulunya merupakan teman sepermainannya itu.


"Kenapa tidak coba memaafkannya, dan kembali bersama? Anak kalian tentu saja membutuhkan kalian." Ivander mengernyit mendengar ucapan Marvin.


"Aku rasa itu tidak bisa. Aku tidak tahu apakah dia sudah benar-benar berubah atau belum. Aku sendiri tahu, jika selama ini aku bersalah. Tapi setidaknya aku sudah menyadarinya dan tidak akan melakukan hal itu lagi."

__ADS_1


Jika sudah menyangkut hal itu, Marvin tidak dapat memaksa. Dirinya hanya memberikan saran.


"Tapi aku tidak tahu bagaimana kedepannya. Bagaimana pun, aku dulu lebih memilih Nessie daripada Sherina. Jadi, aku yakin jika memang dia adalah takdirku, dia akan kembali dengan versi terbaiknya.


__ADS_2