
Sherina mulai melepas pelukannya, yang membuat Marvin menundukkan kepalanya dan melihat wajah istrinya.
"Vin," panggil Sherina lirih sembari mendongakkan kepalanya, menghadap ke sang suami.
"Hmm?" jawab Marvin berdehem, lalu kembali mengecup kening istri.
Sherina mencoba berdiam untuk beberapa saat. Dia memikirkan, apakah harus mengatakan hal ini pada suaminya, atau tidak. Jika dirinya menunda pun, pada akhirnya dirinya juga akan mengatakan hal ini pada suaminya.
"Aku ingin bicara," ucap Sherina dengan nada datarnya, sembari menatap kedua mata tegas milik suaminya.
Marvin terdiam sejenak. Dia menatap kedua mata istrinya, seolah mencari sesuatu di dalamnya. Entah mengapa ada rasa takut ketika melihat tatapan datar milik istrinya.
"Ada apa?" tanya Marvin seolah tak menyukai dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
Sherina menghela napasnya untuk beberapa saat, lalu mengalihkan tatapannya untuk memutus tatapan keduanya. Dia tahu dengan benar apa yang saat ini ada di pikiran suaminya.
"Apa yang akan kau lakukan jika kau ada di posisiku? Bagaimana perasaanmu ketika mengetahui jika suamimu pernah memiliki anak dari hubungan sebelumnya?" tanya Sherina dengan nada kakunya.
Marvin seketika terdiam ketika mendengar pertanyaan istrinya. Dia memundurkan tubuh Sherina dengan tangannya dan menatap wajahnya.
"Sebentar. Apa yang kau katakan?" tanya Marvin dengan nada tegasnya, yang membuat Sherina hanya berkedip.
__ADS_1
Dia menatap wajah tegas dengan rahang kokoh milik Marvin, dengan menghela napas panjangnya.
"Kau tidak berpikir jika aku-" ucapan Marvin belum selesai, tapi tiba-tiba Sherina menyala ucapannya.
"Jawab saja! Apa yang kau rasakan pada pasanganmu jika mengetahui ternyata dia sudah memiliki anak dari orang lain?" tanya Sherina dengan nada yang mulai bergetar.
Marvin mengernyitkan keningnya tak percaya dan mencari kebenaran di mata istrinya. Dia benar-benar bingung dengan apa yang Sherina tanyakan padanya.
"Sherina." sanggah Marvin lagi yang lagi-lagi membuat Sherina mencekam lengan milik pria itu.
"Kau tidak mendengar ucapanku? Jawab saja!" tegas Sherina lagi dengan tatapan serius pada suaminya.
"Tentu saja aku marah. Aku kecewa, dan aku merasa gagal menjadi pasangannya," jawab Marvin yang membuat Sherina menganggukkan kepalanya.
Wanita itu tersenyum dan menghela napasnya dengan begitu panjang.
"Aku yakin kau tidak akan membenci anak dari hubungan itu, bukan? Kau juga tidak membenci pasanganmu, karena bagaimana pun, itu merupakan masa lalu mereka. Tapi setidaknya, kau pasti akan merasa kecewa. Bukan begitu? tambah Sherina yang tak disahuti oleh Marvin.
"Sayang, kenapa kau bertanya seperti ini? Aku tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu, yang akan menyakiti hatimu. Percayalah, kau adalah satu-satunya, Sayang." tegas Marvin yang membuat Sherina tersenyum.
Pria itu yakin, dibalik senyum istrinya saat ini, itu bukanlah sebuah senyum ketulusan tetapi seperti apa yang dirasakan akhirnya mulai tersampaikan.
__ADS_1
"Ya, kau memang tidak melakukannya. Lebih tepatnya kau tidak melakukannya dengan keadaan sadar," imbuh Sherina yang membuat Marvin semakin bingung.
"Kenapa kau melakukannya, Vin? Kenapa kau membuat aku kecewa?" tanya Sherina yang membuat Marvin semakin kebingungan dengan pertanyaan wanita itu.
"Sayang," ucap Marvin lirih yang membuat Sherina mengalihkan tatapannya dari sang suami.
"Kau memiliki putri yang lain, Vin. Dia begitu mirip denganmu." Air mata Sherina luruh sudah. Dia tidak sanggup untuk menanggung semua rasa sesak ini sendirian lagi.
Pria itu menatap tak percaya dengan apa yang Sherina ucapkan. Manik matanya seketika hanya tertuju pada sang istri, yang air matanya kini kembali mulai turun.
"Kenapa ujian pernikahan kita begitu berat, Vin" Apakah Tuhan terlalu yakin padaku, sehingga Dia memberikanku ujian yang begitu mengguncang hidupku?" ucap Sherina lagi, yang membuat Marvin segera menggelengkan kepalanya.
"Itu tidak mungkin, bukan? Sherina, percayalah padaku. Aku tidak pernah melakukannya," jujur Marvin dengan wajah ketakutannya.
Dia benar-benar ketakutan jika sang istri marah padanya dan salah paham padanya. Lalu melakukan hal yang tidak pernah dirinya inginkan.
"Sayang. Aku mohon dengarkan aku. Aku tidak pernah menyembunyikan apapun itu darimu. Aku hanya memilikimu, satu-satunya." aku Marvin lagi yang membuat Sherina menganggukkan kepalanya.
Air mata wanita itu sudah membasahi pipinya, yang bahkan mungkin sudah terlalu kerap dijatuhi oleh air mata. .
"Ya, aku percaya padamu."
__ADS_1