
1 minggu telah berlalu.
Seorang wanita yang baru saja selesai sarapan itu, segera membawa piring kotornya menuju ke dapur. Wajah yang terlihat sembab itu, seketika menoleh ke arah pintu utama kala mendengar suara pintu yang terbuka.
Sherina segera menyelesaikan kegiatannya untuk mencuci piring, lalu segera berjalan keluar dari dapur. Langkah kaki putih itu, seketika terhenti kala melihat kedatangan dua tamu yang sama sekali tak dia inginkan untuk datang.
Lengan kekar yang tersapir di bahu milik wanita berpakaian seksi itu, seketika langsung menjadi sorotan mata Sherina. Wanita itu menatap kedua insan yang tengah berjalan menuju kepadanya, dengan tatapan datarnya.
Untuk apa laki-laki itu masih kembali kemari? Bukankah dia sudah mengatakan akan pulang ke apartemennya jika kembali nanti? Tapi jika dilihat, Ivander belum pulih sepenuhnya karena di bagian bahunya masih terlihat balutan kasa yang membungkusnya.
Saat tatapan Sherina dan Ivander bertemu, dengan cepat Sherina langsung membuang pandangannya begitu saja. Tak ingin menyapa atau sejenisnya, Sherina segera berjalan menuju kamarnya dan menutup pintunya dengan begitu saja.
"Kenapa kau kembali menangis untuk laki-laki itu, Rin? Kau sudah cukup menderita jika harus bersama dengan laki-laki itu lagi," ujar Sherina pada dirinya sendiri setelah air matanya kembali lolos.
Semalam bahkan dirinya baru saja menangis, karena mendengar kabar jika permintaan cerainya akan dikabulkan oleh papanya dengan satu syarat. Tapi kini dirinya kembali dibuat menangis karena melihat laki-laki yang bahkan masih dirinya cintai.
"Sebentar lagi kau akan bercerai darinya, Rin. Jangan seperti ini," ujar Sherina sembari meluruhkan tubuhnya ke lantai dengan tangis yang terdengar semakin memilukan untuknya sendiri.
Sementara Ivander yang masih berada di ruang tamu bersama dengan Nessie itu, entah mengapa mengepalkan tangannya kuat-kuat. Laki-laki itu tak mengerti, mengapa dia merasa jika ada yang salah dengannya. Dia merasa marah ketika melihat wajah sembab milik Sherina.
Tunggu, bukankah dia tak mencintai wanita itu? Lalu kenapa Ivander merasa jika hatinya terasa diremas kuat saat melihat Sherina mengabaikan dirinya begitu saja.
__ADS_1
"Apakah kau akan terus-terusan mengabaikan aku dan anak kita? Sejak tiba di rumah, kau sama sekali tak mengajakku berkomunikasi. Kau hanya asyik melamun sendirian!" Nessie yang tak terima karena kekasihnya itu tak berbicara padanya itu, dengan nada merajuknya menyadarkan Ivander yang tengah melamun.
"Kau tak menyukainya? Pulanglah!" jawab Ivander yang entah mengapa kali ini merasa sangat kesal dengan Nessie.
Entah hawa apa yang tiba-tiba menghampiri Ivander, laki-laki itu segera bangkit dan hal itu membuat Nessie terkejut dan ikut berdiri. Tangan wanita itu dengan sigap, langsung memegang lengan kekar milik Ivander.
"Sayang," Belum sempat Nessie melanjutkan apa yang hendak dirinya katakan pada Ivander, laki-laki itu dengan cepat langsung mengisyaratkan jika wanita itu harus pulang sekarang juga.
"Pulanglah, aku ingin beristirahat." Dengan nada datar dan enggan menatap Nessie, laki-laki itu meminta wanita yang tengah mengandung anaknya itu untuk pulang.
Nessie yang hendak menyahuti perkataan dari Ivander itu, seketika mengunci bibirnya rapat-rapat kala mendapat tatapan tajam dari Ivander. "Baiklah, aku akan pulang. Pikirkan apa yang sudah kita bicarakan kemarin ya, Sayang. Aku tak ingin kita hidup menderita hanya karena wanita picik itu!"
Setelah mengatakan hal tersebut, tak lupa Nessie mengecup sekilas bibir milik Ivander, yang membuat sang empu terdiam. Hal itu nyatanya mampu membuat mood Ivander kembali membaik dalam sekejap. Sebenarnya hal itulah yang dibutuhkan oleh Ivander. Hanya hal kecil yang manis, yang dia dapatkan dari wanita yang dia cintai.
Setelah kepergian dari Nessie, Ivander memutuskan untuk segera naik ke atas di mana kamarnya berada. Saat hendak beranjak, samar-samar Ivander mendengar suara tangisan yang dirinya yakin pasti berasal dari kamar sang istri.
Entah mengapa, Ivander pun menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar Sherina, dan berdiri sejenak di sana. Lama Ivander terdiam sembari mendengar tangisan dari Sherina. Hingga tiba-tiba satu hal yang tak pernah dirinya inginkan dan dirinya pikirkan, dengan begitu saja dilakukan olehnya.
Sherina yang mendengar pintunya diketuk dari luar pun, segera menghentikan tangisnya. Wanita itu menatap ke depan dengan tatapan kagetnya, seraya menghapus air matanya dengan cepat. Sherina segera bangkit dari duduknya dan menatap penuh keterkejutan, pada pintu yang masih tertutup.
Ketukan itu kembali berbunyi, yang membuat Sherina dengan cepat langsung membuka pintunya tanpa merasa curiga. Namun ketika mengetahui jika yang mengetuk pintu kamarnya adalah Ivander, dengan cepat wanita itu langsung berdiri mematung.
__ADS_1
Sherina sempat menatap bola mata indah milik suaminya sampai beberapa saat, hingga dirinya langsung mengalihkan tatapannya dengan begitu saja.
Ada gelenyar aneh saat melihat sang suami yang menatapnya dengan tatapan khawatir serta kaget. Tapi ketika mengingat bagaimana jahatnya laki-laki itu padanya, membuat Sherina semakin meninggikan tembok perasaannya pada sang suami.
"Kau menangis, hm?"
Sherina tak menjawab. Dia hanya menatap sang suami dengan tatapan datarnya.Dalam hati wanita itu bertanya, kenapa tiba-tiba suaminya menanyakan keadaannya.
Tanpa menjawab pertanyaan yang tadi Ivander berikan padanya, Sherina segera menutup pintu kamarnya. Hal itu sontak membuat Ivander terkejut.
Tak menghiraukan hal tersebut, Ivander berjalan menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Sherina.
Dia tahu tak seharusnya dirinya bertanya tentang hal seperti itu pada istrinya. Tanpa dirinya tanyakan pun, sudah pasti jawabannya karena dirinya.
****
Malam harinya, Sherina yang masih pulas tertidur tiba-tiba terbangun saat mendengar pintunya yang diketuk. Sherina mengumpulkan kesadarannya terlebih dahulu dan segera bangun.
Wanita itu berjalan dan membuka pintunya. Sherina sedikit terkejut ketika tahu jika suaminya lah yang mengetuk pintu kamarnya.
"Kenapa?" tanya Sherina dengan suara paraunya. Terlihat dari wajah sang suami jika pria itu kini tengah memerlukan sesuatu.
__ADS_1
"Apakah kau bisa memasak untukku? Aku lapar," ujar Ivander yang langsung disambut dengan senyum miring Sherina.
"Ternyata kau bisa lapar? Kenapa tidak meminta si sekretaris itu untuk memasakkanmu?"