
Sherina mengangkat tangannya dan mengusap sudut bibir milik suaminya yang terlihat sudah dijahit. Dia menarik ibu jarinya saat Marvin meringis menahan sakit.
"Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku menelepon mu dan membuatmu khawatir. Seharusnya aku bisa mengontrol diriku." Sherina menurunkan tangannya sembari menatap sang suami.
Marvin menggelengkan kepalanya. Dia menggenggam tangan istrinya dan menghela napasnya dengan perlahan, "Seharusnya aku yang meminta maaf. Tidak seharusnya aku pergi, seperti yang sudah aku katakan."
Keduanya berbincang ringan sebelum akhirnya Anne masuk dan mengatakan jika Marvin harus pergi.
"Aku pergi sebentar. Kalian baik-baik di sini," ucap Marvin sembari mengelus pipi Sherina dan beralih kepada sang putri.
Sherina hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sembari menunggu kepergian Marvin dan juga Anne.
****
Operasi Marvin dinyatakan berhasil, oleh dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
Ketiganya yang sejak tadi menunggu proses operasi tulang kaki Marvin itu, berjalan kembali ke ruang rawat, untuk menunggu kabar lebih lanjut dari perkembangan operasi Marvin.
__ADS_1
"Intinya jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku atau Anne, jika kalian sudah tiba di rumah nanti," ucap Ivander yang benar-benar membuat Sherina merasa tidak enak hati.
"Van, aku sudah banyak merepotkanmu dengan Anne selama ini." Jawab Sherina dengan nada tak enaknya, dan hal tersebut berhasil membuat Ivander berdecak.
"Sher, kau ini sudah aku anggap sebagai adikku. Dan Marvin, dia juga merupakan sahabatku sejak kecil. Jadi tidak ada kata merepotkan untukku."
Ucapan Ivander itu diperkuat dengan pembenaran yang Anne katakan. "Rin, lagi pula kalian berdua benar-benar tidak memiliki siapa pun lagi selain aku dan Ivander. Setidaknya hanya kami lah yang paling dekat dengan rumahmu. Jadi jika sewaktu-waktu kamu membutuhkan bantuan kami, kami akan segera datang." Ujarnya yang disusul dengan anggukan kepala dari Sherina.
"Baiklah, aku mengucapkan banyak terimakasih pada kalian berdua. Aku minta maaf jika kedepannya aku akan lebih banyak merepotkan kalian berdua lagi," ucap Sherina dengan penuh ketulusan.
"Oh ya, berbicara tentang anak Marvin yang kemarin kau katakan. Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan langsung membicarakannya dengan Marvin?" tanya Ivander yang membuat Sherina menolehkan kepalanya penuh, menghadap pria itu.
"Sepertinya aku tidak akan buru-buru untuk membicarakan hal ini pada Marvin. Bagaimanapun, dirinya harus benar-benar kembali ke kondisi sehatnya. Dan paling tidak aku akan memberikan waktu pada diriku sendiri, untuk bisa menerima semuanya. Tidak mudah bagiku untuk benar-benar menerima kenyataan, jika suamiku pernah memghamili wanita lain."
Ivander sekeketika merasa tersinggung dengan ucapan Sherina. Dia mengingat saat dimana dirinya melihat reaksi Sherina ketika mengetahui jika Nessie tengah mengandung anaknya.
Ivander memganggukkan kepalanya, sembari membayangkan bagaimana perasaann Sherina ketika mengetahui jika sahabatnya itu pernah memiliki anak dengan wanita lain.
__ADS_1
"Tapi untuk spesifikasi langkah yang akan kau ambil nantinya, apakah kau akan menerima anak itu? Atau justru tidak?" Tanya Ivander lagi, yang kali ini membuat Sherina terdiam beberapa saat.
"Untuk hal ini aku masih belum yakin. A masih mempertimbangkan, apakah keputusanku untuk menerima anak itu sudah benar atau belum. Karena bagaimana pun tidak ada seorang wanita yang dengan begitu mudahnya, menerima anak suaminya dengan wanita lain. Sementara dirinya juga tengah memiliki tanggungan bayi."
Sherina menjeda kalimatnya dan menatap kosong ke depan.
"Tapi kemungkinan besar aku akan tetap menerimanya. Bagaimanapun dia tidak bersalah, dia sama seperti putriku. Mereka hadir karena ketidaksengajaan. Tidak lebih dari sebuah kecelakaan untuk membantu sesama."
Ivander menatap wajah cantik ibu beranak satu itu, dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
"Aku tidak akan mungkin bisa hidup dengan tenang, ketika mengetahui jika gadis kecil itu akan tinggal sendirian, setelah ditinggalkan oleh ibunya. Aku pikir, aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Tidak akan bisa kenyang meskipun makan enak. Dan aku juga akan merasa dihantui karena mau bagaimanapun dia merupakan putri dari suamiku."
"Dia tidak bersalah padaku. Aku pun tidak memiliki dendam padanya. Jadi, tidak ada salahnya jika aku mencoba untuk menerimanya."
Ivander sedikit terkejut mendengar jawaban Sherina. Dirinya benar-benar bingung dengan seberapa luas hati wanita itu, sampai-sampai Sherina memiliki pemikiran yang begitu mulia.
Senyum pria itu terbit, "Betapa beruntungnya Marvin."
__ADS_1