Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 121


__ADS_3

Anne merawat Ivander dengan begitu telaten, serta menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya dengan adil. Setelah semua selesai, Anne yang baru selesai menyuapi makan siang Kanwa itu, membawa si bocah menuju kamar Ivander.


"Kau sudah kenyang, hm? Lihatlah, betapa besarnya tubuhmu sekarang..." Anne mencium pipi Kanwa dan membuka pintu kamar Ivander.


Ivander yang masih fokus dengan ponselnya karena memiliki sedikit pekerjaan itu, segera mengalihkan pandangannya dan menatap kedatangan sang putra. Senyum hangat pria itu mengembang, ketika Anne membawa Kanawa dan duduk di ujung kasur.


"Bosan? Aku membawakan boneka menggemaskan ini untukmu." Anne mendudukkan Kanwa di hadapan sang papa, yang langsung disambut oleh Ivander.


"Ternyata kau sudah sebesar ini," ucap Ivander lalu mengecup pipi gembul milik putranya.


Anne meletakkan botol susu milik Kanwa, di atas meja yang ada di sebelah ranjang Ivander, dan berniat untuk beranjak dari kamar pria itu. Tapi belum sempat kakinya beranjak, Ivander lebih dulu menghentikannya.


"Mau kemana?" tanya Ivander dengan lembut yang langsung membuat Anne menolehkan kepalanya.


"Ada pekerjaan yang belum aku selesaikan. Aku mengantar putramu kemari agar aku bisa melakukannya sebentar." Anne kembali membalikkan tubuhnya menghadap Ivander yang saat ini tengah memangku putranya itu.


"Lakukan nanti. Duduklah. Kau pasti lelah karena harus mengurus Kanwa dan melakukan pekerjaan rumah. Belum lagi kau juga harus merawat ku." Ivander mengisyaratkan agar Anne duduk di seberangnya, di atas ranjang yang sama dengannya.


"Tidak perlu. Aku akan menyelesaikannya terlebih dahulu," tolak Anne dengan begitu halus, berharap agar dirinya tidak terjebak di suasana canggung dengan pria itu, setelah pembicaraan asal malam tadi.


"Ini bukan tawaran, tapi perintah. Jadi duduklah." Seolah tidak ingin ditolak permintaannya, pria itu menginterupsi Anne untuk menurutinya.


Anne menahan dirinya untuk beberapa saat, sebelum akhirnya memutuskan untuk menuruti perkataan Ivander. Melihat Kanwa yang langsung merangkak menuju Anne, Ivander menggelengkan kepalanya perlahan dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.

__ADS_1


"Dia bahkan tidak lagi tertarik pada papanya. Selalu kau yang dicarinya," ucap Ivander dengan tatapan yang begitu dalam pada Anne.


Anne tidak menyahuti ucapan Ivander. Perempuan itu hanya menundukkan kepalanya dan menatap tangan kecil Kanwa yang tengah bermain di pangkuannya.


Ivander tidak mengalihkan tatapannya dari Anne. Dia tersenyum tipis untuk beberapa saat dan berdehem sejenak. Sedikit canggung untuk mereka saat ini. Andai saja bocah tampan itu tidak berceloteh menggemaskan, yakinlah jika keduanya akan mati kaku karena tidak ada obrolan.


"Jika aku menjadi egois dan memintamu untuk terus merawat Kanwa hingga dia besar nanti, apa yang akan kau lakukan?" Ivander masih menyenderkan tubuhnya dan bertanya kepada Anne dengan nada santai yang terkesan mendalam itu.


Anne menghembuskan napasnya sejenak, dan mengelus punggung kecil Kanwa. Dia menganggukkan kepalanya sejenak, lalu menerawang ke sesuatu yang sejak pagi tadi selalu ada di pikirannya.


"Jangan jawab ini seolah-olah kau sedang berbicara pada atasanmu. Anggap aku orang lain, dan jawab saja dengan jujur." Ivander tahu kebiasaan wanita itu, jadi dia lebih dulu berinisiatif untuk mengatakannya pada Anne.


"Jujur saja, aku terpaksa mengambil tawaran pekerjaan ini lagi darimu, kemarin. Bahkan bisa dihitung berapa hari aku bisa tidur dengan memeluk tubuh kecil putraku. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkannya, dan pergi kembali kemari." Anne menahan panas yang mulai menyerang matanya.


"Benar, Marvin dan Sherina sangat membantuku selama ini. Tapi akan lebih segan lagi jika aku terus menerima bantuan mereka, sedangkan kini Sherina sedang tidak baik-baik saja."


Ivander sama sekali tidak berekspresi ketika mendengar penjelasan dari Anne. Rahang pria itu sedikit mengeras, menanti penjelasan yang lebih banyak lagi dari wanita berambut sebahu yang ada di hadapannya.


"Lalu putramu?" Hanya dua kata itu yang keluar dari bibir Ivander.


"Aku meninggalkannya dengan ibu angkat ku. Aku percaya dia bisa menyesuaikan diri, setidaknya aku melakukan semua ini untuknya. Dan ya, aku sudah berjanji untuk segera pulang setelah semuanya membaik." Anne tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dan menatap Ivander yang juga tengah memandangnya dengan tatapan yang tidak dapat dirinya artikan.


"Jemput dia, hari ini. Jangan biarkan dia kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya." Ivander dengan seriusnya menatap kedua mata Anne yang terlihat sedikit ragu.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku yakin dia akan baik-baik saja. Dia-"


"Baiklah, aku pesankan tiket pesawat untuk kita. Bilang pada ibumu untuk mempersiapkan semuanya, kita berangkat besok pagi." Seolah tidak ingin dibantah, Ivander terus bersikap memaksa.


"Tidak perlu. Aku berjanji akan melakukan pekerjaanku tanpa terganggu dengan pikiran anakku. Percaya saja, aku akan mengabarinya atau melakukan apapun itu tentangnya ketika hari libur. Aku tidak akan mengacaukan pekerjaan-"


"Menikahlah denganku."


Anne seketika terdiam membeku ketika mendengar ucapan Ivander. Dia menatap kedua mata hitam itu, dengan jantung yang terasa berhenti berdenyut.


"Menikahlah denganku. Aku tidak bisa membiarkanmu terus-terusan seperti ini." Ivander meminta dengan nada yang begitu dalam, untuk Anne.


"Aku mohon jangan menolakku. Kau tahu aku mencintaimu. Kau tahu seberapa besar aku membutuhkanmu dalam hidupku dan putraku. Tapi aku juga tidak bisa terus-terusan bersikap seperti ini. Aku tahu kau merindukan putramu, kau sangat ingin bersamanya. Begitu juga dengan aku dan Kanwa." Entah bagaimana rasanya, tiba-tiba air mata wanita itu menetes tanpa disengaja.


"Mari memulai semuanya bersama-sama. Aku berjanji akan menjadi suami dan juga ayah yang baik untuk keduanya. Aku akan melakukan apapun yang kau mau." Ivander yang sudah sejak tadi menegakkan tubuhnya itu, mencoba menggenggam tangan halus milik Anne.


Anne tersadar dari keterkejutannya, dan menghela napas dengan sedikit gugup. Dia tersenyum kecil, dan menganggap apa yang baru saja dirinya dengar hanyalah ilusi semata.


Dia tersenyum kecil ke arah Ivander yang masih menatapnya dengan serius, dan mengendurkan bahunya.


"Jangan terburu-buru. Kau bisa mengambil napas terlebih dahulu." Anne menepuk perlahan tangan Ivander yang tengah menggenggam tangannya, dan bangkit dengan Kanwa yang dirinya bawa.


Wanita itu meninggalkan Ivander yang menatapnya dengan pandangan yang sangat asing. Pria itu tertawa remeh sejenak dan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka jika aku sudah mendapatkan dua penolakan dalam waktu yang berdekatan."


__ADS_2