Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 28


__ADS_3

Hari berikutnya, Sherina yang diberi tahu jika hari ini adalah jadwal persidangannya dengan suaminya itu memasrahkan semuanya pada sang pengacara. Dia berharap jika nantinya pengajuan banding suaminya tidak berhasil.


Namun, beberapa saat sebelum waktu sidang dimulai, Sherina mendapatkan kabar dari pengacaranya jika Ivander tetap meminta Sherina untuk mengikuti persidangan walau hanya melalui zoom saja. Sherina mencoba menolak, tetapi akan lebih baik jika dirinya tetap menuruti permintaan Ivander.


Karena bagaimanapun, pada hakikatnya sidang pertama merupakan upaya mediasi untuk kedua belah pihak. Sherina yang mampu menerima dengan logikanya itu, akhirnya memutuskan untuk melakukan zoom sesuai dari anjuran mediatornya.


"Anda lebih tahu bagaimana suami Anda, Nona. Lebih baik kita menuruti apa yang beliau minta, agar proses ini semakin mudah." Perkataan dari pengacaranya ini berhasil membuat Sherina meluangkan waktunya untuk menuruti apa yang Ivander minta.


Sejak bergabung di zoom, wanita itu merasa lega karena screen di tampilan zoomnya tidak tertuju pada suaminya. Dia berpikir jika siaran zoomnya hanya ditampilkan pada hakim dan sejajarnya saja. Tapi nyatanya tidak, siaran zoomnya ditampilkan di projection screen dengan proyektor, yang hal itu membuat Ivander terus saja menatap wajah istrinya itu.


Sejak sidang dimulai, Ivander sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari Sherina yang sangat serius dalam mengikuti jalannya proses sidang. Bahkan ketika dimintai jawaban, pria itu lebih memilih untuk meminta kuasa hukumnya agar menjawab semuanya.


Hingga tiba di akhir persidangan, pria itu meminta sedikit waktu untuk berbicara sebentar dengan istrinya. Sherina yang mengetahui hal tersebut pun, memutuskan untuk tetap diam.


"Saya sebagai tergugat, bersedia mengabulkan permintaan dari pihak penggugat, dengan beberapa persyaratan yang akan saya ajukan." Setelah berjalannya persidangan, Ivander baru mengeluarkan suaranya.


Pria itu masih menatap Sherina tanpa berkedip. Rahangnya yang mengeras, sejalan dengan Sherina yang terlihat biasa saja seolah dirinya benar-benar ingin berpisah dengannya.

__ADS_1


Kuasa hukum Sherina yang mendengar pernyataan dari Ivander itu, menyimak dengan seksama syarat apa yang akan diberikan oleh pria itu. Besar harapannya agar proses perceraian antara Sherina dan Ivander dapat selesai lebih cepat, demi kebaikan wanita itu.


"Sherina harus kembali kemari. Besar harapan saya agar beliau selalu datang dan mengikuti seluruh proses persidangan dari awal hingga selesai. Dan juga, jika beliau menuruti syarat yang saya berikan, beliau juga berhak mendapatkan sebagian dari harta waris yang sudah dibalikkan atas nama saya."


Sherina yang mendengar pernyataan dari pria itu, mengepalkan tangannya dengan erat. Dia tidak akan mungkin menuruti permintaan dari pria yang masih menjadi suaminya itu.


"Mohon maaf, tapi saya sama sekali tidak berkenan untuk menghadiri seluruh rangkaian persidangan. Saya menyerahkan semua kuasa saya pada pengacara saya, Pak Lukas. Dan untuk masalah harta yang baru saja dibicarakan, saya sama sekali tidak akan menerima sedikitpun."


Sherina tak tahu, bagaimana reaksi dari pria itu. Dia juga tidak tahu apa motif sebenarnya Ivander meminta hal tersebut.


"Jika begitu, saya lebih memilih prosesnya selesai sesuai waktu yang ditentukan. Tidak lebih cepat, seperti kata Anda, atau lebih lambat!"


Ruangan persidangan itu, justru kini berubah menjadi memanas saat perdebatan antara Ivander dan Sherina bermula. Mediator yang melihat hal tersebut, memutuskan untuk menyudahi sidang pertama tersebut.


Dia meminta pada kedua kuasa hukum mereka, untuk mengkoordinasi Ivander dan Sherina selama menunggu waktu sidang kedua ditetapkan.


Ivander yang sudah berusaha untuk meminta Sherina kembali itu, mengepalkan tangannya karena Sherina tak lagi mendengarkan apa yang dia katakan. Pria itu meminta seseorang untuk mencari tahu di mana keberadaan istrinya itu berada.

__ADS_1


"Cari tahu di mana istriku sekarang berada! Aku tidak menerima alasan apapun itu sebelum kalian menemukan di mana dia!"


Ivander memutuskan untuk pergi ke kantor, siang ini. Dia mengabaikan pesan yang istrinya kirimkan padanya. Entah mengapa, tapi sekarang perasaannya kepada Nessie benar-benar sudah berubah.


Pria itu bahkan sekarang sangat suka menghabiskan banyak waktunya di kantor, dan pulang larut malam. Tak ada banyak cara yang bisa dia lakukan untuk menghindari Nessie dengan berbagai rentetan pertanyaan dari wanita itu.


Dia tahu, wanita itu sedang mengandung anaknya. Maka dari itu dia tidak dapat berbuat banyak pada istrinya tersebut. Dia bahkan sudah mulai muak dengan tabiat perempuan itu, jika berhubungan dengan uang.


Dua hari sudah terhitung dia menjadi suami Nessie, dan dirinya benar-benar tidak menyangka karena pengeluaran wanita itu kini melonjak tajam.


Banyak biaya tak terduga yang wanita itu berikan, dan hal itu cukup membuat Ivander kalang kabut. Lantaran dirinya sudah terbiasa dengan adanya Sherina saat menjadi istrinya.


Wanita itu bahkan tak pernah meminta uang padanya selama pernikahan. Dan bodohnya Ivander baru menyadari hal itu. Pria itu akhirnya benar-benar menyadari kebodohannya setelah melihat perbedaan yang sangat jauh dari diri Nessie dan Sherina.


Saat akan pulang, Ivander tiba-tiba menerima sebuah panggilan dari salah satu bawahannya. Dengan cepat Ivander pun menerima telepon tersebut.


"Selamat malam, Tuan. Saya sudah menemukan keberadaan Nyonya Sherina."

__ADS_1


__ADS_2