Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 34


__ADS_3

Malam harinya, Sherina yang hendak keluar untuk mengambil pesanannya itu mendadak menghentikan gerakan tangannya ketika mendengar suara seseorang. "Aku minta maaf karena harus kembali pulang terlebuh dahulu. Tapi aku berjanji akan segera kembali kemari jika semua urusanku sudah selesai."


Sherina yang merasa jika dia mengenal suara itu pun segera menolehkan kepalanya. Seketika Sherina membelalakan matanya ketika melihat Ivander dan Nessie yang juga baru keluar dari dalam apartemennya.


"Astaga! Apakah dia juga tinggal di sini?" lirih Sherina dengan keterkejutan yang masih melekat, sembari mengalihkan tatapannya dari dua insan itu.


Sementara di belakang sana, Ivander yang juga melihat jika Sherina keluar dari unitnya itu, tersenyum tipis. Akhirnya semua usahanya untuk bertemu dengan wnaita itu berhasil.


Ya, semuanya merupakan rencana Ivander. Mulai dari dirinya yang melakukan kerja sama dengan perusahaan tempat Sherina bekerja, hingga dirinya yang membeli apartemen tepat di seberang unit milik Sherina.


Sementara Sherina yang tak ingin Ivander tahu jika dirinya yang baru saja keluar dari unitnya itu, segera pergi setelah mengunci pintunya.


Namun ketika Sherina melewati Ivander dengan begitu saja, Sherina melipat bibirnya ke dalam sembari menghela napasnya ketika Ivander memanggil namanya. "Sherina?"


Sherina yang melihat Nessie sudah menghilang dibalik lift itu, menolehkan kepalanya dengan wajah datarnya. Sherina pura-pura terkejut saat mengetahui bahwa Ivander lah yang memanggilnya.


"Kau?" ucap Sherina yang langsung diangguki oleh Ivander.


Pria yang memasukkan tangannya ke dalam saku celananya itu, mendekat pada Sherina. Dia menatap Sherina dari ujung ramput hingga ujung kaki.


Cantik. satu kata itu yang langsung terbesit dalam pikiran Ivander, ketika melihat Sherina. Dalam balutan piyama berwarna abu-abu lengkap dengan cardigannya, wanita yang sama sekali tak mengenakan riasan itu keluar dari unitnya.

__ADS_1


"Kau jug membeli apartemen di sini?" tanya Ivander basa-basi, sembari menatap pintu apartemen milik Sherina.


"Seperti yang kau lihat." Sherina mengangguk sembari memundurkan langkahnya untuk menjauhi Ivander.


Saat Ivander hendak kembali bertanya, Sherina lebih dahulu memotong ucapan Ivander. "Aku permisi terlebih dahulu, aku ada sedikit urusan."


Setelah mengatakan hal tersebut, Sherina segera berlalu dari hadapan mantan suaminya itu. Sementara Ivander, pria itu tersenyum puas karena akhirnya dia dapat menjalankan semua planingnya.


Langkah pria itu berjalan menuju lift, yang baru saja membawa Sherina pergi. Melalui layar yang ada di damping pintu lift, dirinya tahu kemana Sherina pergi.


Tak lama setelah itu, pintu lift pun terbuka. Pria itu segera masuk dan menyusul kemana Sherina pergi.


Ketika tiba di lobby, Ivander berjalan keluar dan melihat Sherina yang sedang berdiri di sebuah mobil yang berhenti tepat di depan lobby.


Ivander yang juga mendengar suara tawa Sherina itu langsung mengepalkan tangannya. Sumpah demi apapun, pria itu ingin sekali menarik Sherina agar menjauh dari mobil itu, dan memukul pria yang membuat Sherina tertawa bahagia.


Saat Ivander masih ingin mendengarkan apa yang keduanya bicarakan, meskipun dia tidak terlalu paham, tiba-tiba saja Sherina menolehkan kepalanya ke belakang.


Ivander yang tertangkap basah karena sedang mengamati Sherina itu pun segera pergi. Pria itu berjalan menuju pos penjagaan yang terletak tak jauh dari posisi Sherina.


"Astaga, apa lagi yang dia lakukan." Lirih Sherina sembari menghela napasnya.

__ADS_1


Setelah urusannya selesai, dia mengambil pemberian dari pria itu, lalu segera masuk. Saat berjalan, Sherina yang merasa jika ada yang mengikutinya itu pun segera membalikkan badannya.


"Apakah kau sengaja mengikuti ku?!" ucap Sherina dengan nada kesalnya, yang langsung membuat Ivander menaikkan kedua tangannya.


"Siapa yang mengikuti mu? Aku baru saja mengambil pesanan ku!" jawab Ivander sembari menahan tawanya, yang membuat Sherina sedikit malu.


Pria itu melalui Sherina dengan begitu saja, dan langsung masuk ke dalam lift setelah dirinya menekan tombolnya. Mau tak mau, Sherina pun menghela napasnya dan segera menyusul Ivander.


"Apakah pria tadi kekasihmu?" tanya Ivander dengan begitu polosnya, yang membuat Sherina menatapnya dengan tatapan bingung.


"Apa urusannya dengan mu? Dan dari mana kau tahu jika orang tadi adalah seorang pria, jika kau tak benar-benar menguntit ku?" jawab Sherina dengan nada malasnya, sembari menggelengkan kepalanya.


Dia ebnar-benar tak menyangka dengan sifat Ivander yang sekarang. Dia tak mencerminkan seorang Ivander yang dirinya kenal.


Ivander hanya terkekeh perlahan sembari menyandarkan tubuhnya di dinding lift. Ivander masih saja menatap wanita yang rambutnya dikuncir kuda itu.


"Aku sarankan agar kau tak dekat-dekat dengan sembarangan pria. Kau tidak tahu apakah pria itu benar-benar baik untukmu atau tidak."


Sherina yang tiba-tiba diberi saran oleh Ivander itu tersenyum miring. Dia tidak tahu apa maksud yang Ivander berikan padanya dari perkataannya baru saja.


"Terimakasih atas sarannya. Tapi aku lebih berhak atas hidupku!" Setelah mengatakan itu, Sherina pun segera pergi dari hadapan Ivander.

__ADS_1


Ivander yang memang tak ingin terjadi sesuatu pada wanita itu pun mengejar Sherina. Saat Sherina tengah membuka pintu apartemennya, pria itu berhenti tepat dibelakang Sherina.


"Jauhi pria itu!"


__ADS_2