Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 102


__ADS_3

Selama dalam perjalanan menuju ke bandara, tidak henti-hentinya Anne memejamkan matanya untuk menyamarkan tangisannya. Nyatanya dirinya tidak bisa berbohong tentang perasaannya sendiri.


Jauh dalam lubuk hatinya, dirinya tidak ingin berpisah dengan Kanwa secepat ini. Dia masih ingin menemani putra sambungnya itu hingga tumbuh besar nanti. Tapi di sisi lain, dirinya juga sudah terlalu lama meninggalkan putra kandungnya.


"Amma pulang, Sayang." Anne menundukkan kepalanya dan mengeratkan tangannya yang sejak tadi mencengkeram baju kecil milik Kanwa.


Hidung mancung wanita itu bahkan sudah tidak bisa digunakan untuk menarik napas, saking lamanya menahan tangisannya agar tidak bersuara. Dia mengambil tisu yang ada di dalam tas, dan terkejut ketika mendapati gelang pemberian mama Ivander untuk cucunya, Kanwa.


"Astaga, bagaimana ini bisa masuk ke dalam tas? Kenapa kau sangat teledor, Ann!?" Anne mengambil gelang berbahan dasar sutra hitam dengan ornamen tambahan di intinya.


Dia menatapnya sejenak, lalu menggenggamnya dengan lembut sebelum memasukkannya ke dalam saku celananya.


Anne menghela napasnya, dan menyandarkan tubuhnya. Perlahan wanita itu mulai memejamkan matanya. Seketika sekelebat ingatannya ketika masih merawat Kanwa dan sesekali ditemani oleh Ivander membuat wanita itu segera membuka matanya.


"Berhenti, Ann. Ini salah!" Anne mengedarkan pandangannya dengan asal, mencoba menahan agar air matanya tidak kembali turun.


Anne mengakui jika dirinya kalah. Wanita itu menekuk kedua sikunya di atas paha, dan menangis dalam diamnya. Dia benar-benar tidak bisa menahan rasa sedihnya. Bukan ini yang dirinya mau.


Sopir taksi yang sejak tadi menatap Anne dalam diamnya itu, mencoba menghubungi Marvin. Dirinya sudah mendapat pesan dari marvin agar segera memberi kabar jika terjadi sesuatu dengan penumpangnya.


Marvin yang mendapat kabar dari sang driver pesanannya itu, bergegas mendekati sang istri yang tengah bermain dengan kedua putrinya. "Sayang,"


Marvin berjongkok di sebelah sang istri, yang langsung membuat Sherina menolehkan kepalanya. "Ada apa?" jawabnya sembari menatap layar ponsel yang menampilkan ruang percakapan antara suaminya dengan seseorang.


"Apa kau yakin jika Anne sudah pamit dengan Ivander? Entah mengapa, aku merasa jika Anne pergi tanpa pamit terlebih dahulu." Tebak Marvin yang membuat Sherina membuka mulutnya.

__ADS_1


"Astaga, kenapa kita baru sadar? Jangan-jangan yang kau bicarakan malam itu benar. Apa mungkin Anne kembali ke Jerman karena kembalinya Nessie pada Ivander?" ucap Sherina yang langsung dianggukki oleh Marvin.


"Sebentar, aku hubungi Ivander terlebih dahulu!" Sherina segera bangkit dari duduknya, dan meninggalkan sang suami yang bergantian menjaga putrinya.


"Kak Aiy," panggil Marvin sembari menepuk pelan paha gempal milik putri kecilnya.


Ailey yang masih sibuk dengan bonekanya itu, seketika langsung menolehkan kepalanya.


Ailey bangkit dari duduknya secara perlahan, dan menjatuhkan tubuhnya di pangkuan sang ayah.


"Ini siapa, Kak?" tanya Marvin sembari menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.


Ailey bahkan sudah hafal dengan pertanyaan ini. Entah sudah keberapa kalinya Marvin menanyakan hal ini padanya.


"Ayah!" jawab bocah berusia tiga tahun itu sembari mengangkat satu jari telunjuknya ke atas.


"Ini adena kakak. Kala." jawabnya dengan begitu lucu, sembari melongokkan kepalanya untuk menengok sang adik.


Marvin mengernyitkan keningnya dan tersenyum senang. Entah mengapa, hal tersebut menjadi obat lelahnya. Dia mengangkat tubuh Ailey tinggi-tinggi dan mengecup pipi gembulnya.


"Nah kalau sekarang, itu siapa Kak?" Sepasang ayah dan anak itu menatap punggung Sherina yang tengah berjalan keluar.


"Itu Ibuuu ..." jawabnya dengan akhiran yang bergitu panjang.


Marvin tersenyum lebar lalu mendekap tubuh putrinya. Padahal baru satu hari mereka bersama, tetapi putri pertamanya itu tidak menunjukkan perilaku penolakan terhadapnya dan juga Sherina.

__ADS_1


Pria itu melanjutkan kegiatannya bersama dengan kedua putrinya, membiarkan Sherina yang saat ini tengah menelepon Ivander.


"Apakah Anne sudah pamit padamu? Jangan katakan jika hal itu tidak dirinya lakukan!" ucap Sherina langsung pada intinya, setelah Ivander menerima panggilannya.


Ivander yang tiba-tiba diserbu dengan pertanyaan beruntun dari Sherina itu, sejenak terdiam. Dia baru saja menjeda rapatnya, ketika tiba-tiba Sherina meneleponnya.


"Kenapa dengan Anne? Siapa yang tidak pamit?" tanya Ivander setelah mencerna apa yang baru saja Sherina tanyakan padanya.


Sherina menghela napasnya dengan bahu yang mengendur. "Jadi benar kau tidak tahu jika Anne pulang ke Jerman, hari ini?"


Tubuh Ivander seketika membeku ketika mendengar pertanyaan Sherina. Pria itu berdiri mematung dengan tatapan kosong. Tangannya perlahan mulai mencengkeram ponselnya dengan begitu erat.


"Kapan dia berangkat!?" tanya Ivander dengan nada rendahnya, yang membuat Sherina menarik napasnya dalam-dalam.


"Sudah sejak tiga puluh menit yang lalu. Terakhir lokasinya sudah hampir tiba di bandara." jawab Sherina yang membuat Ivander menatap jam tangan mahalnya.


Jantung pria itu seketika berdetak dua kali lebih cepat. Ya, dirinya harus segera tiba di bandara bagaimana pun caranya.


"Baiklah, aku akan segera menyusul! Terima kasih." Pria itu langsung menutup panggilannya secara sepihak, lalu bergegas keluar dari ruang rapatnya.


Setelah mengatakan pada sang sekretaris untuk menunda rapatnya, Ivander segera melangkahkan kakinya untuk segera tiba di parkiran kantornya.


Ivander mencengkeram kemudinya dengan sebelah tangan yang berulang kali meninju pahanya dengan kepalan tangannya. "Kenapa denganmu?"


Ivander menjalankan mobilnya dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa khawatir yang begitu besar pada diri pria itu, entah apa itu tetapi Ivander belum mengetahuinya.

__ADS_1


Pria itu mengeratkan rahangnya kuat-kuat dan mengepalkan tangannya untuk menyalurkan amarah terpendamnya. Matanya yang mulai memerah tidak dapat membohongi, jika dirinya tidak baik-baik saja dengan kepergian Anne yang begitu mendadak ini.


"Kau pikir aku akan melepaskan mu dengan begitu saja?"


__ADS_2