
Pandangan Sherina tiba-tiba menghitam, disertai dengan dada yang terasa sangat sesak. Ailey yang melihat sang ibu mendadak kembali drop itu, dengan panik langsung keluar dari ruang rawat sang ibu untuk mencari dokter.
"Dokter! Tolong bunda saya, Dok!" teriak gadis yang sebentar lagi hendak berusia 8 tahun itu, sembari berlari menuju pintu.
Tepat saat itu juga, Ivander dan Anne baru saja tiba menyusulnya.
"Sayang. Ada apa?" tanya Anne dengan wajah bingungnya ketika melihat gadis kecil yang sudah dirinya anggap sebagai anaknya itu menangis histeris.
"Bunda bangun, Bu! Kakak salah karena langsung bicara sama bunda!" jelas Ailey dengan tergesa, yang membuat kedua orang yang ada di hadapannya terkejut.
"Benarkah?! Tunggu sebentar, biar papa panggilkan dokternya!"
"Sayang, kamu tekan bel daruratnya. Semoga mereka segera tiba!"
Setelah meminta Anne untuk membantunya juga, pria itu segera pergi ke lift dan mencari ke nurse station yang ada di satu lantai dibawah ini.
Anne kembali masuk, dan terkejut ketika melihat Sherina yang tengah kejang. Dia berulang kali menekan bel tersebut sembari terus berbisik di telinga Sherina.
"Kamu bisa, Sher. Aku dan anak-anak ada di sini. Aku mohon berjuanglah," bisik Anne ketakutan, dengan sebelah tangan yang terus mengelus rambut Sherina yang mulai basah.
Air mata wanita itu mengalir, mengingat bagaimana perjuangan Sherina dalam menghadapi semua ini. Harus kehilangan calon bayinya, meninggalkan dua putri yang masih membutuhkannya, dan suaminya. Ah ya, Marvin ... entahlah bagaimana caranya memberi tahu pada Sherina tentang semua ini.
"Bunda bangun, kakak minta maaf Bun." tangis Ailey yang tidak tahu harus melakukan apa.
__ADS_1
Tidak lama setelahnya, beberapa perawat dan seorang dokter laki-laki berjalan tergesa masuk ke dalam ruang rawat milik Sherina. Mereka tampak terkejut ketika melihat Sherina yang sudah berhasil melalui masa kritisnya.
"Mohon maaf, tapi kalian harus keluar terlebih dahulu. Dokter akan melakukan observasi terhadap Nyonya Sherina terlebih dahulu." Dengan patuh, Ivander membawa Anne dan Ailey keluar dari ruangan.
Ivander menenangkan gadis kecil yang saat ini memeluknya dengan begitu erat, dan menatap Anne yang juga tengah menetapnya dengan tatapan penuh ketakutan. Pria itu mengangkat tangannya dan mengelus pipi milik wanita, yang sudah 4 tahun ini selalu berada di sampingnya.
"Dengarkan aku, jangan takut dan jangan menangis. Kau tidak ingin bukan, Ailey akan merasakan hal yang sama ketika melihat ibunya menangis?" ucap Ivander yang membuat Anne menganggukkan kepalanya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.
Dia beralih pada Ailey yang ada di pelukan tunangannya itu, lalu mengusap air mata yang ada di kedua pipi gembul milih gadisnya.
"Dengarkan ibu. Jangan menangis, bunda akan segera pulih dan pulang bersama kita. Jadi dengarkan ibu, tarik nafasmu dalam-dalam dan bilang pada Tuhan jika semuanya akan baik-baik saja. Aiy percaya sama ibu?" Gadis itu langsung mengangguk ketika mendengar ucapan, wanita yang selama 4 tahun ini selalu merawatnya dan juga sang adik dengan begitu sabar.
"Lebih baik kita pulang terlebih dahulu, ya. Ibu yakin, Niskala sudah menunggu Aiy di rumah. Biarkan Papa yang ada di sini dan memberi kabar baik kepada kita nantinya. Mau?" tawar wanita berdarah Jerman itu yang membuat Ailey termenung sejenak.
Tentu saja. Apa yang membuat dirinya melarang gadis kecil itu untuk datang ke rumahnya. Sedangkan selama 4 tahun terakhir ini, dirinya benar-benar bahagia karena rumahnya selalu ramai dengan kedua putri Sherina yang bahkan lebih lengket padanya dan Anne daripada dengan ayahnya sendiri.
"Jangan pikirkan ayahmu terlebih dahulu. Lebih baik kita fokus pada bundamu. Setelah semuanya membaik, percayalah dengan serahkan pada Tuhan. Maka kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan," Ivander mengelus kepala milik gadis itu dengan penuh kasih sayang dan mengecupnya singkat.
"Baiklah kau pulanglah dahulu dengan Ailey. Berhati-hatilah dan kabari aku jika terjadi sesuatu pada kalian." ucap Ivander sebelum berdiri mengikuti Anne yang sudah menggandeng tangan kecil milik Ailey.
"Dengar. Jangan katakan apapun pada Marvin, sampai kondisi Sherina benar-benar baik, sesuai dengan kesepakatan kita. Kita lakukan yang terbaik untuk Sherina dan anak-anaknya," ucap Anne dengan bahasa Jerman nya, karena takut Ailey memahami apa yang dinyatakan olehnya dan langsung dianguki oleh Ivander.
"Sesuai permintaanmu, Nyonya Ivander." jawab Ivander dengan begitu lembut sebelum akhirnya mengantarkan Anna dan Ailey menuju lift dan menghilang di balik pintu besi itu.
__ADS_1
"Kali ini yang kau lawan bukan aku atau Anne, Vin. Tapi wanita yang sangat kau cintai." ucap Ivander menatap pantulan dirinya yang ada di pintu lift, dan kembali berjalan menuju ke depan ruang rawat inap milik Sherina.
****
"Tuan Ivander," panggil seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang rawat Sherina, yang membuat Ivander mengangkat kepalanya.
Pria itu segera berjalan mendekati dokter tersebut dan bertanya dengan wajah gelisah.
"Bagaimana keadaan adik saya, Dok? Apakah baik-baik saja?" tanya Ivander pada dokter tersebut, yang membuat sang dokter menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Syukurlah Nyonya Sherina sudah berhasil pulih dari komanya. Untuk saat ini, mungkin kita hanya perlu mengembalikan keadaannya hingga membaik, sebelum diperbolehkan untuk rawat jalan." ucap dokter tersebut yang membuat Ivander bernapas lega.
Pria itu menghalang nafasnya berkali-kali, seolah banyak beban yang ada di pundaknya kini mulai menguap sedikit demi sedikit.
Mengingat apa yang sudah dirinya dan Anne bicarakan, jauh-jauh hari sebelum ini, pria itu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana dan bertahan sejenak sebelum berbicara kepada dokter yang ada di hadapannya.
"Oh ya, Dok. Apakah saya bisa meminta tolong pada dokter? Ini untuk kebaikan adik saya juga," tanya Ivander dengan sopan yang membuat dokter itu langsung menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja, Pak. Boleh saya tahu apakah itu?"
"Apakah saya bisa meminta surat rujukan atau surat pemindahan untuk Sherina. Yang mana, saya meminta agar dia menjalani perawatan dengan dokter, tetapi dipindahkan ke rumah sakit yang lain. Dan ya, saya meminta bantuan kepada dokter untuk tidak memberitahukan hal ini kepada siapapun selain saya." ucap Ivander dengan tiba-tiba yang membuat dokter tersebut sedikit ragu.
"Tentu saja saya dapat melakukannya. Atas permintaan dari bapak Ivander, untuk lebih lengkapnya bapak bisa ikut saya ke kantor. Saya bisa langsung memindahkan Nyonya Sherina ke rumah sakit yang baru, di bawah pengawasan saya juga." ucap dokter tersebut yang membuat Ivander tersenyum hangat.
__ADS_1
"Baiklah, Vin. Selamat bertarung dengan pilihan yang kau ambil sendiri. Dan untuk kali ini, aku minta maaf karena aku harus ikut campur dalam masalah mu." ucap pria itu dalam hati dan dengan langkah mantapnya mengikuti dokter tersebut ke ruangannya.