
Sejak kepindahan Ivander ke depan unitnya, kini hidup Sherina tak lagi tenang dan damai seperti sebelumnya. Dia yang selama ini sudah nyaman hidup sendiri dengan tenang itu, sepertinya akan mengalami perubahan selama Ivander masih tinggal di sana.
Seperti pagi ini, Sherina yang sedang melakukan yoga, tiba-tiba menolehkan kepalanya menuju pintu saat mendengar jika bel rumahnya di tekan. Sherina bergegas membuka pintu.
Saat melihat siapa yang datang, Sherina langsung menyembunyikan tubuhnya dibalik pintu. Sementara Ivander yang melihat Sherina yang hanya mengenakan bra sport dan juga leging itu, langsung melenggang masuk sembari menggelengkan kepalanya.
"Kau sengaja ingin mengumbar tubuhmu yang seksi itu, hah? Untung saja aku yang datang, lalu bagaimana jika orang lain?" ujar Ivander segera melemparkan handuk ke tubuh Sherina.
Sherina yang melihat tingkah Ivander itu hanya bisa melongo. Bagaimana bisa pria itu dengan enteng langsung masuk ke rumahnya. Sherina segera menutupi tubuhnya dengan handuk dan mendekati Ivander.
Pria yang sudah duduk di meja makan sembari memainkan ponselnya itu, sama sekali tak menghiraukan Sherina yang berdiri di sebelahnya.
"Aku bahkan bersyukur jika yang datang bukan kau! Lagipula aku sudah biasa seperti ini, di sini normal-normal saja! Dan ya, kenapa kau datang pagi-pagi, kemari?" Sherina menatap Ivander dengan tatapan tak sukanya.
"Jika kau sudah terbiasa, lalu kenapa kau langsung bersembunyi ketika aku melihat tubuhmu itu? Tanpa kau tutupi, aku sudah lebih dulu melihat semuanya!" jawab Ivander dengan begitu santai, yang membuat Sherina membelalakkan matanya.
Dia benar-benar tak habis pikir dengan sikap Ivander ini. Apakah pria itu mengalami gagar otak atau semacamnya? Ini bukan Ivander yang dia kenal.
Sebelum Sherina kembali berbicara, Ivander lebih dahulu menyela ucapannya. "Aku lapar. Bisakah kau memasak untuk ku?" ujar ivander dengan wajah polosnya.
Sherina terdiam. Dia menatap pria yang ada di depannya dengan perasaan yang campur aduk. Dia merasa deja vu dengan semua ini.
"Kau bisa masakkan aku nasi goreng lagi? Sama seperti masakan mu malam itu." Tambah Ivander yang langsung menyadarkan Sherina.
__ADS_1
Sherina yang kembali mengingat malam itu pun langsung menggelengkan kepalanya. Dia berjalan menuju kamarnya, yang langsung menarik perhatian Sherina.
"Kau memiliki istri, lalu kenapa kau justru memintaku untuk memasak?" ucap Sherina lalu menghilang dibalik pintu berwarna putih itu.
"Nessie maksud mu? Dia memang istriku, tapi perlakuannya sangat jauh dari kata istri. Aku menganggap wanita itu sebagai investasi bodongku, selama menunggu bayi itu lahir."
Ivander menatap Sherina yang baru saja berganti pakaian dan berjalan menuju dapurnya. "Kau ingin nasi goreng?" tanya Sherina sekali lagi yang langsung diangguki oleh Ivander.
"Anggap saja kau sedang memasak untuk kakakmu. Kau bahkan lebih dianggap anak oleh kedua orang tuaku!" Sherina yang paham akan hal itu pun hanya mengangguk.
Selama Sherina memasak, Ivander menyelesaikan beberapa pekerjaannya ang dia remote dari Jerman. Sherina beberapa kali menatap Ivander yang masih fokus dengan pekerjaannya.
Senyum tipis wanita itu seketika terbit ketika melihat mantan suaminya itu. Jika dirasakan, semua rasa rindunya perlahan mulai terobati ketika melihat pria itu.
Setelahnya, Sherina kembali ke dapur untuk mengambilkan air putih serta kopi untuk dirinya dan juga Ivander.
"Lalu bagaimana dengan istrimu? Apakah hubungannya dengan papa dan mama mulai membaik?" tanya Sherina setelah duduk di hadapan Ivander.
Ivander yang baru menyuapkan beberapa sendok nasi goreng ke mulutnya itu, langsung menghentikan kegiatannya. Pria itu kembali menyalakan ponselnya.
"Jangankan membaik, papa dan mama bahkan hampir tak mengakui ku sebagai anak lagi. Dan untuk hubungan ku dengan Nessie, aku bahkan tak pernah menyentuhnya selama pernikahan."
Jawaban yang diberikan oleh Ivander itu benar-benar tak diduga oleh Sherina. Lagipula, kenapa pria itu bahkan sampai menjelaskan jika dia tak pernah menyentuh Nessie selama pernikahan mereka? Dirinya tak memerlukan informasi itu!
__ADS_1
"Kau tak menyentuhnya? Mustahil. Kau bahkan dulu sangat mencintainya," ucap Sherina tak percaya, yang langsung disuguhi ponsel milik Ivander.
Sherina menatap tak percaya pada video yang sedang Ivander perlihatkan padanya. Dia memastikan apakah wanita yang ada di video tersebut benar Nessie atau bukan.
Saking tak percayanya, Sherina bahkan sampai menatap Ivander yang justru malah asyik mengunyah makanannya. "Dia melakukan hal ini dengan orang lain? Bahkan ketika dia sedang mengandung anakmu?"
Ivander tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali makan. Sherina yang tak habis pikir dengan kelakuan gila Nessie itu pun, menyudahi video tersebut.
Dia mengembalikan tampilan ponsel Ivander ke tampilan utama. Wanita itu sempat mengernyit ketika melihat wallpaper ponsel milik mantan suaminya.
Sementara Ivander yang menyadari jika Sherina menatap wallpaper di ponselnya itu, langsung mengambil ponsel miliknya. Dia berharap jika Sherina tak menyadari siapakah yang berada di wallpaper ponselnya.
Foto itu tak lain adalah foto Sherina, yang dirinya ambil secara diam-diam beberapa tahun yang lalu.
"Lalu jika kau sudah mengetahui semuanya, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan tetap membiarkan hal itu terjadi?" tanya Sherina setelah mengembalikan kesadarannya.
Ivander merasa lega karena Sherina tak menanyakan tentang wallpaper ponselnya tadi. Pria yang sudah selesai sarapan itu, meminum air putihnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Sherina.
"Tentu saja tidak. Aku tidak akan membiarkan status istriku di injak-injak oleh wanita itu, bahkan dengan perlakukan bejatnya." Ivander menyandarkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lalu?" Entah mengapa, Sherina terbawa suasana dan melipat kedua tangannya di atas meja untuk menunggu penjelasan dari Ivander.
"Aku akan menceraikan Nessie setelah anak itu lahir. Jika bayi itu terbukti merupakan anakku, maka aku akan mengambilnya. Tetapi jika tidak, aku akan meminta Nessie untuk membanwanya pergi dan mengurusnya."
__ADS_1