Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 40


__ADS_3

Sherina menghabiskan hampir setengah harinya untuk menangis. Dia masih tak mengetahui apa yang sebenarnya Marvin rencanakan. Kenapa juga pria itu mengirimkan foto yang bahkan sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasi, orang nantinya.


Wanita yang masih bergelung di atas kasur itu, tiba-tiba menolehkan kepalanya saat ponselnya berdering.  Sherina menghela napsanya ketika tahu jika yang meneleponnya adalah Marvin.


"Ya?" tanya Sherina setelah dirinya menerima telepon dari pria itu.


"Bisakah kau membukakan pintu? Aku ada di depan," ucap Marvin langsung to the point, dan mengatakan jika dia sudah berada di depan apartemen Sherina.


Sherina yang mengetahui hal tersbeut, segera bangkit dari kasurnya. Dia mengusap wajahnya, sembari berjalan ke depan untuk membukakan pintu.


Ketika tiba di depan, Sherina terkejut melihat barang yang dibawa oleh Marvin. "Vin, apa yang kau lakukan?"


Sherina segera mengambil buket bunga yang Marvin sodorkan padanya. Wanita itu menyingkirkan tubuhnya, dan memberikan jalan pada Marvin.


Pria itu hanya mengendikkan bahunya, lalu meletakkan beberapa paper bag yang dia bawa ke atas meja. Sherina langsung menutup pintunya kembali, dan menyusul Marvin.


Sherina berhenti tepat di hadapan Marvin yang tengah melepaskan topi hitamnya. Wanita itu mendongakkan kepalanya, dan menatap wajah Marvin.


"Kenapa kau repot-repot membawa ini semua?" Marvin yang mendengar pertanyaan dari Sherina itu, menundukkan kepalanya, dan menatap kedua netra Sherina.

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak repot, Sayang. Kenapa kau berpikir seperti itu, hm?" jawab Marvin dengan begitu tenangnya, sembari mengelus puncak kepala wanita itu.


Sherina hanya menghela napasnya, saat Marvin memperlakukannya dengan begitu hangat. Jujur saja dia sedikit terkejut, baru saat ini dirinya diperlakukan dengan begitu manis oleh seseorang.


"Apakah buket itu tidak berat? Tubuhmu bahkan salah besarnya dengan buket itu," ucap Marvin dengan candaan yang membuat Sherina tertawa tipis.


"Sebentar, aku akan meletakkan ini di sana." Sherina berjalan menuju meja yang ada di sebelah jendela balkon. Marvin yang melihat hal itu, langsung mengambil ponselnya.


Dia mengarahkan kameranya ke Sherina dan tersenyum saat berhasil mengambil beberapa bidikan. "Sher?" panggil Marvin yang membuat Sherina menolehkan kepalanya ke belakang.


Tepat saat Sherina menolehkan kepalanya ke belakang, Marvin kembali mengambil potretnya. Sherina terkejut dengan apa yang Marvin lakukan. Pria itu justru tersenyum manis ketika melihat hasil potretannya.


Dia tersenyum tipis saat mengetahui Marvin mengambil potretnya dengan diam-diam. Dari ekspresi pria itu, Sherina melihat sebuah ketulusan dari senyum yang Marvin tunjukkan saat melihat potretnya.


"Kau menyukainya?" tanya Sherina yang langsung membuat Marvin mengalihkan atensinya ke wanitanya.


"Ya, aku menyukainya. Aku menyukai semua hal tentangmu." Marvin mengelus puncak kepala Sherina, lalu membawa Sherina dalam pelukannya.


"Aku tahu, mungkin penilaianmu terhadapku sudah buruk. Caraku agar kau bisa kembali padaku, aku akui memang salah. Tapi aku bersyukur, karena itu membuatmu sekarang ada bersamaku,"

__ADS_1


Sherina yang tenggelam di balik dada bidang pria itu hanya terdiam. Dia memang tahu apa yang Marvin lakukan kemarin, benar-benar bisa membuatnya trauma.


"Kau pasti belum mandi dan makan, bukan? Mandilah, aku sudah membawakan makanan untukmu," ucap Marvin lalu segera melepas pelukannya.


Pria itu meminta Sherina untuk mandi. Sherina yang memang belum sempat untuk membersihkan dirinya sejak pagi tadi, memutuskan untuk menuruti apa yang dikatakan oleh Marvin.


Wanita itu meninggalkan Marvin di luar dan masuk ke dalam kamarnya.


Sementara Marvin, pria itu mengeluarkan rokok dari dalam sakunya dan menyulutnya dengan korek apinya. Dengan begitu telatennya, pria yang tengah merokok itu, mengeluarkan makanan yang sudah dia beli tadi, dan dia tata di meja makan.


Setelah selesai, pria itu berjalan ke balkon untuk menghabiskan rokoknya. Pria itu menyandarkan tubuhnya di pembatas balkon dengan mulut yang terus mengepulkan asap.


Pikiran pria itu mulai penuh akhir-akhir ini. Selain karena dia yang memikirkan strategi untuk mengembangkan usahanya lagi, Sherina juga turut menyumbang beban di pikirannya.


Kemarin dia bisa dengan begitu percaya dirinya, langsung mengambil Sherina. Tapi dia tak tahu jika ternyata dia masih menjadi istri dari Ivander.


Ucapan yang dikatakan oleh kakaknya benar, masih banyak gadis atau perempuan lain yang masih single. Tapi kenapa dia justru mempersulit dirinya sendiri karena tetap memilih Sherina.


Terkadang dia sampai bingung, mengapa dia bisa se-obses ini pada Sherina.

__ADS_1


__ADS_2