
Ivander yang sudah menghabiskan satu harinya di dalam rumah itu, akhirnya tahu apa yang harus dia putuskan. Dengan cepat dia bangkit dan hendak keluar dari rumahnya.
Saat tiba di depan pintu, Nessie yang baru saja tiba di rumah tersebut merasa terkejut. Mengapa suaminya tidak ke kantor?
"Sayang. Kenapa kau tidak pergi ke kantor?" Nessie yang beberapa minggu lagi sudah lahiran itu, memegang pundak suaminya.
"Kenapa kau pulang? Tidak menginap saja, di rumah kekasihmu!?" Dengan wajah sengitnya, Ivander menatap risih pada Nessie.
Nessie terkejut dengan ucapan suaminya. Dia menggelengkan kepalanya dan menggenggam tangan suaminya dengan lembut.
"Aku sudah bilang, aku bisa menjelaskan semuanya padamu. Tapi apa? Kau selalu menghindari topik ini. Ayolah, Sayang." Nessie tahu apa yang dia lakukan ini salah, tapi bagaimana lagi, kekasihnya begitu menyebalkan.
"Aku tidak membutuhkan penjelasan sampah darimu itu. Aku hanya minta agar kau tetap di rumah, sebelum hari kelahiran anakku tiba."
Ivander yang sibuk membuang waktunya untuk berbicara dengan Nessie itu, melewatkan Sheirna yang diam-diam sudah membawa semua keperluannya untuk meninggalkan apartemen.
"Aku tahu kau khawatir padaku, Sayang. Baiklah, aku akan tetap di rumah sampai bayi kita lahir." Senyum wanita itu merekah saat mendengar jawaban Ivander.
"Jangan terlalu percaya diri! Aku takut kau mengalami kecelakaan atau apapun itu, dan membuat anakku ikut mati bersamamu!" Wajah Nessie setrika berubah menjadi masam saat Ivander mengatakan hal tersebut.
Setelahnya, pria itu keluar dari rumahnya dan menutup pintunya. Dia berjalan menuju unit milik Sherina dan membukanya dengan begitu mudah.
"Sherina?" Pria itu melangkah masuk dan berinisiatif untuk segera masuk ke dalam kamar Sherina.
Tapi ketika tiba di kamar wanita itu, Ivander mengernyit karena tak menjumpai keberadaannya. "Dimana, dia?"
Ivander beralih ke ruangan yang lain sambil terus memanggil nama Sherina. "Sayang?!" Panggil Ivander dengan nada yang mulai panik.
Dia mencai di mana keberadaan Sherina dengan kalang kabut. Bukankah tadi istrinya itu masih berada di rumah? Lalu mengapa sekarang Sherina sudah tidak berada di apartemennya?
__ADS_1
"S*hit!" Umpat pria itu lalu segera membuka almari milik wanita itu.
Ivander meninju pintu almari milik Sherina ketika tak menjumpai satupun pakaian milik istrinya, di dalam sana. Dia kecolongan!
Dengan cepat pria itu hendak keluar dari apartemen Sherina, berniat untuk mengejar istrinya tersebut. Tapi ketika tiba di depan pintu, Ivander menghentikan langkahnya ketika melihat keberadaan dari pria yang telah menghamili istrinya.
Tatapan mata Ivander kini langsung menusuk Marvin yang baru saja tiba. Marvin pun terkejut, bagaimana bisa Ivander memasuki rumah Sherina dengan begitu leluasa.
"Apa yang kau lakukan di dalam rumah Sherina?" Dengan anda beratnya pria itu bertanya pada Ivander.
Sementara Ivander, pria itu tersenyum miring dengan tatapan penuh dendam pada pria berkemeja putih itu. Tangannya bahkan sudah mengepal, siap untuk memukul wajah berahang tegas milik Marvin.
"Ternyata ini, pria baj*ingan yang sudah merenggut mahkota milik istri dari pria lain? Murahan sekali!" Ivander tertawa remeh sambil menatap tajam pria di hadapannya.
Marvin tak mengelak. Memang benar apa yang dikatakan oleh Ivander. Dia mengambil keperawanan milik istri dari pria lain. Dia tahu letak kesalahannya di mana, maka dari itu dia sama sekali tidak menyangkal.
Tanpa aba-aba, Ivander langsung memukul rahang milik pria itu, hingga membuat kepala Marvin menoleh. Pria itu menahan rasa sakit yang begitu besar saat mendapat pukulan dari Ivander.
Tak hanya sampai di sana, Ivander terus melakukan tinjuannya di wajah dan perut Marvin. Marvin sama sekali tak menahan pukulan itu atau melakukan semacam pembelaan untuk dirinya.
Ivander terus memukulnya dengan membabi buta, seolah dirinya tengah berusaha membuat Marvin agar mati di tangannya. "Kau pria biadab! Aku tak akan pernah mengizinkanmu menyentuh istriku lagi!"
Marvin yang tubuhnya sudah lemah karena tendangan yang Ivander berikan di perutnya, serta darah yang sudah mengalir dari hidungnya itu, mulai berharap agar Ivander menghentikan pukulannya.
"Sher," lirih pria itu dengan penuh kesakitan sembari menarik tubunya, saat Ivander menghentikan pukulannya.
Pria itu berusaha menggapai daun pintu dari rumah Sherina, untuk bangun. Tapi dengan cepat, Ivander langsung berjongkok di hadapan Marvin, dan mencengkeram kerah kemeja Marvin.
"Jangan temui istriku dan anak haram pemberianmu itu lagi! Aku tidak akan pernah sudi untuk mertemukanmu dengan anak sialan itu, setelah ini!"
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut, Ivander menunggalkan Marvin dan langsung masuk ke dalam rumahnya.
Sementara Marvin, pria itu terkejut saat mendengar penuturan dari Ivander. Tubuhnya yang sejak tadi merasa kesakitan itu, kini menegang. Nafas pria itu bahkan tercekat saat otaknya mulai mencerna ucapan Ivander.
"Anak sialan? Pemberianku?" Dada pria itu seketika merasa sesak ketika menyadari semuanya.
Sherina mengandung benihnya? Apakah setelah malam itu, dirinya menghadirkan makhluk baru di dalam tubuh Sherina?
Dengan cepat Marvin langsung masuk ke dalam rumah Sherina. Pria itu menemukan rumah milik wanita yang dia cintai kosong begitu saja.
Dia berkeliling ke dalam dan mencari dimana keberadaan Sherina. Tapi, nihil dia tak juga menemukan keberadaan Sherina.
"Maafkan aku, Sayang." Marvin menghela napasnya sambil menundukkan kepalanya.
Tatapan pria itu kini tertuju pada benda yang sejak pagi tadi menjadi ketakutan bagi Sherina. Perlahan, pria itu mengambil testpack milik Sherina yang terjatuh dengan sebelah tangannya.
Tangannya bergetar saat melihat dua garis merah di alat tersebut, dengan keterangan 2 weeks di bawahnya. Seketika Marvin menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan perasaan haru yang begitu besar.
"Kau sedang mengandung, Sher? Entah aku harus berbahagia atau bersedih untuk hal ini." Marvin memejamkan matanya sambil menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan, serta sikunya yang berada di paha.
Dia membuka matanya dan kembali menatap benda itu. Dia senang, karena akhirnya dia akan segera memiliki bayi bersama dengan wanita yang benar-benar dia cintai.
Tapi dia tidak bisa memungkiri, jika dia pun ketakutan jika ternyata Sherina tidak menerima bayinya. Dia menggunakan cara yang salah untuk hal itu.
"Aku akan berjuang untuk kita, Sayang. Ya, aku akan mengambilmu dari Ivander."
Setelah mengatakan hal itu, dia berjalan keluar dari rumah Sherina dengan testpack berhasil positif milik wanitanya. Tak lupa dia menutup pintu rumah Sherina dan bergegas untuk mencari keberadaan Sherina.
"Kerahkan semua anggota yang kita miliki, untuk mencari istriku! Sebelum pagi datang, aku ingin kau mengatakan dimana keberadaannya. Jangan lupa, cek semua rekam jejak cctv yang ada di seluruh kota!"
__ADS_1