Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 47


__ADS_3

Ibu hamil itu mencoba menyusul Ivander yang sudah hilang dibalik tembok koridor. Setelah berbelok, wanita itu tiba-tiba terhenti saat melihat Ivander yang terduduk di batas tangga.


Yang membuat wanita itu terkejut bukanlah karena keadaan sang suami yang begitu memprihatinkan. Tapi karena pria yang berdiri tepat disamping suaminya.


"Ken?! Apa yang kau lakukan disini?!" Dengan cepat wanita itu langsung mendekat pada pria berambut keriting itu.


Sementara pria yang diajak berbicara dengan Nessie itu, hanya tersenyum penuh arti sambil menunggu kedatangan sang kekasih. Dengan begitu rindunya, pria itu langsung mendekap tubuh Nessie.


"Apakah kau tak merindukanku?" Nessie yang tiba-tiba dipeluk oleh sang kekasih itu, dengan cepat langsung melepaskannya.


Bagaimana bisa dengan percaya dirinya, pria itu langsung memeluknya di hadapan banyak orang. Meskipun tak ada yang melihat mereka berdua, tapi Nessie takut jika ada orang yang melihat mereka.


"Apakah kau sudah gila?! Cepat ikuti aku!" Nessie dengan perasaan campur aduknya itu langsung membawa kekasihnya pergi dari hadapan Ivander.


Samar-samar, pria itu melihat interaksi yang terjadi antara Nessie dan pria tadi. Ivander tertawa ironis, sambil membenturkan kepalanya di tembok.


"Kau lihat, bahkan wanita yang dulu kau agung-agungkan kini mengkhianatimu. Lalu kenapa dengan begitu bodohnya kau melepaskan wanita seperti Sherina?!" Air mata pria itu kembali menetes.


Jika dirinya bisa jujur, saat ini dirinya begitu menyesal. Bagaimana bisa dengan bodohnya dia menyia-nyiakan wanita sebaik dan sesempurna Sherina.


"Tidak! Dia adalah istrimu! Kaulah yang berhak!" Ivander menyeka air matanya, dan mencoba sekuat tenaganya untuk bangun.


Bagaikan direstui oleh semesta, Sherina tiba-tiba lewat diujung koridor, sepertinya wanita itu akan ke toilet. Ivander yang melihat hal tersebut, dengan tertatih segera menyusul Sherina.


Meskipun berulang kali tubuhnya terhuyung hendak terjatuh, Ivander tetap berusaha agar dirinya segera tiba di toilet.


Sementara Sherina, wanita yang memutuskan untuk memilih toilet atas adalah karena penuh dan antre. Jadi wanita itu memutuskan untuk naik sendiri. Walaupun pada awalnya Marvin menawarkan untuk mengantarnya, tetapi Sherina tetap kukuh pada pendiriannya.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan urusannya di dalam kamar mandi, Sherina pun hendak keluar dari toilet tersebut. Tapi betapa terkejutnya Sherina, pada saat dirinya membuka pintu, tiba-tiba dia dikejutkan dengan keberadaan Ivander.


"Ivander?" ucap Sherina dengan begitu kagetnya, yang membuat pria itu lansgung mentapnya.


Ivander yang tahu jika Sherina sudah membuka pintunya itu, dengan cepat langsung mendekat. Tapi karena kesadarannya yang sudah setengahnya hilang, membuat tubuh pria itu limbung. Dengan cepat Sherina langsung menangkap tubuh kekar milik pria itu agar tidak terjatuh.


Sherina berusaha dengan kuat agar tubuh keduanya tak jatuh di lantai. Tapi betapa kagetnya Sherina ketika mendengar tangisan Ivander. Ivander menangis di bahu Sherina dengan begitu pilunya.


"Maafkan aku, Rin. Aku benar-benar menyesal. Aku mohon kembalilah padaku, aku mencintaimu." Disela tangisannya, pria itu berucap pada Sherina.


Sherina tak menjawab. Dia hanya mendengarkan apa yang pria mabuk ini katakan padanya. Sherina bahkan baru kali ini mendengar suara tangisan dari pria ini.


"Aku menyesal karena memilih berselingkuh dengan Nessie, Rin. Aku menyesal! Aku mohon agar kau kembali padaku lagi. Aku minta padamu, Rin!" Ivander mencoba menatap wanita itu.


Dia mencoba menjauhkan tubuhnya dari Sherina dan ingin mendengar jawaban dari istrinya tersebut. "Van, kau sedang mabuk. Tidak seharusnya juga kau masuk ke toilet wanita. Biar kubantu kau keluar."


"Ikut aku pulang ya, Rin. Papa dan mama selalu menunggumu pulang. Mereka membutuhkanmu, aku pun membutuhkanmu. Aku mohon," pinta Ivander lagi saat Sherina tiba di hadapannya.


"Tidak bisa. Kita sudah masing-masing, Van. Lebih baik kita mencoba menjaga jarak, demi kebaikan kita juga. Lagipula kau sudah punya Nessie, dan aku pun sudah memiliki Marvin. Jadi ..."


Belum sempat Sherina menyelesaikan ucapannya, pria itu tiba-tiba memukulnya dengan amarah yang sudah memuncak.


"Bren*gsek! Apa kau bilang?! Kau lebih memilih pria sia*lan itu daripada aku!? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" Sherina yang jatuh tersungkur di lantai itu, seketika ketakutan ketika melihat Ivander mendekat padanya.


Wanita itu mencoba memundurkan tubuhnya dengan panik, sembari melindungi tubuhnya. Ivander yang melihatnya itu, dengan cepat langsung memojokkan Sherina diujung toilet.


"Jangan bersikap sok mahal di hadapanku! Bagiku kau hanya ******* murah yang mengobral tubuhmu dengan pria lain!"" Ivander mencengkeram rahang Sherina, yang membuat sang empu mulai menangis.

__ADS_1


"Sadar Van! Tolong lepaskan aku!" Sherina mencoba memukul tubuh Ivander dan berharap Ivander segera tersadar.


"Kau ingin aku melepaskanmu? Mudah! Layani dan puaskan aku terlebih dahulu!" Ucap Ivander sembari memajukan wajahnya.


Sherina yang mendengar ucapan Ivander itu, seketika merasa begitu hancur. Sebegitu tak berharganya kah dirinya dimata Ivander?


Dengan penuh keberanian, Sherina menampar Ivander. Wanita itu mendorong tubuh Ivander dengan kuat hingga pria itu mundur beberapa langkah darinya.


"Dasar laki-laki bedebah! Aku membencimu! Aku tidak akan sudi menemui pria baj*ingan sepertimu lagi!"


Dengan cepat Sherina mencoba membuka pintu toilet. Ivander yang melihat hal tersebut, dengan begitu mudahnya langsung menggapai tubuh kecil Sherina.


Dengan sekali tarikan, Sherina kini kembali disudutkan oleh Ivander. Wanita itu sudah menangis dengan penuh ketakutan. Sherina bahkan langsung berteriak, berharap bahwa akan ada yang menolongnya.


"Diam!" Bentak Ivander dengan amarahnya, dan langsung menutup mulut Sherina dengan telapak tangannya.


Entah dirasuki oleh apa itu, Ivander langsung membuka paksa dress yang dikenakan oleh Sherina dengan sebelah tangannya.


Sherina yang tangannya masih terbebas itu, mencoba menahan gerakan kasar dari tangan Ivander yang mencoba membuka pakaiannya.


Tapi nyatanya, usahanya sia-sia. Ivander masih terus berusaha hingga akhirnya dress pemberian Marvin itu, kini mulai terbuka bagian atasnya.


"Kenapa kau melawan, hah? Kau juga melakukan hal ini untuk pria itu, bukan? Maka sekarang, puaskan suamimu ini!" Ivander terus membentak Sherina, yang bahkan kini sudah mulai menyerah dengan takdirnya.


Meskipun begitu, Sherina tak kehabisa akal. Dia menggigit tangan milik pria itu, dan mencoba untuk pergi.


"Kenapa kau berubah menjadi wanita pembangkang, hah?! Aku ini suamimu! Dengarkan apa yang aku katakan!"

__ADS_1


__ADS_2