
Marvin yang saat ini tertidur dengan Sherina yang berada di dekapannya itu, alisnya mulai mengerut ketika mendengar suara tangis putri kecilnya. Perlahan dia mulai membuka matanya, dan melihat ke samping di mana putrinya berada.
"Sayang ..." Ucap Marvin dengan nada seraknya, mencoba menenangkan sang putri agar tidak menangis.
Pria tersebut mencoba menurunkan kepala istrinya dari lengannya, dan bangun dari posisinya. Pria itu mencoba menggeserkan kakinya ke ujung ranjang, dan seketika terkejut ketika tak lagi merasakan nyeri di kakinya.
"Apakah ini benar? Eh," ujarnya pada diri sendiri dengan tak percaya, lalu membawa tangannya untuk memijat perlahan kakinya.
Pria itu menghela napasnya dengan begitu lega, ketika setelah menyadari jika kakinya mulai berangsur pulih. Dia mencoba mengangkat tubuhnya, meskipun dengan kedua tangan yang dirinya letakkan di pembatas ranjang milik putrinya.
"Sayang, lihatlah. Ayah akan segera sembuh. Apakah kau senang?" Marvin menundukkan kepalanya dan mengelus pipi menggemaskan milik putrinya dengan Sherina.
__ADS_1
Tangis gadis kecil itu perlahan mulai berangsur mereda. Dia memejamkan matanya sembari beberapa kali menguap. Hal itu tampak sangat menyenangkan untuk Marvin. Pria itu tidak seketika langsung menumpukan semua bobot tubuhnya di kakinya. Tubuhnya masih berusaha bersandar di ranjang Niskala.
"Kau mengantuk, Sayang? Hmm, tidurlah. Ayah akan membawamu ke ibu." Marvin mencoba mengetes kekuatan kakinya, dan setelah merasa jika dirinya mampu, dia segera mengangkat tubuh kecil milik putri cantiknya.
"Kenapa kau sangat cantik sekali, Sayang. Kau sangat mirip dengan ibu," ucapnya disela kecupannya di wajah mengantuk sang putri.
Marvin bahkan tersenyum lebar ketika melihat tangan kecil putrinya mengusap matanya yang terpejam. Dia membawa Niskala ke atas ranjang, dan menidurkannya tepat di lengan sang ibu.
Hal itu sontak membuat Sherina terbangun dari tidurnya. "Apakah dia menangis? Kenapa tidak membangunkan ku?"
"Kau sudah terlalu lelah, Sayang. Lagipula, lihatlah. Putri kita kembali tertidur dengan begitu nyenyak." Marvin mengelus kening istrinya, dan mengecupnya perlahan.
__ADS_1
Sherina menganggukkan kepalanya, dan membuat nyaman posisi tidurnya. Dia memeluk putri kecilnya yang bahkan masih berusia 3 bulan, ini. Jika ditanya apakah kebahagiaannya sudah lengkap atau belum, tentu saja jawabannya belum.
Sherina merasa jika dirinya masih memiliki hutang, yang belum dirinya lunasi. Dia hanya menunggu jadwal suaminya agar bersedia menjemput putri pertamanya.
"Besok kita datang ke rumah sakit karena aku sudah bisa berjalan perlahan, dan jemput kakak Niskala. Aku tidak akan menunda keinginanmu lagi." Dengan begitu enteng Marvin berkata hal tersebut.
Sherina yang terkejut dengan cepat langsung menegakkan kepalanya, dan menatap tak percaya pada pria yang tengah menantapnya dengan begitu tajam tersebut.
"Sudah bisa berjalan? Apakah itu benar?" Sherina mengulangi apa yang baru saja suaminya katakan.
Marvin tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum hangat. Seketika Sherina benar-benar benar merasa bersyukur setelah mendengar ucapan sang suami.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan pergi ke rumah sakit besok. Sungguh aku akan sangat tidak sabar, untuk mengetahui bagaimana kondisimu, dan bertemu dengan putri kecilku yang lain." Sherina menerawang dan entah mengapa dirinya sangat berbahagia atas penjemputan Ailey.
"Aku berjanji tidak akan membedakannya dengan Niskala. Mereka sama-sama putrimu, itu artinya juga sama-sama putriku. Bantu aku ya, Sayang? Ingatkan aku jika aku menjadi ibu yang buruk untuk mereka berdua."