
Teriakan Sherina berhasil membangunkan pria yang berhasil membuat dirinya dan Marvin kembali salah paham. Pria berambut silver itu, berdiri di ambang pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana.
"Clarie, kenapa kau berteriak Sayang?" Sambil mencoba menahan kesadarannya, pria itu menatap lamat-lamat tubuh Sherina dari belakang.
"Aku bukan Clarie-mu! Aku Sherina, ini rumahku!" Sherina yang benar-benar marah dengan pria asing tersebut yang entah datang dari mana, menolehkan kepalanya ke belakang.
"Siapa kau!? Kenapa kau bisa berada di dalam kamarku!?" Teriak Sherina menuntut, yang mau tak mau membuat pria tersebut langsung tersadar.
"Sherina?! Rumah mu?!" Tatapan kaget pria itu langsung tertuju pada Sherina.
Pria itu terbelalak saat tahu jika wanita itu bukanlah Clarie, kekasihnya. Dengan cepat dia langsung mengedarkan pandangannya dan benar, itu masih rumah kedua orang tuanya.
"Astaga! Jadi benar rumah ini sudah dijual?! Sial! Maafkan aku!" Pria itu segera mendekat dan meminta maaf pada Sherina.
Dia terkejut saat melihat Sherina yang terjatuh. Tangan kekar pria itu langsung membantu Sherina untuk berdiri.
"Kenapa kau berteriak? Dan bahasa apa yang kau gunakan, tadi? Lalu kenapa kau berada di luar?" Pria yang ternyata sangat baik itu, kalut saat melihat Sherina yang wajahnya mulai sembab.
__ADS_1
"Dia calon suamiku. Dia tiba-tiba datang dan melihat kau yang sudah berada di atas ranjang bersamaku. Terjadi kesalahpahaman setelahnya." Sherina menelan ludahnya dengan susah sambil menghembuskan napasnya.
Tatapan wanita itu benar-benar kosong. Dia tidak tahu lagi harus melakukan apa. "Astaga, maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu jika rumah ini sudah terjual. Aku memiliki kunci cadangannya, jadi aku bisa masuk ke dalam. Aku benar-benar minta maaf."
Sherina tersadar, ya, sejak kepindahannya kemari, dirinya memang belum sempat mengganti kunci pintunya. Benar, semua menjadi masuk akal sekarang.
"Lalu kemana calon suamimu itu akan pergi?" Pria itu bertanya lagi sambil menatap wajah Sherina. Tatapannya juga berpindah ke perut besar Sherina.
Dia menggelengkan kepalanya dengan bingung, "entahlah. Aku tidak tahu akan kemana dia. Hubungan kami sudah selesai."
Sherina sempat ragu. Dia menatap pria itu, sambil berpikir. Haruskah dia mengejar Marvin lalu menjelaskan semuanya? Tapi jika mengingat masalah yang kemarin, dirinya rasa semua akan sia-sia.
"Sepertinya akan sia-sia." Sherina berkata dengan putus asa.
"Tidak akan ada yang sia-sia! Kau yang harus berjuang untuk hubungan kalian! Percayalah, jika memang dia mencintaimu, dia akan mempercayaimu! Aku akan membantumu!"
Lama Sherina terdiam, dia langsung mengangguk mantap. Dirinya bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan Marvin. Tidak ada yang terlambat! Dirinya tahu jika Marvin hanya mencintainya. Ya, Sherina yakin itu!
__ADS_1
Sherina segera masuk dan mengambil mantelnya. Dia berjalan menuju mobil pria tersebut, dan segera mereka pergi.
"Apakah kau tahu di mana rumah calon suamimu?" Tanya pria itu lagi yang langsung diangguki oleh Sherina.
Mobil tersebut melesat dengan sangat cepat membelah jalanan. Waktu tengah malam ini benar-benar memudahkan keduanya hingga akhirnya tiba di kediaman Marvin dengan sangat cepat.
Setelah tiba, Sherina bergegas turun dan membuka pintunya. Dia mencari di mana keberadaan Marvin sambil terus memanggil namanya. "Marvin!"
Suara panggilan Sherina itu berhasil membuat seorang wanita yang baru saja membereskan dapur, berjalan keluar. "Nyonya datang?"
Sherina yang mendengar suara bibi Marvin itu segera menoleh. Dia berjalan mendekati enaita berwajah Asia kental itu, dan memegang kedua tangannya.
"Bu, Marvin di mana? Dia sudah pulang kemari, 'kan?" Dengan nada paniknya Sherina bertanya pada wanita tua itu.
Tatapan wanita tersebut mendadak menjadi bingung. Alisnya yang mengerut dan tangannya yang mengendur itu, berhasil membuat Sherina semakin ketakutan.
"Tuan Marvin sudah berkemas dan pergi ke bandara, Nyonya." Sherina langsung melemas saat mendengar penuturan sang bibi.
__ADS_1