Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 89


__ADS_3

Marvin tidak tahu lagi harus mengatakan apa untuk menjawab ucapan istrinya. Dia mengulurkan tangannya, dan menggenggam hangat tangan kecil milik Sherina.


"Tolong jangan percaya, Sher. Mungkin saja dia hanya menjebak kita. Ada yang tidak menyukai hubungan kita, mungkin." Marvin masih tidak legowo menerima kenyataan jika dirinya memiliki anak dari perempuan selain istrinya.


"Siapa yang akan melakukannya? Ivander? Nessie? Atau malah Alissa, mantan asisten mu dahulu? Tidak mungkin mereka, bukan?" jawab Sherina dengan alis yang mengerut.


Marvin terdiam mendengar ucapan istrinya. Dari semua yang disebutkan, kenapa ada satu nama yang bahkan hampir dirinya lupakan?


"Alissa? Apa hubungan semua ini dengannya? Dari mana kau mengenalnya?" tuntut Marvin yang membuat Sherina tersenyum sakit.


"Kau mengingatnya?" Senyum manis dibibir wanita itu semakin mengembang.


Tatapan penuh luka itu, mulai teralihkan, berbarengan dengan hati yang tersayat perih.


"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya, percayalah. Aku bahkan tidak pernah menganggap dirinya lebih dari asistenku. Kami tidak pernah mempunyai perasaan yang lebih-"


"Tapi dia punya, Vin. Dia menyukaimu. Dia menginginkanmu." sergah Sherina yang langsung menatap kedua mata suaminya.


Tubuhnya kembali bergetar dengan begitu hebat. Dia meraih tangan suaminya, dan digenggamnya dengan begitu kencang.


"Malam dimana dia merelakan tubuhnya untuk membantumu, merupakan salah satu bukti jika dia memiliki perasaan padamu, Vin. Satu malam itu, akhirnya menghasilkan seorang anak tak berdosa, yang sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh ayah kandungnya."


Sherina menjelaskan dengan begitu menggebu. Laki-laki itu menegang seketika. Malam itu? Apakah yang istrinya maksud adalah malam dimana dirinya dijebak oleh rekan bisnisnya?


"Sayang," lirih Marvin yang hendak bertanya lebih lengkap lagi pada Sherina.


Tapi seolah tidak ingin memperpanjang topik tersebut, Sherina segera menghapus air matanya, dan menghela napasnya dengan sedikit kasar.


"Ini sudah terlalu jauh untuk membicarakannya. Istirahatlah, dahulu. Aku akan menyalakan kamera pengawas di kamar Niskala."


Tanpa menatap kedua mata Marvin, wanita itu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar tamu. Dia berjalan naik ke kamar putrinya, melakukan apa yang tadi dirinya katakan pada Marvin.


Sementara Marvin, pria itu masih syok berat setelah menerima kabar ini. Dia dengan cepat langsung mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang yang sudah lama menjadi tangan kanannya.


"Aku minta padamu untuk menyelidiki apa yang terjadi pada istriku, sebelum keberangkatan kita ke luar negeri. Dan juga, berikan aku informasi tentang kehidupan Alissa, mantan asistenku yang pertama. Aku minta sebelum malam ini agar kau sudah mengirimkannya."

__ADS_1


Setelah mengatakan semua yang dirinya butuhkan, Marvin memutus panggilannya. Dia melemparkan ponselnya dengan begitu saja ke kasur. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang, lalu memejamkan matanya.


Entah kenapa banyak sekali masalah yang mampir di kehidupannya, setelah berniat untuk selalu bersama Sherina. Dia menghela napasnya panjang, sambil mengendurkan bahunya.


Sementara di rumah yang ada tepat di seberang sana, Anne yang baru saja keluar dari kamar Kanwa, seketika menghentikan langkanya. Dia menolehkan kepalanya dan melihat pintu di rumah tersebut.


"Ada apa?" tanya Ivander, sebelum masuk ke kamar putranya.


"Sepertinya ada tamu. Aku akan menemuinya." Ivander menatap wanita berambut sebahu, yang saat ini tengah berjalan menuju ruang tamu.


Ivander tidak mengekor, dia memilih masuk dan melihat sang putra yang masih terlelap. Seminggu ini dirinya benar-benar jarang menghabiskan waktu dengan putranya.


Seharusnya bukan sebuah tabu, bagi seorang Ivander untuk tidak dekat dengan anaknya. Tapi setelah beberapa hari bersama dengan Anne, dirinya mengetahui apa itu ikatan batin antara anak dan orang tuanya.


"Papa merindukan mu, jagoan." Ivander merebahkan tubuhnya di tepi ranjang, dan mengecup kening anaknya.


Sedangkan Anne, dirinya dikejutkan ketika melihat siapa yang ada di depan pintu. Tatapan kedua wanita itu bertemu satu sama lain, untuk beberapa saat.


"Apakah suamiku ada?" tanya wanita dengan wajah pucat itu, pada Anne yang masih terdiam.


Sesaat setelah duduk di ruang tamu, wanita itu menghirup napasnya dalam-dalam dan tersenyum kaku pada Anne. "Apakah aku bisa menemui suamiku?"


Lagi-lagi Anne yang sejak tadi mengamati wajah Nessie itu, sedikit tersentak. Dia yang duduk di seberang Nessie itu, tersenyum sejenak.


"Tentu saja. Saya akan memanggilkannya untuk Nyonya," jawab Anne dengan begitu ramah, dan hendak berdiri dari duduknya.


Tapi belum jadi Anne berdiri, tiba-tiba Nessie memberikan pertanyaan yang sedikit mengejutkan Anne. "Apa hubunganmu dengan Ivander?"


Anne terdiam sejenak. Dia menetralkan ekspresi wajahnya, dan tersenyum kembali pada Nessie yang menatapnya dengan tatapan yang sedikit kurang bersahabat.


"Saya pengasuh Tuan Kanwa, Nyonya. Kebetulan saya sudah menjadi ibu, sehingga saya bisa menjadi ibu susu untuk Kanwa. Tidak ada hubungan apapun antara saya dan Tuan Ivander."


Nessie tidak berekspresi. Dia menatap wajah cantik milik Anne untuk beberapa saat. "Terimakasih sudah menjaga putraku. Aku berhutang banyak padamu,"


Nessie menahan air matanya ketika mengingat putra yang sengaja dipisah dengannya. Sementara Anne, dia hanya mengangguk dan tersenyum hangat atas ucapan tulus dari wanita yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Itu sudah menjadi tugas saya, Nyonya. Saya paham benar dengan apa yang Nyonya rasakan untuk saat ini. Jujur saja, saya merasa senang melihat Nyonya datang kemari."


Nessie menundukkan kepalanya dan meremat jemari tangannya. Setelah merasa cukup berani untuk menghadapi suaminya, dengan cepat dia langsung mendongakkan kepalanya.


"Boleh kau panggilkan suamiku, sekarang?" pinta Nessie yang langsung dianggukki oleh Anne.


Wanita itu izin pamit dan pergi ke kamar Kanwa. Dia melihat Ivander yang tengah memejamkan matanya sembari menciumi tangan kecil milik putranya.


"Ivander, bangunlah. Ada tamu untukmu." Anne memanggil Ivander, yang tidak langsung membuat pria itu membuka matanya.


Anne menghela napasnya, dan mencoba menyenggol lengan milik pria berkaos putih itu. "Nessie sudah menunggumu."


Mendengar nama yang baru saja Anne katakan, dengan cepat Ivander pun langsung membuka kedua matanya. Dia mengernyitkan keningnya dan segera bangkit dari posisinya.


"Apa yang dia inginkan? Kenapa tidak memberitahuku terlebih dahulu?" tanya Ivander yang dirinya tujukan untuk dirinya sendiri.


Anne menatap Ivander yang langsung berdiri dan hendak melangkah keluar. Tapi, dengan tiba-tiba dia langsung menghentikan niatnya.


"Kau di sini, saja. Jangan pernah keluar!" titah Ivander sebelum keluar dari kamar putranya.


Anne menurut, dia sama sekali tidak keluar dari kamar Kanwa. Sementara itu, Ivander berjalan keluar, dan langkahnya seketika terhenti, ketika melihat wajah teduh milik Nessie.


Wanita itu tidak langsung menyapanya dengan begitu ekspresif. Dia hanya memberikan seutas senyum yang begitu tipis untuk menyapa suaminya.


"Hai, Van." Dua kata itu berhasil membuat jantung Ivander terasa berhenti berdetak untuk beberapa saat.


Pria itu tidak menjawab, dan hanya menganggukkan kepalanya samar-samar. Dia duduk di seberang wanita yang sampai saat ini masih berstatus sebagai istrinya.


"Apa kabar? Apakah kau dan Kanwa baik-baik saja?" tanya wanita itu dengan air mata yang akhirnya tidak berhasil dirinya bendung.


Ivander mengeratkan rahangnya, entah mengapa ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Dia mengepalkan tangannya erat-erat lalu berdehem sejenak.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Ness. Bagaimana keadaanmu? Semua baik-baik saja?"


Nessie memejamkan matanya sejenak, sebelum menjawab pertanyaan suaminya.

__ADS_1


"Menurutmu, ibu mana yang akan baik-baik saja ketika mereka dipisahkan dengan anak mereka? Kenapa kau menjadi sangat kejam seperti ini, Van?"


__ADS_2