
Beberapa saat, setelah kepergian Ivander ke kantornya. Anne yang sudah menyiapkan semua barang-barangnya dan mengemasi ke dalam satu koper itu, segera membawa turun. Dia melipat bibirnya ke dalam sembari menarik napasnya dalam-dalam.
Anne sejenak menimbang, apa yang harus dirinya lakukan untuk pertama kali. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, seolah takut untuk melakukan apa yang sudah dirinya rancang sejak semalam.
"Tidak tidak, kau harus yakin. Ini keputusan mu." Anne menghela napasnya lalu memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya.
Anne yang bahkan sudah rapi dengan celana jeans yang dipadukan dengan atasan putih tulang itu, memutuskan untuk pergi ke dapur. Wanita itu segera meracikkan bubur kesukaan Kanwa, dan membiarkan pakaiannya sedikit kotor karena hal tersebut.
"Makan siang sudah siap. Lalu sekarang ..." Anne yang mengingat jika stok pampers putra sambungnya sudah habis, beralih menuju ke kamar.
Dia berjalan menuju almari besar yang ada di ujung kamar, dan mengeluarkan kemasan pampers yang cukup besar milik putranya. Dia mengambil beberapa dan hendak membawanya ke meja. Tapi langkahnya terhenti, dan menatap sejumlah popok di tangannya.
"Tidak akan cukup. Dia bisa berganti lebih banyak jika terlalu banyak minum." Anne kemudian menambah beberapa pampersnya dan membawanya ke meja tempat di mana dirinya bisa menggantikan pakaian Kanwa.
Wanita itu menata dengan begitu detail, seolah-olah takut jika nanti pengasuh Kanwa tidak dapat menemukan barangnya dengan cepat. "Sekarang, sudah. Semua sudah lengkap."
Anne meletakkan sebelah tangannya di pinggang dan melihat ke seluruh kamar Kanwa. Sebelum keluar kamar, tangan wanita itu sempat membenarkan letak figura yang mana di dalamnya terdapat potret Kanwa dengan papanya sebelum pulang ke Indonesia.
Anne mendekat pada kopernya, dan membawanya untuk berjalan mencari keberadaan Nessie dan Kanwa. Wanita itu menghela napasnya dengan begitu panjang, ketika melihat Nessie yang tengah berada di depan televisi, lengkap dengan putranya yang tengah asyik tertidur.
"Nyonya," panggil Anne yang langsung membuat Nessie menolehkan kepalanya ke samping.
Wanita itu terkejut saat melihat penampilan Anne yang sudah rapi, lengkap dengan koper berwarna hitam yang ada di genggamannya. "Loh, Ann! Ada apa? Kenapa kau sudah rapi?"
Nessie bergegas bangun dari duduknya dan berdiri di hadapan Anne. Ibu satu anak itu menatap penuh kebingungan pada Anne yang terlihat begitu tenang.
__ADS_1
"Saya akan pamit, Nyonya. Kontrak kerja saya sudah selesai. Jadi untuk itu, saya harus segera kembali." Anne tersenyum tipis, mencoba menahan kegugupan yang ada di dalam dirinya.
"Sudah konfirmasi ke papanya Kanwa? Kenapa dia tidak memberi tahu apapun padaku?" tanya Nessie sembari mengambil ponselnya.
Anne yang melihat hal tersebut, segera menahan tangan Nessie. Nessie seketika terkejut saat Anne menahan tangannya. Begitu pula dengan Anne, dia yang sadar dengan apa yang baru saja dirinya lakukan itu segera menarik tangannya dari tangan Nessie.
"Bahkan Tuan sudah memberikan gaji dan bonus kepada saya, Nyonya. Mungkin Tuan Ivander belum mengatakannya karena itu tidak terlalu penting. Jadi saya hanya ingin berpamitan pada Nyonya sebelum pergi."
Anne mencoba menetralkan ekspresinya, yang sama sekali tidak membuat Nessie curiga. Wania itu tidak menghiraukan ponselnya dan menatap Anne dengan begitu dalam.
"Kenapa tidak memperpanjang kontrak saja, Ann? Aku lihat hubunganmu dengan putraku juga sangat baik. Dia sangat nyaman denganmu." Jujur saja Nessie tidak yakin akan membiarkan Anne meninggalkan putranya.
"Atau biar aku saja yang membantumu bicara pada papanya Kanwa. Karena jujur saja aku sangat senang ketika mengetahui jika kau mengasuh putraku dengan begitu baik. Kami masih membutuhkanmu." Nessie mencoba menahan Anne dan memberi ide jika dirinya lah yang akan berbicara pada Ivander.
Bukannya bersyukur, Anne justru mengendurkan bahunya sembari memejamkan matanya sejenak. "Terima kasih atas tawarannya, Nyonya. Tapi saya memiliki urusan yang harus saya selesaikan. Saya sudah meninggalkannya terlalu lama, Nyonya."
Akhirnya setelah didesak oleh Anne karena waktunya sudah tidak lama lagi, wanita itu mengantarkan Anne bersama dengan Kanwa ke depan.
"Nyonya, saya sudah siapkan makan siang untuk Kanwa. Saya juga sudah menyetok beberapa kantung asi di dalam kulkas. Hangatkan saja jika sudah jadwal minum Kanwa. Dan ya, semua perlengkapan Kanwa ada di almari yang ada di ujung kamar. Obat untuk alerginya juga ada di sana, ada namanya."
Anne menjelaskan dengan beruntun, seolah takut jika Nessie tidak tahu dimana tempat biasa dirinya menata perlengkapan Kanwa. Nessie tersenyum hangat dan menganggukkan kepalanya, paham dengan apa yang baru saja Anne jelaskan.
"Baiklah, saya pergi dahulu Nyonya. Semoga Tuhan selalu melindungi kalian semua." Nessie menatap dengan intens kedua mata Anne yang saat ini tengah menatap punggung kecil putranya.
"Ingin menggendongnya terlebih dahulu?" tawar Nessie dan hendak menyerahkan anaknya pada Anne.
__ADS_1
Anne dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya. Dia mengusap punggung kecil yang biasanya dirinya elus sampai si bocah tertidur.
"Saya tidak ingin membuatnya menjadi sulit, Nyonya. Saya akan selalu mendoakannya dari kejauhan." Anne menatap Kanwa dari belakang, dengan tatapan sendunya.
"Saya pergi, Nyonya. Permisi." Anne segera menarik kopernya keluar, ketika mendengar suara taksi di luar gerbang sana.
Tak lupa dirinya menutup gerbang, dan tersenyum saat melihat adanya Marvin dan juga Sherina di sebelah taksi pesanannya.
"Tidak ada yang tertinggal lagi?" tanya Sherina lalu melepaskan pelukan erat milik suaminya di pinggang.
Anne menggelengkan kepalanya dan memeluk Sherina yang sudah merentangkan tangannya untuk menyambutnya. Wanita itu memeluk Sherina dengan begitu dalam. Sebentar lagi dirinya tidak akan sering bertemu dengan sahabatnya itu.
"Hati-hati. Segera kabari aku atau Marvin jika terjadi sesuatu. Kami akan memantau mu dari rumah." Anne mengangguk sembari menatap sepasang suami istri yang sangat membantunya itu.
"Terima kasih untuk semua bantuannya, Sher, Vin. Aku berhutang banyak pada kalian." Anne tersenyum hangat dan menatap keduanya secara bergantian.
"Untuk membayar hutangmu, jadilah ibu yang kuat. Bawa keponakan kami kemari, nanti. Kami sangat menantinya." ucap Marvin seolah tahu apa yang selama ini Anne rasakan.
Anne tertawa kecil lalu menganggukkan kepalanya. "Jangan hanya aku yang datang. Sering-seringlah berkunjung, datanglah ke rumah kalian. Bawa dua putri kecilku juga."
Ketiganya tertawa sejenak sebelum akhirnya Anne masuk ke dalam taksi. Sherina kembali berjalan mendekati suaminya, dan berdiri tepat di sebelah sang suami.
Wanita itu melambaikan tangannya mengiringi kepergian Anne. Helaan napas panjang Sherina ketika menatap taksi itu pergi, membuat Marvin mengelus puncak kepala istrinya.
"Apakah kau bisa membantu supaya putranya bisa kembali pada Anne? Aku takut dia tidak akan bisa." Sherina berbisik perlahan sembari mengelus pinggang suaminya.
__ADS_1
"Sangat mudah. Pria itu hanya membutuhkan uang untuk suntikan perusahaan."