Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 135


__ADS_3

Sherina menghela napasnya dengan begitu lega setelah rapatnya selesai. Dia berjalan kembali ke ruangannya, dan merebahkan tubuhnya di sofa. Demi apapun, saat ini rasanya punggungnya terasa seperti baru saja menggendong beras satu kwintal.


Dia menghembuskan napasnya dalam dalam, dan mulai membuka matanya. Sudah lama sejak dirinya vakum di dunia perkantoran, kini dirinya kembali dengan versi terbaru dalam dirinya.


Dia yang mengingat jika Marvin ada perjalanan dinas ke luar negeri itu, refleks mengambil ponselnya dan melihat apakah ada pesan yang di kirimkan oleh pria itu padanya atau tidak.


Tubuhnya seketika kembali melemas ketika tidak mendapat satu pun pesan atau kabar dari suaminya tersebut. Ketika dirinya ingin berpikir yang tidak tidak, dia kembali menanamkan jika suaminya mungkin kembali lupa jika dirinya sudah pulih dari masa koma.


Dia membuka pesan yang Anne kirimkan padanya, dan tersenyum melihat foto foto yang wanita itu kirimkan pada dirinya. Terlihat dengan jelas betapa bahagianya mereka di dalam potret itu. Dan ya, ad kedua putri kecilnya yang ikut masuk ke dalam potretnya.


"Putriku sangat lah manis," Sherina mengelus pipi gembul kedua putrinya setelah memperbesar layar.


Dia terus berselancar di foto foto yang Anne kirimkan, dan ikut terkejut sekaligus terharu ketika melihat potret lamaran kedua yang dilakukan oleh Anne dan Ivander. Dia mengucap syukur berulang kali, merasa ikut bahagia dengan kabar baik ini.


Tapi saat dirinya tengah asyik melihat foto fotonya yang lain. Tiba tiba satu pesan dengan nomor asing muncul.


Rasa penasaran Sherina semakin meningkat, ketika nomor tersebut mengirimkan banyak tautan dan juga foto dalam satu kali kiriman. Jemari wanita itu otomatis langsung keluar dari room chatnya bersama Anne, dan menekan nomor asing tersebut.


Mendadak tubuh wanita itu terasa membeku ketika melihat banyak foto, yang mungkin berjumlah puluhan. Serta tautan tautan berita yang mungkin sudah masuk ke tabloidnya namun belum dirinya baca.


Seolah sudah memiliki firasat buruk, wanita itu hanya mengunduh satu foto saja orang tersebut kirim pertama kali. Dan benar saja dugaannya. Tubuh wanita itu seketika terasa mendidih ketika melihat foto di mana terdapat potret sang suami, dan juga seorang wanita yang tidak terlihat wajahnya. Terlihat tengah berciuman, mungkin.


Nafasnya yang mulai memburu, membuat Sherina mau tidak mau harus mengklik satu tautan, yang mengantarkannya ke berita dengan judul, "Skandal fenomenal antara salah satu pengusaha sukses yang terkenal dengan sekretarisnya, terungkap!"


Sherina yang baru saja membaca judul berita itu langsung menegakkan tubuhnya dan duduk dengan posisi tegak. Dia tidak habis pikir dengan berita buatan yang terdengar sangat konyol ini.


Bukannya keluar dari situs tersebut, Sherina justru menurunkan bacaannya dan membaca berita itu hingga selesai. Anehnya di dalam berita itu tidak ada klarifikasi dari Marvin yang mengatakan jika dirinya sudah menikah.


Dia hanya mengatakan jika benar, sekretarisnya itu merupakan mantan wanita yang dahulu pernah dirinya sukai dan mereka pernah dekat untuk waktu yang cukup lama.


Sherina terdiam tak percaya dengan berita itu. Dia mencoba keluar dari situs tersebut, dan mengklik tautan yang lain. Namun apa yang dirinya harapkan nyatanya nihil.


Tidak dapat dirinya temukan di salah satu dari semua berita online itu yang mengatakan jika Marvin sudah menikah. Memang benar, pernikahannya dengan Marvin terbilang cukup singkat.


Karena setelah menikah, dirinya tiba-tiba harus mengalami koma tidak lama setelah melahirkan. Dan dirinya rasa, mungkin tidak banyak orang yang tahu jika dirinya lah istri dari Marvin.

__ADS_1


Namun yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah ketika di akhir berita, paling akhir yang orang tersebut kirimkan. Ada beberapa foto yang diunggah dari media yang tidak diketahui. Di mana terdapat potret sang suami dengan seorang wanita di kamar. Yang hanya di tutup di bagian tertentu saja.


"Astaga. Apa yang orang ini lakukan!?" Sherina makanan nafasnya tidak percaya dan memijat pelipisnya dengan begitu keras.


Sekarang Sherina yakin. Jika semua yang Alissa lakukan, mulai dari menitipkan Ailey pada dirinya, lalu berpura - pura mengalami kanker otak dan akan meninggal, serta rekayasa nya yang tiba - tiba kembali menjadi sekretaris Marvin, tidak lain dan tidak bukan adalah bagian dari rencana besarnya.


Atau jangan-jangan, Diko yang menikamnya juga merupakan salah satu rencana dari wanita itu? Ah, astaga. Sherina benar -benar merasa bodoh. Sherina bingung dengan apa yang harus dirinya lakukan saat ini. Dirinya berpikir, jika akan melakukan atau mengambil sesuatu tindakan, dirinya pasti membutuhkan sang suami. Tapi ketika mengetahui jika suaminya tidak mengabarinya dan tidak memberitahu bagaimana keadaannya setelah tiba di Milan, membuat Sherina merasa semua hal akan sia-sia.


Dia memblokir nomor tersebut dan segera beranjak bangun untuk kembali ke rumah. Namun ketika sampai di depan pintu ruangannya dia terhenti Karena Kevin juga baru saja membuka pintunya dan berdiri di hadapannya.


"Kau sudah akan pulang?" tanya pria itu yang langsung dijawab dengan anggukan kepala dari Sherina.


Kevin tidak langsung membiarkan Sherina pergi. Pria itu terdiam sejenak, lalu dengan sedikit ragu- ragu dia mulai bertanya kembali. "Apakah anak -anakmu sudah menunggumu di rumah? Atau kau masih memiliki waktu senggang?"


Sherina yang mendengar pertanyaan Kevin itu menatap ke sembarang arah. Apakah pria di hadapannya ini berniat untuk mengajaknya keluar?


Benar, suaminya sedang berada di luar negeri dan tidak mengabarinya. Lalu anak -anaknya sedang bermain dan bersenang -senang dengan ibu keduanya. Lalu dirinya? Apakah dia akan menghabiskan waktu sendirian di rumah?


"Tidak, aku masih memiliki waktu senggang. Anak -anak ku sedang pergi, dan tidak ada yang bisa kulakukan di rumah." jawab Sherina dengan begitu enteng sembari mengendikkan bahunya.


"Jika kau bersedia, maukah kau makan malam denganku terlebih dahulu?" Tanya pria itu yang membuat Sherina sedikit menimbang, sebelum akhirnya mengiyakan tawaran dari pria itu.


Kevin yang tawarannya diterima oleh Sherina mengulurkan tangannya, dan berniat untuk menggenggam tangan Sherina. Tapi dengan tegas, Sherina menolaknya dan memilih berjalan lebih dulu dari pada pria itu.


Kevin yang tersadar dengan apa yang baru saja dirinya lakukan itu mengumpat dalam hati. Apa yang dirinya lakukan ini!? Bukankah dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak mengganggu Sherina dan keluarganya? Dia hanya akan mengagumi wanita itu tanpa berniat untuk memilikinya.


Setelah merasa menyesal di dalam hati, pria itu segera menyusul Sherina yang sudah memasuki lift dan menunggunya. Dia berdiri sebelah Sherina, dan menekan tombol base ment yang ada di dinding lift.


"Oh ya, Pak Kevin. Akan lebih baik jika kita berangkat ke restorannya menggunakan mobil sendiri- sendiri. Karena akan lebih mudah jika selesai makan malam nantinya, kita langsung terpisah ke rumah masing -masing." Kevin yang awalnya berniat memberikan tumpangan pada Sherina itu akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Mereka bergegas pergi ke restoran yang sudah dipilih oleh Kevin, dan makan malam seperti biasanya, tidak ada yang spesial bagi Sherina.


Kevin yang awalnya sudah menyiapkan banyak topik yang akan dirinya bicarakan dengan Sherina ketika makan malam, tiba-tiba menghilang entah mengapa. Dia merasa ketika berdekatan dengan Sherina tanpa adanya pekerjaan, membuat suasana berubah menjadi sangat canggung.


Begitu juga dengan Sherina. Wanita itu hanya berdiam diri karena sibuk dengan sibuk pikirannya. Dia masih memikirkan bagaimana masa depan pernikahannya dengan Marvin.

__ADS_1


Hingga setelah makan malam selesai dan mereka hendak bangkit dari tempat duduknya, tiba-tiba televisi yang berada di restoran tersebut menayangkan sebuah berita yang mana ada Marvin dan Alissa yang menjadi topik utamanya.


"Siapa yang tidak mengenal pengusaha sukses, Marvin Chadsell. Belakangan ini, kabar kedekatannya dengan sekretarisnya benar-benar tengah menjadi trending. Pasalnya mereka dinilai sangat cocok dan serasi. Tak jarang mereka juga berani mengekspos kedekatan mereka di muka umum."


Sherina yang mendengarnya, dengan cepat menatap televisi itu. Tangannya terkepal dengan arah ketika berita tersebut terus berjalan berjalan. Nafas wanita itu sudah memburu ketika satu persatu fakta yang ada di hidup suaminya mulai terkuak di dalam berita tersebut.


"Dan kali ini semua orang kembali dihebohkan dengan pengakuan sekretaris cantik pengusaha itu, yang mengatakan jika dirinya sudah memiliki anak dengan atasannya. Tidak lain adalah Marvin Chadsell."


Tubuh Sherina seketika limbung. Dia merasa jika dunianya seketika runtuh ketika rahasia besar itu terungkap. Bukankah Alissa sudah berjanji untuk tidak membongkar hal ini pada siapa pun?


Kevin yang melihat Sherina hampir terjatuh itu, dengan cepat langsung menahannya. Dia menatap wanita itu, yang terlihat begitu kuat meskipun dia rapuh.


Dan kali ini siaran mengubah menjadi rekaman di mana sang suami yang tengah berdiri di antara para wartawan yang tengah mewawancarainya.


"Jadi apakah benar jika anda sudah memiliki anak dengan sekretaris anda sendiri?" tanya salah satu reporter kepada Marvin, sembari memajukan mic-nya ke dekat Marvin.


Dengan begitu tenangnya, pria itu menjawab dengan anggukan dan langsung memberikan klarifikasi. Tapi belum semua kualifikasi yang Sherina dengarkan, wanita itu sudah tidak sadarkan diri dalam dekapan atasannya.


"Sherina!"


****


Malam harinya, ketika Sherina tersadar, dirinya tiba- tiba sudah berada di rumahnya. Wanita itu menatap sekeliling dan tidak menjumpai siapa pun kecuali dirinya yang sudah berada di kamarnya.


Sherina mencoba mengingat apa yang terakhir kali dirinya lakukan. Dan tubuhnya kembali lemas ketika mengingat jika terakhir kali, dirinya melihat berita tentang suami dan putri sulungnya.


Sherina menunjukkan kepalanya dan menarik rambutnya untuk menyalurkan semua rasa lelahnya. Dia benar- benar lelah dengan hidupnya yang terasa sangat berat.


Akhirnya wanita itu memutuskan untuk bangun, dan keluar dari kamarnya. Dia mencari keberadaan anak anaknya, dan tersenyum ketika melihat keduanya sudah tertidur dengan begitu pulas.


Sherina maju dan duduk di sebelah Ailey. Wanita itu kemudian mengecup kening gadis kecilnya dengan begitu lama dan mengelus rambutnya.


"Bunda akan ambil kamu dari ibu kamu, Nak. Bunda tidak akan rela jika dia sampai menyentuh seujung pun kulitmu. Biarkan Bunda menjadi egois untuk mu."


Sherina berniat untuk mengambil hak asuh anak sulungnya. Takut jika tiba -tiba Marvin dan Alissa melakukan sesuatu yang tidak dirinya inginkan.

__ADS_1


__ADS_2