
Setelah semua acara selesai, Sherina memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Hari yang cukup melelahkan untuk Sherina. Dia bahkan masih tidak percaya jika dirinya kembali dipertemukan dengan Ivander.
Sherina yang sudah selesai membersihkan tubuhnya itu, berjalan menuju balkon. Dia duduk dengan rambut yang masih basah, sembari mengamati pusat kota yang ada di hadapannya.
"Dia sudah bahagia dengan istrinya," lirih Sherina sembari menundukkan kepalanya. Tidak dipungkiri, ada rasa rindu yang begitu membuncah saat Sherina menatap mantan suaminya.
Tapi sesuai dengan prinsip dan keputusan yang sudah dirinya ambil, wanita itu mencoba melupakan kejadian ketika dirinya bertemu dengan suaminya tadi.
...****...
Pagi harinya, Sherina yang memiliki jadwal untuk meeting dengan para jajaran direksi serta para menanam saham itu, sedikit panik karena dia datang terlambat.
Saat sedang menunggu lift terbuka, Sherina yang berulang kali menatap jam ditangannya itu, tiba-tiba terkejut saat melihat siapa yang berdiri di sebelahnya. Sherina berdehem sejenak sebelum akhinya pintu lift terbuka.
__ADS_1
Dengan cepat, Sherina menggeserkan tubuhnya dan memberikan jalan pada Ivander. Ivander mengernyitkan keningnya, dan memilih untuk masuk ke lift terlebih dahulu. Tetapi setelah beberapa saat, Sherina tak kunjung masuk.
Karena mengetahui jika waktunya semakin cepat berjalan, ivander segera menarik tangan Sherina untuk ikut masuk. "Kau sengaja ingin menghindariku?"
Pertanyaan yang ivander berikan pada wanita yang ada di depannya ini, berhasil membuat Sherina mengepalkan tangannya. Dia tidak menjawab pertanyaan Ivander, dan berulang kali menatap sudah sampai di mana dia. Entah mengapa, Sherina merasa jika lift ini sangat lama berjalan.
"Kenapa kau menghindari ku, sementara kau lah yang meninggalkanku dengan begitu saja?" ucap Ivander lagi, lalu dirinya menyamakan posisinya dengan Sherina.
Sherina menolehkan kepalanya dan menatap Ivander dengan rasa sesak yang begitu hebat di dadanya. Wanita itu menangkap sebuah kekecewaaan di mata mantan suaminya. Tak ada satupun jawaban yang Sherina berikan, dia masih memandang kedua mata yang dia rindukan itu.
Sherina yang dicekal tangannya oleh Ivander itu dengan cepat langsung melepaskannya. Tak lama setelahnya, pintu lift pun terbuka.
"Ich respektiere Sie als meinen Chef und Geschäftspartner. Seien Sie also bitte professionell bei der Arbeit!" ucap Sherina dengan Bahasa Jerman yang mengatakan jika dia menghormati Ivander sebagai atasan dan rekan bisnisnya. Wanita itu juga meminta agar Ivander bersikap profesional ketika bekerja.
__ADS_1
Setelah itu, Sherina segera meninggalkan Ivander dengan perasaan yang bercampur aduk. Wanita itu segera masuk ke ruang meeting dan meminta maaf karena datang terlambat.
Tak lama setelahnya, Ivander datang dan menempatkan dirinya untuk duduk di kursinya. Pria yang duduk tepat di ujung itu, dapat dengan leluasa menatap Sherina yang tengah memimpin rapat.
Selama rapat berjalan, tatapan pria itu tak pernah terlepas dari Sherina yang benar-benar terlihat menawan. Hal itu nyatanya disadari oleh Sherina. Dia berulang kali menangkap basah Ivander yang terus saja menatapnya.
Rapat berjalan satu jam lamanya. Dan tak terasa rapat pun sudah selesai. Sherina benar-benar tidak menyangka, Ivander bahkan berhasil menguasai 70% saham di perusahaannya.
Hal itulah yang membuat Ivander ingin mengajak semua rekan kerjanya untuk makan siang bersama. Termasuk Sherina.
"Apakah Anda akan ikut bersama kami, Bu?" tawar salah satu direksi padanya yang langsung ditolak oleh Sherina.
"Terimakasih sebelumnya, tetapi saya tidak bisa ikut. Saya ada kegiatan di lapangan." Tolak Sherina sembari menatap Ivander yang terlilhat tak suka dengan penolakannya.
__ADS_1
Ivander yang menyayangkan jika SHerina tak ikut itu pun, mengeluarkan jurus andalannya. "Ini bukan sebuah tawaran. Dan tidak ada alasan untuk menolak!"
Sherina yang kembali melihat sisi dominan mantan suaminya itu, tertawa miring. Kenapa Ivander terlihat sangat terobsesi dengan mantan istrinya itu, sekarang.