
Marvin keluar dari gerbang, dan berniat untuk pergi berjalan disekitar rumahnya. Tidak ada hal penting yang akan dirinya kerjakan. Dia hanya ingin melatih kakinya agar lebih terbiasa untuk berjalan.
Tepat saat dirinya melewati rumah Ivander, pria itu menoleh ketika melihat pintu gerbangnya ikut terbuka dari dalam. Alis Marvin terangkat ketika melihat jika Anne lah yang membukanya. Tidak lama setelahnya, Mercedes Benz berwarna hitam metalic, keluar dari pembatas rumah dengan dua penumpang di dalamnya.
Marvin mengangguk ketika Ivander memberinya klakson sebelum pergi menjauh. Dia berjalan menghampiri Anne yang masih menatap kepergian mobil milik majikannya.
"Siapa yang pergi bersama Ivander, jika kau di sini?" Marvin memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celananya, sembari menatap wanita berambut sebahu itu.
"Siapa lagi? Dia memiliki istri. Tentu saja dia pergi dengan istrinya. Jika mereka membutuhkan aku, pastinya aku akan ikut serta dengan mereka." Anne menjawab pertanyaan Marvin dengan tubuh yang bersandar di gerbang.
"Nessie, maksudmu? Sepertinya aku tertinggal berita. Apakah mereka kembali bersama?" tanya Marvin seolah sangat ingin tahu tentang kehidupan tetangganya itu.
Anne berdecak perlahan dan menggelengkan kepalanya. "Jelas itu bukan ranahku, Vin. Aku tidak berhak menjawab pertanyaanmu ini, bukan? Jika kau penasaran, tanyakan saja padanya."
Marvin menghembuskan napasnya, merasa sia-sia untuk bertanya dengan Anne. Dia mengeluarkan tangannya, dan hendak berjalan kembali.
"Datanglah ke rumah. Ailey sudah kami jemput." Marvin segera pergi dari hadapan Anne setelah mengatakan hal tersebut.
Sedangkan Anne yang mendengar ucapan Marvin, menatap punggung pria itu dengan tatapan kagetnya. "Benarkah? Kenapa kau baru memberitahuku!?"
Anne segera menutup gerbang rumahnya, dan berjalan dengan tergesa ke rumah Marvin. Dia benar-benar merasa sudah lama sejak terakhir kali datang mengunjungi Sherina.
Maklum saja, jadwalnya terasa sangat penuh. Sampai-sampai wanita itu merasa tidak sempat untuk meluangkan waktu walau hanya untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sherina!" Anne bahkan sudah berteriak dengan penuh semangat, sejak kakinya melangkah masuk ke dalam rumah.
Wanita itu menjelajah rumah dengan tergesa, seolah dirinya tengah berada di rumahnya sendiri. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan sang sahabat yang sangat senang menyembunyikan apapun itu darinya.
"Ini dia orangnya! Aku tanya padamu. Kenapa kau selalu saja tidak pernah mengabari aku jika terjadi sesuatu!? Kau tidak menganggapku lagi!?" cecar Anne yang langsung membuat Sherina menggigit bibirnya, dan mengangkat sebelah tangannya.
Wanita itu takut jika kedua putrinya terbangun karena suara Anne. "Pelankan suaramu, ku mohon. Putriku sedang tidur."
Anne melipat bibirnya ke dalam, kaget saat melihat dua gadis kecil, yang tertidur di tengah ranjang. Dia menyipitkan matanya, lalu berjalan mendekat ke ranjang.
Anne duduk di pinggir ranjang, dan mengamati wajah Ailey dengan begitu seksama. "Benar-benar mirip dengan Marvin."
Sherina menganggukkan kepalanya dan memiringkan kepalanya, untuk ikut menatap Ailey. Tatapannya pun beralih menatap sang putri yang sama cantiknya. Hanya saja, di wajah kecil Niskala, masih ada tinggalannya yang membuatnya sedikit berbeda dengan Ailey.
Sherina menundukkan kepalanya, dengan senyum manis yang tersemat di bibirnya. Benar apa yang dikatakan oleh Anne, dirinya terlalu beruntung. Sampai-sampai dirinya mendapat pria se-sempurna suaminya saat ini.
Marvin tidak pernah membentaknya. Tidak pernah memintanya melakukan sesuatu yang tidak dirinya sukai. Memperlakukannya seolah dirinya adalah seorang ratu. Dan menerima semua yang ada dalam dirinya.
"Untuk yang ini aku tidak mengelak. Memang benar, aku akui jika aku beruntung karena mendapatkan Marvin sebagai suamiku. Cepatlah menyusul. Berikan aku keponakan yang menggemaskan." Sherina mencoba menggoda Anne yang masih saja menatap kedua putrinya.
"Apa maksudmu? Menyusul untuk apa? Lagipula aku tidak akan menikah kembali. Aku hanya ingin memperjuangkan hak asuh putraku satu-satunya." Anne mengalihkan tatapannya, dan menatap Sherina yang tengah mengerutkan keningnya.
"Bukankah kau dan Ivander ... Aku suka melihat kedekatan kalian. Apakah kau tidak memiliki perasaan yang lain?" tanya Sherina yang belum mengetahui tentang kembalinya hubungan Nessie dan juga Ivander.
__ADS_1
"Perasaan lain bagaimana? Aku menganggapnya sebagai majikanku, tidak lebih. Lagipula dia masih berstatus sebagai suami dari wanita itu. Jadi tidak ada kemungkinan lain dalam hubunganku dengan Ivander." jawab Anne dengan begitu santai.
"Nessie?"
Anne mengangguk dan menceritakan semua yang sudah terjadi tiga bulan ini. Anne bahkan mengatakan jika kini tugasnya untuk mengurus Kanwa tidaklah lagi intens. Dia bersama dengan majikan kecilnya itu hanya saat mengasihi saja. Selebihnya, bocah berumur satu tahun itu akan bersama dengan kedua orang tuanya.
"Jadi mereka kembali tinggal bersama? Astaga, aku benar-benar tidak tahu. Aku minta maaf, Ann." Sherina mengelus lengan milik Anne, yang membuat Anne mengernyitkan keningnya.
"Minta maaf untuk apa? Biar aku tegaskan sekali lagi. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan lain dengan Ivander."
Sherina hanya menyimak penjelasan Anne, dengan pikiran yang melanglang buana. Dia memikirkan tentang perasaan dua sejoli itu.
"Oh ya. Minggu ini aku akan kembali ke Jerman. Aku memang sengaja tidak memberi tahu hal ini jauh-jauh hari, karena takut jika kau akan mengatakannya pada Ivander." Anne mengucapkan kalimat pamitnya pada Sherina kali ini.
"Hei, kenapa sangat tiba-tiba? Apakah ada masalah? Dan kenapa juga kau tidak mengatakannya pada Ivander, dari jauh-jauh hari? Bagaimana jika dia belum menyiapkan semuanya untukmu?" Sherina menegakkan tubuhnya, dan menatap Anne.
"Pengacaraku yang pertama dulu, mengatakan jika aku memiliki sedikit kesempatan untuk menuntut hak asuh putraku. Meskipun persentase keberhasilannya belum pasti, tapi aku akan tetap mencoba."
Sherina menggelengkan kepalanya dan menarik napasnya dalam-dalam.
"Kau tidak bisa bersantai ria jika menyangkut masalah anak. Aku akan meminta bantuan Marvin untuk mengurus kepulanganmu, dan masalah hak asuh putramu. Kita percayakan saja padanya. Aku yakin seratus persen hal ini akan berhasil, jika Marvin yang mengatasinya."
"Tidak perlu! Aku sudah banyak merepotkan kalian. Aku memiliki dana yang cukup untuk mengurus ini semua. Jadi jangan repot-repot." Anne mencoba menolak dengan halus ucapan Sherina.
__ADS_1
"Diamlah! Uangmu, kau simpan saja! Keponakanku butuh susu dan pendidikan yang baik, nantinya!