
Pagi harinya, Anne yang baru selesai memasak itu mulai menatap jam yang ada di dinding. Tatapan wanita itu beralih ke pintu kamar Ivander yang masih tertutup rapat.
"Astaga, kenapa dia tidak kunjung keluar? Ini sudah siang." Anne segera menyelesaikan kegiatannya, sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar pria itu.
Langkah sibuk wanita itu menunjukkan jika kini dirinya sedikit tergesa. Memang pada awalnya dia tidak berminat untuk menghandel semua pekerjaan rumah, seperti yang Ivander sudah katakan. Tapi apa dayanya, tidak ada yang bisa bangun lebih awal dan memasak selain dirinya, di rumah ini.
"Apakah kau belum bangun? Ini sudah siang, Van!" panggil anne lagi setelah kesekian kalinya.
Lantaran tidak sabar lagi, Anne segera membuka pintunya, dan terkejut ketika melihat Ivander yang masih terbaring di atas ranjang. Anne menghela napasnya dengan begitu dalam dan mengendurkan bahunya.
Dia berjalan mendekat ke arah ranjang, dan menepuk lengan milik Ivander yang seluruhnya tertutup oleh selimut. Berulang kali Anne mencoba untuk menepuk lengan pria tersebut dan memanggil namanya, tetapi semua terasa sia-sia.
Anne segera menyibak selimut pria itu, berniat untuk membangunkannya dengan membuka selimutnya, justru dibuat terkejut ketika melihat tubuh kekar Ivander yang tidak tertutup oleh sehelai benang pun.
"Astaga!" pekik Anne panik, lalu segera menghempaskan selimut yang masih menutupi tubuh ivander dengan begitu saja.
Ivander yang merasa jika ada seseorang yang berada di dekatnya itu, segera membuka matanya dengan perlahan. Sejenak pria itu sedikit terkejut ketika menyadari jika ada orang lain di kamarnya. Tapi setelah tahu jika itu anne, pria itu kembali melemaskan badannya dan menghela napasnya dengan perlahan.
__ADS_1
"Aku kesiangan?" tanya Ivander dengan begitu lelah.
Anne menetralkan degup jantungnya, dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Dia kembali menatap Ivander, dan terkejut ketika melihat wajah Ivander yang sedikit pucat.
"Sudah hampir pukul setengah delapan. Kau tidak pergi bekerja?" jawab Anne dengan suara tenangnya.
Ivander menelan ludahnya dengan sedikit kesusahan, dan kembali membuka matanya. Dia menarik napasnya yang sedikit terasa sesak, dan menatap ke jendela.
"Sepertinya tidak. Kondisi badanku sedikit tidak nyaman. Mungkin kelelahan." Ivander membuat kepalanya nyaman di atas bantal, dan menatap Anne dengan bibir pucatnya.
Ivander tersenyum sejenak, dan menaikkan selimutnya hingga ke batas lehernya.
"Aku akan beristirahat saja, setelah ini. Kau bisa menjaga Kanwa seorang diri?" Ivander bertanya pada wanita yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Memang biasanya siapa yang menjaga Kanwa? Istirahatlah, aku yang akan menjaganya. Dan ya, aku akan membuatkan mu bubur untuk sarapan. Tunggu sejenak." ucap Anne sebelum akhirnya keluar dari kamar Ivander.
Ivander tersenyum hangat melihat tingkah cekatan wanita itu. Dia masih tersenyum meskipun Anne sudah menghilang sejak beberapa saat lalu dari hadapannya.
__ADS_1
"Istri idaman."
****
Sementara Marvin, hidup pria itu sekarang semakin menderita. Dia sudah layak disebut sebagai mayat hidup, setelah kondisi istrinya yang sangat kritis.
Tidak ada rutinitas lain selain mengerjakan pekerjaan kantor, pulang untuk bertemu dengan putri-putrinya, dan ke rumah sakit untuk menunggu sang istri.
"Sayang. Kapan mau bangun, hm? Aku tidak bisa seperti ini. Aku merindukan mu." Marvin mengecup tangan sang istri yang ada di genggamannya.
Pria itu benar-benar tidak terawat. Dia tidak pernah memikirkan bagaimana caranya agar dia dapat kembali tampil segar, seperti saat istrinya sehat. Dia bahkan berusaha agar sang istri tidak pernah merasa bosan ketika melihatnya.
"Aku mohon jangan seperti ini, Sher. Jangan karena kaku tahu jika aku akan menunggu mu selama apapun itu, jadi kau terlalu lama meninggalkan ku dan anak-anak. Bangun, Sayang. Aku mencintaimu."
Marvin terus mengajak berbicara sang istri, seperti yang dianjurkan dokter padanya. Tidak terhitung seberapa banyak dirinya sudah menangis karena penyesalannya. Tapi dia sadar, tangisannya tidak akan pernah mengubah sesuatu.
"Kita pulang saja, ya? Setidaknya anak-anak bisa tidur bersama ibunya."
__ADS_1