
"Kenapa? Kau tak suka dengan cara mainku?! Jatuhkan talak padaku, dan semuanya akan berakhir! Kau akan hidup miskin dan menderita setelahnya!" Dengan tatapan yang sudah tidak bersahabat lagi, Sherina mengatakan hal yang bahkan mampu membuat Nessie ketakutan.
Wanita hamil yang tengah masih berada di posisi awalnya saat jatuh itu, segera menatap tajam kepada Ivander yang sama halnya tengah menatap penuh keterkejutan pada ucapan Sherina. Nessie memberi isyarat pada Ivander agar tak melakukan apa yang Sherina katakan.
"Kenapa kau terdiam?! Kau takut jika kau akan hidup gembel, setelah ini? Bukankah akan menjadi hal yang menyenangkan jika hidup susah, tetapi bersama dengan pasangan yang kau cintai?" tanya Sherina dengan nada remehnya, sembari menatap ke Nessie.
Nessie menatap Sherina yang dirinya rasa semakin mulai berani memberontak. Entah mengapa, Nessie merasa bahwa ada sesuatu yang sedang Sherina rencanakan di balik semua masalah yang timbul karena dirinya.
"Sekarang aku paham, kenapa Ivander lebih memilih untuk mencari kebahagiaan dari wanita lain sementara dirinya sudah memiliki istri. Ternyata sikapmu yang sama sekali tidak bisa menghormati suamimu lah, yang membuat Ivander lebih nyaman padaku! Dasar istri durhaka!" caci Nessie seolah-olah wanita itu mengetahui bagaimana seluk beluk hidupnya dengan suaminya.
"Tutup mulut mu! Kau tak mengerti yang sebenarnya terjadi, jadi jangan berlagak ingin menghakimi hidupku dengan suamiku!" sanggah Sherina dengan nada yang cukup tinggi sembari menunjuk wajah Nessie dengan telunjuknya.
Wanita itu merendahkan tubuhnya dan mencengkeram rahang milik Nessie yang menurutnya terlalu banyak bicara, dan tak tahu malu. Nessie yang merasa kesakitan dengan perlakuan Sherina itu, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Sherina. Tapi apa dayanya yang ternyata usahanya tersebut sama sekali tak membuahkan hasil.
"Ingatlah derajat mu, Nona Nessie yang terhormat. Kau hanyalah pegawai dengan gaji yang tak sebanding denganku. Lihatlah perbedaan penampilanku denganmu, sangat tidak kontras bukan? Bagaimana bisa wanita berkelas sepertiku ini, bersaing dengan wanita murahan yang hanya mampu mengandalkan tubuhnya untuk memikat laki-laki? Aku rasa Ivander salah mencarikan lawan yang sebanding untukku! Miris bukan?" ucap Sherina yang kali ini benar-benar membuat Nessie naik pitam.
"Dasar wanita bi*dab! Apakah kau takut bersaing dengan wanita pelac*r ini?!" teriak Nessie sembari menghempaskan tangan Sherina yang mencengkeram dagunya sedari tadi.
Sherina yang melihat jika Nessie hendak meludah ke arah dirinya itu pun segera menghindar. Tangan Sherina yang sudah sangat geram itu, terangkat dan menampar pipi sebelah kiri milik Nessie yang masih terduduk di lantai.
__ADS_1
Tamparan yang Sherina berikan pada wanita murahan itu, nyatanya mampu membuat Ivander segera beranjak dari duduknya. Laki-laki itu berniat untuk turun dari brankar, seolah-olah dirinya sudah mampu berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain.
"Sherina! Berani-beraninya kau menampar Nessie!" tegur Ivander dengan nada marahnya yang mampu membuat Nessie memiliki harapan jika laki-laki itu kana membalas apa yang Sherina lakukan pada dirinya.
"Berhenti di sana, atau akan ku bongkar semuanya di hadapan mama papa!" ujar Sherina yang membuat Ivander dan Nessie kembali tak dapat berkutik.
Ivander selalu merasa bahwa apa yang menjadi ancaman dari Sherina merupakan intimidasi yang kuat. Sherina yang merasa sudah tak habis pikir dengan apa yang suaminya pikirkan, membuat wanita itu memutuskan untuk pergi.
"Kau pikir aku akan percaya dengan gertakanmu ini? Aku sama sekali tidak yakin jika kau ingin membongkar semuanya, sekarang. Secara, kau juga masih menginginkan semua harta jatuh ke tanganmu bukan? Sementara jika sekarang kau mengatakannya, bisa saja mama dan papa ku berubah pikiran. Nessie sedang mengandung calon cucu mereka. Dan aku yakin, mereka pasti akan berubah pikiran!" Setelah terdiam beberapa saat, Ivander mengatakan hal tersebut di hadapan Sherina.
"Kau yakin berapa persen, jika anak yang sedang di kandung oleh wanita ini merupakan anak kandung mu?" tanya Sherina dengan tatapan nyalangnya pada sang suami.
****! Lagi-lagi Nessie dibuat terdiam membisu kala mendengar apa yang wanita cantik itu katakan. Raut wajah kaget sekaligus tak menyangka, langsung menggambarkan reaksi Nessie kali ini. Wanita itu benar-benar tak menyangka jika Sherina mampu berpikir hal yang bahkan belum dirinya pikirkan.
Sherina terkekeh perlahan sembari menggelengkan kepalanya. Tatapan sinisnya kini beradu dengan tatapan tajam dari sang suami yang diberikan untuk dirinya.
"Kenapa? Kau takut, Tuan? Kau takut jika kenyataannya bahwa anak yang dikandung oleh jala*g murahan itu, bukan anak mu?" ujar Sherina dengan nada lirih yang menyiratkan kepuasan tersendiri, karena berhasil mengintimidasi suaminya dengan pertanyaan dasar.
"Aku sedang tidak membahas hal itu, Rin! Jawab pertanyaan ku terlebih dahulu! Kau hanya menggertak ku saja, bukan?! Kau tak akan berani mengadukan hal ini pada mama dan papaku 'kan?!" desak Ivander yang masih saja tak mau menjawab apa yang Sherina tanyakan.
__ADS_1
"Tidak! Aku sama sekali tak pernah main-main dengan ucapanku! Apa yang kau katakan, tadi? Aku hanya menggertak mu? Baiklah, lihat apa yang kau anggap sebagai gertakan ini," sanggah Sherina dengan nada tegasnya sembari mengambil ponselnya.
Wanita itu segera mendial nomor papa mertuanya yang ada di ponselnya. Sherina segera menelepon papa mertuanya dan berjalan menjauhi brankar milik Ivander.
Nessie yang melihat hal itu segera bangkit dari posisinya dan berlagak mendekat pada sang kekasih. Wajah melas dan penuh drama yang kini ditunjukan oleh Nessie, sama sekali tak berguna untuk Ivander yang tengah terkejut melihat aksi nekat Sherina.
"Iya, Rin. Ada apa? Apakah terjadi sesuatu pada suamimu?" Sapaan yang berasal dari seberang sana, berhasil mengalihkan perhatian Sherina yang tengah berdiri menghadap ke jendela besar yang ada di ruang rawat sang suami.
Sherina berpikir jika tadinya sang papa mertua lah yang akan menjawab panggilannya, tetapi ternyata mama mertuanya lah yang mengangkat panggilan teleponnya.
"Tidak, Ma. Tidak ada yang serius di sini. Sherina hanya ingin mengatakan niat Sherina yang sudah sejak lama Sherina pikirkan." Mama mertua Sherina yang mendengar ucapan dari menantu tersayangnya itu, seketika terdiam.
"Apa yang ingin kau katakan, Sayang? Jika ada yang kau perlukan, katakan pada mama dan papa. Kami akan berusaha memenuhinya," jawab mama mertuanya di luar ekspetasinya, yang membuat Sherina memejamkan matanya.
'Kau sangat beruntung dalam mendapatkan mertua, Rin. Tapi kau benar-benar tak beruntung karena mendapatkan Ivander sebagai suami mu.' Batin Sherina dengan rasa sakit yang begitu mendalam.
"Tidak, Ma. Sherina sudah cukup banyak merepotkan mama dan papa. Sherina hanya ingin mengatakan jika keputusan Sherina untuk berpisah dari Ivan, sudah bulat. Sherina ingin mengakhiri hubungan kami berdua, Ma."
Bak disambar petir di siang bolong, mama kandung dari Ivander itu langsung terdiam kaku saat mendengar pengakuan dari Sherina.
__ADS_1
"Sherina lelah, Ma. Sherina lelah karena harus terus berbohong dan berlagak seolah semua baik-baik saja. Maafkan Sherina, Ma. Sherina menyerah,"
Dengan nada lirihnya dan air mata yang sudah mulai mengalir, akhirnya Sherina menyerah dengan kebaikan mama mertuanya.