
Marvin baru saja selesai menyuapi kedua putri kecilnya. Dia akan mulai membiasakan untuk melakukan hal itu, selama istrinya masih berada di rumah sakit.
"Baiklah, sekarang sudah selesai. Ayah akan mengantarkan mu ke sekolah. Berikan ciuman ke adikmu terlebih dahulu," ucap Marvin sembari mengambil tas berwarna merah muda milik Ailey, dan mengelus puncak kepala milik putrinya.
Dia tersenyum tipis, dengan mata lelah yang menyoroti tingkah polos putri kecilnya. Tangan kekarnya beralih mengelus tubuh kecil Niskala yang masih terbaring di atas ranjang.
"Ayah dan kakak tinggal dahulu ya, Sayang. Jangan lupa doakan ibu supaya cepat pulang. Ayah menyayangimu, Sayang." Marvin beralih mengecup niskala terlebih dahulu yang membuat bocah berusia tiga tahun itu ikut mengecup pipi gembul adiknya.
"Ayo kita berangkat!" Marvin membopong tubuh Ailey dan membawanya keluar.
Saat tiba di ruang tamu, Marvin sedikit terkejut ketika melihat kedatangan Ivander dan juga Anne. Pria itu menatap terkejut pada Anne yang tengah berjalan mendekat padanya, dengan Kanwa yang ada di dekapannya.
"Kapan kau kembali? Aku senang kau kembali," tanya Marvin yang langsung disambut dengan senyum hangat milik wanita itu.
"Pagi ini. Aku baru selesai beberes dan langsung pergi kemari. Bagaimana keadaanmu? aKu turut prihatin dengan apa yang menimpa Sherina." Anne mengelus punggung Ailey yang berada di gendongan ayahnya.
"Terimakasih. Oh ya, masuklah. Niskala ada di kamarnya. Aku harus mengantarkan Ailey ke sekolahnya terlebih dahulu." ucap Marvin mempersilahkan, yang mambuat Anne menatap Ivander untuk beberapa saat.
"Tidak perlu, biarkan aku yang mengantar Marvin kecil ini ke sekolahnya. Kalian mengobrol lah, ambil waktu kalian." Marvin segera memberikan putrinya ke Ivander yang sudah membuka kedua lengannya dan bersiap menggendong gadis kecil itu.
__ADS_1
Anne menatap punggung kekar milik seorang pria yang saat ini tengah berjalan menjauhinya, untuk mengantarkan anak pertama Marvin. Dia melangkahkan kakinya masuk ke kamar Niskala, mengikuti Marvin yang mengarahkannya.
"Hai bibi. Aku sudah segar..." Marvin mengangkat putrinya dan memperlihatkannya pada Anne.
Wanita yang terlanjur gemas dengan gadis kecil yang ada di gendongan Marvin itu, dengan segera langsung mengambil alih dari sang ayah, setelah meletakkan Kanwa di tengah ranjang.
"Di antara semua bayi yang pernah ku temui, jujur saja hanya Niskala yang begitu menawan. Lihatlah, hidungnya benar-benar duplikat hidung mu. Wajahnya juga sangatlah mirip dengan ibunya. Benar-benar cantik." puji Anne dengan sangat gemas, yang membuat senyum hangat Marvin muncul di bibinya.
Anne terdiam untuk beberapa saat, menatap wajah cantik milik bocah yang saat ini berada di dekapannya.
"Dia yang memintamu untuk kembali?" Marvin duduk di atas kasur, dan menatap Anne yang masih berdiri dengan putrinya di gendongannya.
"Terakhir kali saat Sherina memberi kabar padaku jika Ivander sudah bercerai, dan mengurus Kanwa seorang diri. Sebenarnya aku sudah sangsi, apakah pria itu benar bisa bekerja sama dengan Nessie untuk mengurus Kanwa atau tidak. Tapi nyatanya aku tidak bisa merasa acuh ketika tahu jika Sherina koma."
Marvin menghela napasnya ketika diingatkan dengan kondisi sang istri yang berada di rumah sakit. Dia menundukkan kepalanya sejenak, dan menghembuskan napasnya dengan begitu dalam.
"Satu bulan. Entah kenapa aku takut dengan diagnosa dokter itu. Aku bahkan tidak tahu harus berbuat seperti apa ketika ditinggalkan Sherina selama itu. Aku memiliki dua putri, mereka membutuhkannya." Ucap Marvin dengan nada tertahan.
Anne yang tahu bagaimana perasaan Marvin itu, menepuk bahu kekar milik pria yang sudah dirinya anggap sebagai kakak kandungnya.
__ADS_1
"Ada aku. Aku akan membantumu merawat gadis-gadis menggemaskan kalian. Jangan anggap aku orang lain, aku adikmu. Kau lupa itu?" Marvin tersenyum sejenak lalu mengingat bagaimana banyaknya pengorbanan Anne untuk hubungannya dengan Sherina.
Wanita itu bahkan tidak merasa muak dengan semua pertanyaan yang dahulu dia ajukan tentang keadaan Sherina dan kandungannya. Dia bahkan tidak pernah membuat Sherina meras kecewa dengan semua sikapnya.
"Nyatanya aku lebih bahagia jika dia sehat dan tidak terlalu memperhatikan ku, karena anak-anak. Daripada melihatnya seperti ini. Aku putus asa, Ann." Marvin tidak pernah bisa menyembunyikan bagaimana perasaannya ketika bersama Anne. Wanita ini bisa diandalkan dalam berbagai hal.
Anne tidak dapat melakukan banyak hal. Dia hanya bisa memberi kata-kata penyemangat seperti yang biasa dia lakukan. Keduanya nyatanya dapat memberikan feedback yang cukup besar setelah kembali bertemu.
Tidak lama setelahnya, Ivander kembali dan memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Seperti yang sudah dirinya rencanakan dengan Anne, akhirnya mereka berangkat bersama.
****
Ivander yang terbangun di tengah malam itu, berjalan keluar kamar dan terkejut ketika melihat Anne yang masih duduk di depan televisi dengan lampu yang di matikan.
Wanita itu terlihat menatap kosong televisi yang ada di depannya, dengan pelukan erat yang dia berikan di kedua lututnya.
Perlahan Ivander mendekat dan duduk di sebelah wanita yang bahkan tidak menyadari kedatangannya. Sejenak pria itu mengamati Anne, dan ikut menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Ingin mengatakan sesuatu?"
__ADS_1