Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 145


__ADS_3

Pagi harinya, Sherina yang baru saja membuka terbangun itu, perlahan mulai membuka matanya ketika merasakan tekanan yang ada di perutnya.


"Ayo bangun, Sayang. Ini sudah hampir pukul tujuh," ucap seorang pria dengan nada beratnya, yang membuat Sherina mengangkat tangannya untuk meregangkan ototnya.


Seketika senyum manis milik pria itu merekah dengan begitu saja, tatkala melihat kedua mata istrinya sudah terbuka. Dia kembali mengecup perut rata milik Sherina, lalu menaikkan tubuhnya agar sejajar dengan sang istri.


"Sudah rapi? Bagaimana dengan Ailey?" tanya Sherina dengan suara seraknya, yang dihadiahi dengan kecupan singkat di bibirnya.


"Sudah siap semua, baginda ratu. Aku akan mengantar Ailey, jadi aku membangunkan mu. Takut-takut kalau Niskala mencari," jawab Marvin dengan begitu lembut sembari mengelus puncak kepala milik istrinya.


"Tidak mengambil cuti?" Marvin seketika tersenyum setelah mendengar pertanyaan istrinya.


"Aku ada urusan mendadak di perusahaan. Tapi aku berjanji, setelah urusannya selesai, maka aku akan segera pulang." Marvin kembali mengecup bibir milik istrinya itu, sebelum akhirnya mengambil sikap duduk.


"Segera mandi, dan temani Niskala. Okay, Sayangku?" perintah Marvin dengan begitu lembut, yang langsung membuat Sherina bangkit dari tidurnya.


"Hmm, baiklah. Kau, hati-hati dijalan." Setelah mengatakan itu, Ailey datang dengan semua perlengkapan sekolahnya mendekat pada sang ibu.

__ADS_1


"Bunda, kakak titip Niskala ya? Kakak tidak bisa menjaga Niskala, hari ini ekstrakurikuler taekwondonya baru dimulai. Kakak takut ketinggalan, Bun."


Sherina yang mendengar ucapan polos putrinya itu, tersenyum tipis. Tapi di detik selanjutnya, wanita terkejut setelah tahu jika putrinya ini mengambil ekstrakurikuler tambahan. Terlebih lagi, itu taekwondo.


"Loh, kakak ikut? Perasaan bunda belum baca formnya." tanya Sherina kebingungan, yang justru langsung dijawab oleh suaminya.


"Ini baru jagoan ayah. Ayo sayang, kita berangkat." tanpa melihat keterkejutan di wajah istrinya, Marvin segera menggendong Ailey, setelah gadis itu mengecup singkat pipi ibunya.


"Marvin! Astaga, dia putrimu!" Sherina menggeleng tak percaya, bagaimana bisa suaminya ingin mendidik Ailey layaknya didikan seorang putra.


Tak ingin membuang banyak waktunya, Sherina segera bangkit dan membersihkan dirinya. Setelah semua selesai, dia bergegas hendak naik ke kamarnya.


Senyum tipis wanita itu mengembang tatkala mengingat bagaimana perjuangan suaminya untuk mendapatkan cintanya, kala itu. Ya, Marvin merupakan pria dengan prinsip yang begitu kuat. Dia akan terus memperjuangkan apa yang sudah dia inginkan.


Beberapa saat setelah dirinya melamun, tiba-tiba saja bel rumahnya berbunyi. Karena dirinya baru sadar jika Bu Nita tengah pergi ke supermarket, Sherina bergegas bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar.


Langkah wanita itu terus tertuju ke pintu yang tak henti-hentinya diketuk. Dengan sekali tarikan saja, pintu tersebut langsung terbuka lebar.

__ADS_1


Sherina sedikit terkejut tatkala melihat Alissa yang sudah berdiri tegap, dengan baju ketat dan make up tebalnya. Alis wanita itu terangkat, saat melihat bagaimana merah dan beraninya bibir milik wanita yang ada di hadapannya kali ini.


"Maaf, ini bukan rumah bordil. Kau salah alamat." ucap Sherina sedikit menahan risihnya, sembari memindai penampilan Alissa dari atas hingga bawah.


"Dasar wanita tak tahu malu! Dimana putriku dan Marvin!?" Sherina melengkungkan bibirnya ke bawah sembari menaikkan kedua alisnya.


"Putrimu yang mana? Dan siapa Marvin yang kau maksud itu? Apa maksudmu suamiku!?" tanya Sherina lagi dengan begitu santai, nyatanya berhasil membuat Alissa meradang.


"Stop membuat drama, Sherina! Jangan ikut campur dengan urusanku! Urusanmu sudah selesai, dan sudah saatnya kau serta anakmu itu pergi dari hidup Marvin dan putriku!" bentak Alissa arogan, yang tak membuat Sherina ketakutan sedikitpun.


"Siapa kau? Kenapa kau bertingkah seolah-olah suamiku sudi melihat wajah menjijikanmu itu, hm? Oh, atau mungkin kau ingin membuat drama lagi? Oke, kali ini apa? Kau akan segera mati, atau kau akan gila karena tidak mendapatkan Marvin?"


Alissa mengepalkan tangannya. Dia menatap penuh dendam pada wanita yang dahulu pernah membantunya. Meskipun itu semua hanya rencana busuknya, tapi setidaknya niat Sherina sangatlah tulus.


"Dengarkan aku. Lepaskan saja Marvin. Bukankah kau lihat jika dia sudah lelah denganmu? Berikan dia padaku, toh aku juga pernah menjadi wanita yang dia cintai."


Sherina tidak langsung menjawab. Dengan begitu tenangnya, tangan kanan wanita itu terangkat, dan langsung menurunkan lengan dress-nya, sehingga menampilkan bahu mulusnya yang kini berwarna keunguan. Bekas tanda kepemilikan yang suaminya tinggalkan, semalam.

__ADS_1


"Ya, aku tahu dia lelah. Tapi mungkin maksudmu lelah yang ini. Benar?"


__ADS_2