
Dengan hati yang terasa sangat sakit, Sherina bangkit dari duduknya dan meninggalkan Marvin yang seketika itu langsung menyesali ucapannya. Ya, ucapan itu spontan langsung keluar dari bibirnya lantaran dia takut jika Sherina benar benar akan meninggalkan dia untuk selamanya.
Melihat Sherina yang langsung pergi, pria itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan dengan kekuatan penuh supaya tidak limbung dan jatuh. Dia berusaha menyusul Sherina dan berhasil masuk ke kamar milik wanita yang menatapnya dengan tatapan penuh ketakutan.
"Sayang aku minta maaf. Aku benar- benar tidak berniat mengucapkannya. Aku hanya takut kau meninggalkanku. Aku mohon maaf," ucap Marvin raut seriusnya yang tidak di dengarkan oleh Sherina.
Wanita itu mundur dan akhirnya terduduk di ranjang. Marvin dengan cepat menahan wanita itu, dengan menggenggam kedua tangannya dan berjongkok di hadapan sang istri.
"Aku mohon maafkan aku. Percaya padaku, aku tidak akan pernah melakukannya. Aku mencintaimu." ucap Marvin berulang- ulang yang semakin membuat Sherina membenci dirinya.
"Kau mencintaiku, kau bilang? Mana yang lebih tepat, mencintaiku atau perlahan ingin menghancurkan ku? Apakah dengan penyesalan dan rasa menyesalku karena harus koma berbulan-bulan, lalu kini kau menambahnya dengan ucapan kejimu itu? Aku akan sendirian, kau bilang?"
Sherina menarik napasnya dengan sekuat yang dia bisa. Sesak rasanya harus mengutarakan semua yang dia rasakan, tanpa sang suami tahu caranya mengerti.
"Aku kecewa padamu, Vin. Aku sudah mencapai batas sabar ku, dan aku mohon, kali ini lepaskan aku." ucap Sherina dengan begitu tenang setelah mencoba untuk meredamkan tangisannya.
Marvin menggelengkan kepalanya, tidak akan pernah melepaskan Sherina dalam keadaan apapun itu. Dia memeluk wanita itu, meronta, dan memohon agar dia tidak meninggalkannya.
Tapi karena rasa sakit hati yang sudah terlalu banyak menumpuk di hatinya, membuat Sherina langsung bangkit. Wanita itu bergegas mengambil semua barang- barangnya dan tidak lupa dengan kopernya.
Marvin berusaha keras untuk menahan sang istri. Tapi apa dayanya, Sherina yang sudah sangat marah dan dapat dengan mudah menyingkirkan Marvin. Terlebih lagi pria itu sedikit kehilangan kesadarannya.
"Jangan pernah mengharapkan kembali ku, Vin. Apapun yang akan kau hadapi di masa depan nanti, aku selalu mendoakan yang terbaik." Sherina menekankan hal ini pada Marvin yang sudah menangis.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Marvin mencoba mendekap sang istri dan melarangnya untuk pergi. Tapi Sherina yang memang sudah sangat kecewa dengan sang suami itu memutuskan untuk tetap pergi.
Dia membawa kopernya dengan paksa dan langsung menuju ke kamar putrinya. Dia mengucup Ailey dengan begitu lama, beriringan dengan air mata yang terus membasahi kening gadis kecilnya itu.
"Bunda sayang kamu, Nak. Bunda minta maaf," ucap wanita itu dengan rasa sesak yang luar biasa dan kembali mengecup putri kecilnya tersebut untuk terakhir kalinya.
Setelah puas menciumi Ailey, Sherina segera mengambil putri kecilnya yang masih tidur lelap, dan membawanya ke gendongannya. Marvin yang melihat hal tersebut pun menggelengkan kepalanya dan menghalangi jalan Sherina.
Wanita tersebut berusaha sekuat mungkin untuk menghindar dari Marvin. Tapi apa dayanya karena pria itu hendak mengambil Niskala dari gendongannya dan juga merebut kopernya, membuat Sherina membalikkan tubuhnya.
"Berani kau sentuh anakku dan menghalangi langkahku, maka aku akan mengajukan gugatan cerai hari ini juga!" ancam Sherina yang langsung membuat Marvin membeku.
Pria itu berdiri kaku dan menyaksikan istrinya pergi membawa putri bungsunya bersama dengannya. Rasa sesak yang begitu hebat, dengan getaran luar biasa di dadanya membuat matanya memanas.Dia menatap tak percaya pada hal tersebut, dan kembali menyusul Sherina.
Dia memasukkan Niskala yang mulai terbangun, dan menangis ketika tahu jika ibunya hendak membawa pergi dirinya dari ayah dan kakaknya.
"Bunda! Kala mau Kakak!" Sherina yang sudah berusaha mati matian untuk menahan air matanya itu, gagal sudah.
Dia memukul kemudinya dan menatap sang anak dengan tatapan putus asa. "Sayang, Bunda mohon jangan seperti ini. Bunda cuma punya kamu, Sayang."
Sherina memeluk anaknya yang sudah menangis dan meminta untuk dibukakan pintu olehnya. Dia mendekapnya dengan begitu erat, tak menghiraukan Marvin yang berteriak dari luar sana dan sesekali mengetuk kaca mobilnya.
"Sherina. Tolong jangan seperti ini! Jangan buat Niskala ketakutan! Dia ingin kakaknya!" ucap pria itu setelah mengetahui jika putrinya menangis.
__ADS_1
Seolah tidak mendengar apapun, Sherina segera menyalakan mobilnya dan membawa pergi Niskala, tanpa menghiraukan Ailey yang juga tengah menangis di belakang suaminya.
"Bunda!"
Marvin yang mendengar suara tangisan putrinya itu dengan cepat langsung membalikan badannya dan menghampiri Ailey. Marvin menekuk kedua lututnya di hadapan sang putri dan langsung memeluknya dengan begitu erat. Dia menghujani puncak kepala putrinya dengan kecupannya, seolah menenangkan agar dia berhenti menangis.
"Sst... tenanglah. Ayah ada di sini untukmu, Sayang." Marvin memejamkan matanya dan memeluknya semakin erat.
Marvin menatap suasana malam yang begitu sunyi dengan penyesalan yang begitu besar dalam hidupnya. Kini dia harus segera menangkan Ailey dengan menggendongnya dan membawanya kembali masuk. Dia berusaha sekuat mungkin agar putrinya berhenti menangis dan tidak lagi memanggil bundanya.
"Sayang, ayah mohon padamu untuk jangan menangis. Ayah ada di sini, untukmu. Besok kita jemput bunda, ya?" ucap Marvin menenangkan putrinya dan mulai merebahkan tubuh kecil Ailey ke atas ranjang.
Pria itu mulai menghembuskan nafasnya lega, setelah melihat putri kecilnya sudah kembali terlelap. Marvin menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang dan mulai memijat keningnya.
Semua ini terjadi murni karena kesalahannya. Andaikan dirinya tidak menuruti permintaan Alissa untuk meminum alkohol, mungkin masalahnya dengan sang istri tidak akan bertambah rumit seperti sekarang ini.
Dia begitu menyesal, sangat-sangat menyesal bahkan sampai membenturkan kepalanya ke sandaran ranjang. Andai waktu bisa diputar kembali dirinya akan langsung mengusir Alissa yang mampir ke rumahnya.
Dia mencoba mencari ponselnya dan hendak menelepon Sherina. Demi apapun, dirinya tidak akan pernah bisa sanggup untuk hidup jika tidak ada sang istri di sebelahnya.
"Aku mohon maafkan aku, Sher. Aku menyesal." gumam Marvin penuh penyesalan yang tidak akan lagi bisa mengubah apa pun.
Pria itu mencoba berpikir sejenak dan menetap ke sembarang arah. Dia berpikir apakah yang harus dia lakukan untuk menemukan Sherina dan membawanya pulang. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan langsung menjelaskan semuanya pada Sherina, jika istrinya benar -benar memberikan kesempatan padanya.
__ADS_1