Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 42


__ADS_3

Sherina yang pada awalnya benar-benar menolak pemberian Marvin itu, pada akhirnya tetap tidak bisa.


"Aku sudah katakan padamu, aku tidak bisa menerimanya." Sherina menatap Marvin yang masih fokus mengemudi.


Sherina yang tak digubris oleh Marvin itu, mulai memegang lengan pria itu. Dia menghembuskan napasnya, karena lelah dengan sikap arogan Marvin.


"Vin, kau ini bukan siapa-siapaku. Aku takut ada pembicaraan yang tidak-tidak, tetang semua yang kau berikan padaku."


Marvin menggelengkan kepalanya sejenak, lalu menghentikan mobilnya ketika mereka tiba di persimpangan, karena lampu berubah menjadi warna merah.


"Apa yang kau khawatirkan, hm? Tidak akan ada pembicaraan tentangmu. Dan untuk masalah, aku ini bukan siapa-siapa mu, maka dari itu buat aku jadi bagian dari hidupmu."


Marvin menatap Sherina dengan tatapan dalamnya. Dari ucapan yang pria itu katakan, dia sangat berharap jika Sherina dapat membuka hatinya untuk dirinya.


Sherina kini merasa mati kutu dengan permintaan yang dia berikan pada Marvin. Dia menatap lurus ke depan dengan helaan napas panjangnya.


"Maafkan aku jika aku terkesan memaksamu," ujar Marvin lalu mengusap kepala Sherina.


Setelah lampunya berubah menjadi warna hijau, Marvin kembali melajukan mobilnya untuk pergi ke restoran. Dia memutuskan untuk mengajak Sherina dinner, sebelum mengantarkan wanita itu pulang.


Keduanya segera keluar dan masuk ke restoran dengan bintang lima itu. Lagi dan lagi, Marvin disemprot oleh Sherina karena culture shock mereka berdua.


"Vin, kita bisa makan di rumah. Aku bisa memasak untuk makan malam kita. Tidak harus di sini," bisik Sherina setelah Marvin menundukkan kepalanya.


Marvin tersenyum dengan begitu manisnya, lalu mengecup bibir milik wanita itu. Seketika jantung Sherina berhenti berdetak untuk beberapa saat. Tubuh wanita itu seketika membeku saat Marvin menciumnya.


"Manis," bisik Marvin saat melihat wajah kaget wanita itu.


Sherina tersadar, first kissnya bahkan baru saja diambil oleh Marvin. Dia tak habis pikir dengan pria itu. Bagaimana bisa dengan begitu entengnya, pria itu menciumnya di tempat umum.

__ADS_1


Saat pria itu mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat duduk, tatapan pria itu langsung bertemu dengan mata elang milik Ivander. Pria itu terlihat tengah menatapnya dengan tatapan sengitnya. Ya, pria itu melihat apa yang baru saja Marvin lakukan pada istrinya.


Dalam hatinya, Ivander merasa dicurangi oleh Sherina. Dia tak sadar dengan apa saja yang sudah dirinya perbuat pada istrinya selama mereka menikah.


Dia membuat Sherina menunggunya selama setahun. Dia membiarkan Sherina menghadapi kesendiriannya seorang diri. Sedangkan dirinya justru mencari kesenangan pada wanita lain.


"Ku rasa Jerman ini terlalu sempit untuk kita berdua," ucap Marvin saat melewati Nessie dan Ivander, lalu duduk tepat di sebelah keduanya.


Sherina yang melihat keduanya itu, sama sekali tak menampilkan ekspresinya. Dia membiarkan Marvin duduk tepat di sebelah Ivander, hanya tersisa ruang untuk berjalan bagi orang yang lewat.


Nessie yang masih penasaran dengan sosok Marvin itu, diam-diam mencuri pandang pada pria itu. Sementara itu, Sherina tengah bingung memilihkan makanan untuknya dan juga Marvin.


"Apakah aku bisa mendapatkan rokok ku?" tanya Marvin ketika melihat Sherina yang masih sibuk dengan buku menunya.


Sherina sama sekali tak mengalihkan tatapannya dari daftar menu yang ada di tangannya. Wanita itu menggelengkan kepalanya, sambil mengambil pulpen untuk menulis makanan yang hendak dirinya pesan.


Marvin yang sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu, hanya menganggukkan kepalanya. Pria itu kembali sibuk dengan ponselnya.


Interaksi manis yang terjadi antara Marvin dan Sherina itu, terlihat sangat memuakkan bagi Ivander. Pria itu mencengkeram pisau makannya dengan sangat erat.


'Jika tidak di tempat umum, aku pasti sudah pastikan pisau ini menembus matanya!' kesal Ivander lalu melanjutkan makannya.


Setelah selesai memesan makanannya. Sherina mengeluarkan rokok milik Marvin, yang membuat pria itu mengernyit. "Masukkan saja, aku akan merokok ketika sudah selesai makan."


Sherina menggelengkan kepalanya dan mengatakan jika pesanan mereka akan tiba dalam waktu yang sedikit lama. Maka dari itu Sherina memberikan rokok milik pria itu. "One only."


Setelah melihat senyum miring milik pria itu, Sherina segera pergi ke kamar mandi. Nessie yang melihat hal tersebut pun memutuskan untuk menyusul Sherina.


"Kau memiliki dua istri, tapi hanya satu yang mampu kau urus? Mau ku bantu untuk mengurusnya?" Marvin tertawa remeh, sembari menyalakan rokoknya.

__ADS_1


Ivander yang paham dengan apa yang dikatakan oleh Marvin itu, mengeratkan rahangnya. Dia mengangkat sebelah kakinya, dan dia jadikan pahanya yang satu untuk menopang kakinya.


"Kau tak memiliki cara yang lebih gentle lagi, untuk mendekati istri orang? Kau sudah dengan jelas mengetahui jika Sherina adalah istriku, lalu dengan mental pemulung mu, kau hendak merebut apa yang masih menjadi milik orang lain? Cih,"


Marvin kembali tertawa mendengar omong kosong Ivander. Pria itu menolehkan kepalanya ke samping, dan menatap Ivander dengan senyum liciknya.


"Istrimu, kau bilang? Suami mana yang menelantarkan istrinya demi wanita lain. Dan suami mana yang memutuskan untuk memilih wanita murah, padahal dia memiliki istri yang begitu sempurna?"


"Dan ya, apa tadi kau bilang? Aku hendak merebut Sherina darimu? Oh tentu jelas. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk merebut Sherina dari pria baji*ngan sepertimu."


Sementara Sherina yang tengah mencuci tangannya itu, terkejut karena ternyata Nessie juga pergi ke kamar mandi. Wanita itu berdiri tepat di sebelah Sherina, dan menyandarkan tubuhnya di tembok.


"Kau senang, sekarang? Setelah lepas dari Ivander, kini kau mendapatkan pria sekaya Marvin? Sepertinya memang kau ini sangat senang dengan harta," ujar Nessie sembari membenarkan riasan di wajahnya.


Sherina yang mendengar ucapan Nessie itu, menghembuskan napasnya lalau menatap Nessie dengan tatapan tajamnya.


"Kenapa yang ada di otakmu itu hanya harta, harta, dan harta?! Apakah kau hidup hanya untuk terus-terusan mengintai seberapa kaya pria yang sekarang bersamaku?"


Sherina tak habis pikir dengan jalan otak wanita ini. Yang ada di pikirannya adalah, kenapa Nessie tak pernah puas mengusiknya, padahal dia sudah memberikan Ivander sepenuhnya pada wanita itu.


"Kau keberatan dengan hal itu, hah!? Nyatanya kau selalu mendapat pria yang lebih dan lebih kaya! Apakah kau menghasut mereka agar mereka mau dengan wanita menjijikan sepertimu?"


Kesabaran Sherina benar-benar diuji ketika dirinya bersama dengan Nessie. Dia mendekat, dan mencengkeram lengan wanita itu.


"Kenapa? Kau mengiri padaku, hm!? Kau berhasil mendapatkan Ivander, kemarin. Aku pikir karena ada kurang pada diriku, sampai-sampai ivander mencari kekuranganku itu pada wanita murahan sepertimu!" hina Sherina dengan perasaan yang sudah sangat muak.


"Tapi nyatanya tidak! Tidak ada yang kurang dari diriku yang sempurna ini! Kau berhasil mendapatkan Ivander karena kalian sepadan. Kalian sama-sama rendahannya! Jika setelah kau berhasil mengambil Ivander dariku, lalu kini kau ingin melakukan hal yang sama lagi padaku," Sherina menjeda ucapannya dan mendekatkan wajahnya pada Nessie.


"Ambil saja, jika kau mampu!"

__ADS_1


__ADS_2