
Laki-laki yang baru saja tersadar dari pengaruh obat bius itu mulai tersadar. Dirinya tak langsung membuka kedua matanya, dia menahan rasa sakit yang menyerang seluruh tubuh bagian kanannya. Terutama pada bagian kening dan bahunya.
Saat matanya masih terpejam, ingatan tentang tragedi kecelakaan yang menimpa dirinya dan juga ibu dari calon anaknya itu seketika membuat laki-laki itu membuka kedua matanya.
"Nessie?!" Ivander yang sontak hendak memalingkan wajahnya ke samping itu pun seketika meringis kesakitan, tatkala luka yang ada di tubuhnya tergesek pergerakannya.
Ivander yang benar-benar merasakan sakit itu pun kembali memejamkan matanya dan melipat bibirnya ke dalam, untuk menahan rasa sakitnya. Kelopak mata lai-laki itu perlahan terbuka saat dirinya merasakan ada sebuah tangan yang membantu dirinya untuk kembali ke posisi semula, yang sama sekali tak mengganggu lukanya.
Tangan mungil dan lembut itu benar-benar tanggap saat membantu Ivander kembali ke posisi awalnya. Seperti sudah hafal di mana saja letak luka dalam tubuhnya, Ivander sama sekali tak merasa kesakitan.
"Apakah kau sangat-sangat mengkhawatirkan wanita itu, sampai keadaan mu sendiri tak kau pikirkan?" ucap seorang wanita yang ternyata adalah Sherina.
Wanita yang beberapa saat baru saja tiba kembali di rumah sakit itu, membenarkan letak selimut yang menutupi sebagian tubuh sang suami. Wanita itu sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari selimut yang tengah dia pegang, lantaran dirinya tahu bahwa sang suami tengah menatapnya.
"Di mana Nessie?" tanya Ivander dengan nada penuh amarah, tetapi laki-laki itu tahan. Entah apa yang tengah Ivander pikirkan sampai-sampai dirinya menatap Sherina dengan tatapan tajamnya.
"Tenanglah, dia dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja. Kau tak perlu memikirkan mereka dengan begitu serius. Mereka baik-baik saja." Dengan memperjelas kata 'mereka', Sherina menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang suami.
"Kau tak seharusnya memikirkan sekretaris mu itu dengan sangat intensif. Kalian mengalami kecelakaan kerja yang umum terjadi, dan pihak perusahaan sudah bertanggung jawab. Jadi, aku sarankan padamu untuk memikirkan keadaan mu terlebih dahulu sebelum kau memikirkan sekretaris mu yang tengah mengandung itu." Seolah belum mengetahui apa yang terjadi, Sherina tersenyum miring sembari menatap sang suami dengan tatapan ibanya.
Ivander yang mendengar jawaban dari istrinya itu, seketika mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tatapan tajam milik laki-laki itu, kini beradu pandang dengan tatapan Sherina yang nampak biasa-biasa saja. Ivander tahu, pasti kini istrinya sudah mengetahui semuanya.
__ADS_1
Ivander masih menatap Sherina dnegan tatapan tajam dan rasa amarahnya, bahkan hingga Sherina memutar badan hendak kembali ke sofa yang ada di ruangan rawatnya.
"Jangan turut campur dalam hubunganku dan Nessie! Kau hanya orang asing yang berhasil menghancurkan keluargaku!" bentak Ivander dengan nada tinggi, yang membuat Sherina menghentikan langkahnya.
Wanita itu mengeratkan rahangnya sembari mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Rasa sesak yang sejak semalam telah mengobrak-abrik perasaannya, kini semakin bertambah dan membuat Sherina benar-benar merasa lelah.
"Dan kau pikir aku memiliki waktu untuk memikirkan hubungan gelapmu dengan sekretaris mu itu? Tenang lah, aku masih cukup sibuk, hingga aku tak mungkin sempat memikirkan hubungan kalian. Jangankan berpikir, membayangkan kau akan selingkuh saja, tak pernah terbesit dalam pikiranku." Air mata yang hendak menetes itu, sekuat tenaga Sherina tahan.
Dirinya tak mungkin menangis di hadapan sang suami, yang bahkan sudah terang-terangan membenci dirinya.
"Jika kau berpikir dengan terungkapnya skandal perselingkuhan mu ini, aku akan menyerah, maka aku persilakan padamu untuk kembali bermimpi. Aku tidak akan pernah lebih dulu menyerah, kecuali jika aku sudah merasa sangat puas."
"Kamu berhak mempertahankan rumah tanggamu, Rin. Kamu lah istri sah Ivan, sementara wanita itu? Dia hanya wanita murahan yang tak tahu diri. Jangankan kedua mertua mu, bahkan pegawai di perusahannya saja pasti akan menolak hubungan mereka." Ucapan yang dikatakan oleh teman kantornya itu, berhasil membuat Sherina sedikit lebih kuat.
Sherina memindahkan mangkuk yang berisi bubur hangat itu ke atas nakas, yang ada di samping brankar milik suaminya. Belum sempat Sherina mengambil mangkuknya, Ivander lebih dulu mengalihkan pandangannya dari Sherina.
Sherina yang mengetahui isyarat penolakan dari suaminya itu, hanya dapat menghela napasnya dengan penuh rasa sabar. Sherina kembali menarik tangannya ke belakang, dan menatap sang suami yang terlihat sangat tak menyukai kehadirannya.
"Kau tak ingin jika aku yang merawat mu? Baiklah, selamat menderita sendirian Tuan Ivan." Tak ingin ambil pusing, Sherina meninggalkan suaminya yang bahkan belum sarapan sejak pagi.
Ivander yang mendengar ucapan dari Sherina itu sedikit terkejut. Ivander benar-benar merasa bahwa Sherina telah banyak berubah. Selama 1 tahun pernikahan, Sherina bukanlah wanita cuek yang tak menghargai suaminya.
__ADS_1
"Kau pikir jika kau tak ingin dirawat olehku, itu akan membuat kekasihmu datang kemari dan menggantikan posisiku? Aku rasa kau terlalu terobsesi dengan pesona sekretarismu itu," ucap Sherina sembari membuka layar laptopnya.
Sherina melampiaskan rasa kecewanya dengan membuka kembali pekerjaan kantornya yang sempat tertunda, karena iktikad baiknya untuk menjaga sang suami.
Sherina mengalihkan pandangannya sedikit ke samping karena dirinya merasakan bahwa matanya mulai memanas. Hati wanita mana yang tak sakit jika laki-laki yang mereka sayangi lebih memilih wanita lain, yang bahkan tak berperan apapun dalam kehidupan suami mereka.
"Aku ingin bertemu dengan Nessie. Bawa dia kemari," ucap Ivander yang membuat Sherina memejamkan matanya. Air mata wanita itu luruh dengan begitu saja. Namun dengan segera Sherina menghapus air matanya dengan begitu kasar.
"Bukankah kau selalu menemuinya sendirian, tanpa diriku? Lalu mengapa sekarang kau memintaku, untuk membawamu bertemu dengannya?" Tanpa mengalihkan pandangannya pada sang suami, Sherina membalikkan fakta yang memang ada pada diri sang suami.
Ivander yang mendengar perkataan dari Sherina itu, tak lagi berniat untuk meminta bantuan dari wanita yang sangat dia benci. Ivander lebih memilih untuk mencari ponselnya karena dirinya ingin meminta bantuan dari asistennya.
Namun karena dirinya tak kunjung menemukan ponselnya, Ivander pun nekat bangun dari posisinya. Tak dapat dipungkiri, Ivander berusaha sekuat mungkin untuk menahan rasa sakitnya. Tapi apa boleh buat, lukanya yang belum mengering berhasil membuat Ivander kembali meringis kesakitan.
Sherina yang mendengar ringisan dari sang suami itu pun segera bangkit dari duduknya. Wanita itu langsung tanggap dan berjalan mendekati sang suami yang hendak duduk.
"Apa yang kau lakukan?! Kau bisa meminta bantuanku, apa yang susah dari ucapan meminta tolong padaku?! Bagaimana jika jahitannya kembali terbuka?" ujar Sherina dengan penuh kekhawatiran, sembari membantu Ivander duduk dan bersandar pada bantal yang telah dia siapkan.
Ivander yang awalnya fokus pada rasa sakitnya, kini teralihkan pada ucapan yang dikatakan oleh istrinya. Baru kali ini Ivander mendengar ocehan khawatir dari istrinya, bahkan selama pernikahan keduanya berjalan.
Laki-laki itu menatap wajah Sherina dengan begitu dekat. Netra berwarna abu-abu itu menatap dengan lekat, wajah cantik milik Sherina yang kini terbalut rasa khawatir.
__ADS_1
"Andai kau bukan wanita itu, Rin."