
Sherina diam tak berkedip. Tak lama setelahnya, Marvin langsung menutup panggilannya dengan sepihak. Sherina menjauhkan ponselnya dari telinganya, dan menangis dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Aku menyesal," tangis Sherina lalu meluruhkan tubuhnya ke lantai.
Wanita itu mengelus perutnya yang terasa begitu kram sambil menahan rasa sakitnya. Wanita itu menengadahkan kepalanya, ketika dirinya tidak dapat lagi menahan rasa sakitnya.
"Aakhh!" Teriak Sherina dengan begitu histeris, beriringan dengan keringatnya yang mulai muncul di keningnya.
"Ibu! Astaga!" Sherina melipat bibirnya ke dalam sambil memejamkan matanya.
Wanita itu seketika membuka kedua matanya saat merasakan jika ada sesuatu yang mengalir dari bagian utamanya. Sherina terkejut saat melihat darah yang mengalir dengan lumayan deras dari selang*kangannya.
"Anne! Anne!" Teriak Sherina dengan harapan agar Anne mendengar suaranya.
Meskipun hak tersebut sangat mustahil, tetapi tidak ada yang dapat Sherina lakukan selain berteriak. Wanita tersebut mencoba mengatur ritme napasnya. Dia mencoba mengambil ponselnya dan langsung menelepon Anne.
Tapi seolah semesta sedang tidak berpihak padanya, tak satupun panggilan darinya yang diterima olehnya. Lantaran tak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa, wanita itu langsung menelepon Ivander. Ya, hanya pria itulah yang mampu membantunya.
"Aku mohon, tolong angkat teleponnya." Sherina memohon dalam hati, dengan air mata yang masih saja mengalir.
Wanita itu mencengkeram bagian bawah perutnya yang semakin terasa dipelintir dari dalam. Tapi tak lama setelahnya, dia merasa lega karena Ivander menerima panggilannya.
"Iya, Sher?" Suara serak dari pria itu menandakan jika Sherina mengganggu tidurnya.
__ADS_1
"Van ... Aku minta tolong." Suaranya yang lirih dan terbata karena menahan sakit itu, membuat Ivander langsung terbelalak.
Pria itu menegakkan tubuhnya dan mencoba mengembalikan kesadarannya. "Sher? Apa yang terjadi! Ada apa denganmu!?"
Sherina menahan napasnya saat merasakan nyeri yang begitu luar biasa dari perutnya. "Datanglah ke rumah! Aku takut bayiku kenapa-napa! Aku mohon, Van!"
Disela rasa sakitnya Sherina mengatakan hal tersebut. Dia tidak mungkin berbicara banyak saat ini, jadi dia langsung mengatakan secara langsung pada Ivander.
Dengan cepat, pria itu meninggalkan sang mama yang tengah tertidur menunggu putranya, dan pergi ke rumah Sherina.
Demi apapun, pria itu kini merasa sangat khawatir. Pasti terjadi sesuatu pada Sherina, sehingga wanita itu meminta tolong padanya terlebih dahulu.
Pria itu membelah jalanan kota yang sudah sepi dengan kecepatan tinggi. Ivander berharap agar tidak terjadi sesuatu pada wanita itu, hingga dirinya nanti tiba di sana.
Betapa terkejutnya Ivander ketika melihat kondisi Sherina sekarang. Banyak darah yang sudah mengotori lantai, dengan kondisi Sherina yang mulai melemah.
"Sher!" panggil Ivander dengan begitu panik, lalu bergegas mendekat pada Sherina.
Dengan cepat pria itu langsung mengangkat tubuh Sherina dan membawanya langsung keluar rumah. Setelah mengantarkan Sherina hingga tiba di mobil, pria itu segera masuk dan membawa Sherina ke rumah sakit.
Pria itu menolehkan kepalanya sesaaat, disela kepanikannya ketika mengemudi. Ivander benar-benar tidak tahu harus memberi kabar pada siapa untuk kondisi saat ini. Karena dia sendiri tahu jika Sherina dengan Marvin tengah ada masalah.
Tak lama setelahnya, Ivander yang sudah tiba di rumah sakit dengan Sherina itu, langsung membawa Sherina keluar. Dia langsung mengantarkan Sherina ke Unit Gawat Darurat yang ada di rumah sakit tersebut.
__ADS_1
"Pasien mengalami pendarahan di masa kehamilan tua!" Slaah satu perawat memberi aba-aba pada beberapa perawat lain yanga da di sana.
Ivander hanya bisa menunggu di luar ruangan dengan perasaan yang harap-harap cemas. Dia berharap agar tidak terjadi sesuatu pada Sherina dan kandungannya. Sejak tadi, pria itu berpikir, apakah yang harus dirinya lakukan saat ini.
"Ya, aku harus memberitahu Marvin!" Ivander segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Marvin.
Meskipun persentase marvin akan mengangkat teleponnya sangatlah kecil, tetapi hanya dengan itulah Ivander dapat membantu Sherina.
Panggilan kelimanya masih saja tidak diterima oleh Marvin. Lantaran kesal dengan Marvin yang tak dengan cepat menerima panggilannya, pria itu bersumpah akan menyembunyikan Sherina darinya, jika kali ini dia tidak lagi mneerima panggilannya.
"Ini yang terakhir! Jika kau tak menerima panggilanku, maka aku akan membawa pergi Sherina!" Setelah mengatakan hal itu, Ivander kembali menelepon Marvin.
Beberapa detik pertama panggilannya masih saja diabaikan, hingga akhirnya, seolah dunia tak mengizinkan Ivander membawa Sherina pergi, panggilannya di terima oleh pria itu.
"Selamat malam, dengan Marvin Chadsell di sini. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Dengan bahasa inggisnya yang begitu fasih, pria itu bertanya.
Pada awalnya marvin terkejut karena ada nomor asing yang menghubungi nomor bisnisnya. Setelah menunggu seelama beberapa saat dan nomor tersebut masih terus menghubunginya, akhinya pria itu menerima panggilannya.
"Vin, kau harus segera kembali. Sherina membutuhkan mu." Marvin yang sangat mengenal suara milik siapa itu, seketika mengepalkan tangannya.
"Apakah wanita itu mengadu padamu? Apa yang dia katakan? Dia memintamu agar pura-pura menjelaskan jika tak terjadi apa-apa dengan kalian, hm?" tanya Marvin dengan remehnya, sembari tertawa licik diakhir ucapannya.
"Terserah kau akan menuduh Sherina dengan apapun itu, tapi aku hanya ingin memberitahu jika Sherina masuk rumah sakit! Dia pendarahan!" Dengan nada tegasnya Ivadner mengatakan hal tersebut pada Marvin.
__ADS_1
Kedua pria itu terdiam untuk beberapa saaat, sebelum akhirnya Marvin memutus panggilan keduanya dengan tiba-tiba.