
Sherina tersenyum mendengar penuturan Marvin. Wanita itu mencoba melepaskan genggaman tangan pria itu dengan begitu perlahan.
"Ambil napas terlebih dahulu. Tidak perlu buru-buru." Sherina mengalihkan tatapannya pada pria itu, dan kembali melanjutkan kegiatannya.
Marvin menatap Sherina dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Entah apa yang sebenarnya hendak sampaikan padanya.
"Kita baru saja kembali bertemu, bukan? Jadi kau nikmati saja waktumu setelah kembali bertemu denganku terlebih dahulu." Sherina menjeda ucapannya dan meminta Marvin untuk memakan makanannya.
"Lagipula banyak yang sudah berubah, Vin. Kau kembali setelah aku mulai menerima bayi ini, dan memiliki rencana hidup yang baru." Tubuh Marvin seketika menegang ketika mendengar jawaban Sherina.
"Kau menolak ku?" Dengan nada beratnya, Marvin menghentikan Sherina yang hendak meminum susu hamilnya.
Terdengar helaan napas panjang dari ibu hamil yang duduk di depan Marvin. Wanita itu kembali meletakkan gelasnya ke atas meja, dan melilpat kedua tangannya di atas meja.
"Vin," ucap Sherina dengan nada lembutnya, sembari menatap kedua netra milik pria di hadapannya itu.
Marvin yang seolah sudah tahu dengan apa yang hendak Sherina katakan, memilih untuk menganggukkan kepalanya. "Aku paham."
__ADS_1
Setengah hati wanita itu seketika merasa bersalah ketika melihat reaksi Marvin. Dia tahu jika apa yang dirinya katakan tadi menyakiti hati pria itu.
Disaat Sherina merasa canggung dengan suasana setelah itu, tiba-tiba Marvin bangkit dari duduknya. Pria itu berdiri tanpa menatap Sherina, yang kini menatapnya dengan tatapan kaget.
"Vin," panggil Sherina ketika melihat Marvin hendak berjalan pergi.
Marvin tak langsung menjawab, pria itu memijat tengkuknya dengan sebelah tangan sembari berjalan menuju kamarnya. "Aku tidak lapar. Kau teruskan saja makanmu, dan jangan lupa minum obatmu."
Setelah mengatakan hal tersebut, Marvin bergegas menghilang di balik pintu kamarnya. Sherina yang melihat hal itu seketika merasa jika tubuhnya menegang. Dia tahu apa sebabnya pria itu langsung pergi begitu saja.
Wanita yang tengah mengandung delapan bulan itu menghela napasnya dengan begitu panjang. Dapat dipastikan jika Marvin sekarang tengah marah dengannya.
Setelah meminum susu hamilnya, wanita itu berjalan untuk mengambil nampan dan mengantarkan makanan ke kamar Marvin.
"Vin," panggil Sherina di luar pintu kamar Marvin, sembari membawa nampannya dengan hati-hati.
Tak ada sahutan dari dalam sana. Hal tersebut membuat Sherina harus berdiri lebih lama di depan kamar Marvin.
__ADS_1
"Vin, tolong bukakan pintunya. Aku membawakan sarapan untukmu." Sherina mencoba membujuk Marvin agar bersedia membukakan pintu kamar untuknya.
Lama Sherina berdiri, namun Marvin tak kunjung membukakan pintu untuknya. Hingga tak lama setelahnya, tiba-tiba pintu kamar Marvin terbuka. Sherina yang melihat hal tersebut pun, segera menyodorkan nampannya. "Ini sarapan-"
Sherina yang hendak menawarkan sarapan untuk Marvin itu, seketika memotong perkataannya ketika melihat Marvin yang melewatinya dengan begitu saja.
"Ada sesuatu yang harus ku urus, aku pergi dulu," ucap Marvin sekilas sebelum akhirnya berjalan keluar rumah.
Sherina kaget dengan perubahan pria itu. Wanita itu bahkan berdiri kaku sembari menatap kepergian Marvin dengan mobilnya.
Apa yang saat ini dia rasakan? Kenapa dirinya tidak bisa menerima, sedikit saja perubahan sikap Marvin? Dimana Marvin yang selalu mengecup keningnya sebelum pergi? Dimana juga Marvin yang selalu mengelus serta mengajak bayi mereka berbicara saat dia akan keluar rumah?
Sherina berpikir jika dia akan menjelaskan semuanya pada Marvin, ketika pria itu tiba di rumah nanti. Lalu setelah menelan pil pahitnya, Sherina membawa sarapan untuk Marvin ke dapur, dan menyimpannya.
Sementara wanita itu, dia makan dengan porsi sedikitnya untuk meminum obatnya. Dia tidak mungkin membuat bayinya menderita hanya karena suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Saat Sherina tengah membersihkan meja makannya, samar-samar dia mendengar suara seseorang yang tengah memanggil namanya. Sherina segera meletakkan piring yang ada di tangannya, dan berjalan ke depan.
__ADS_1
Ketika dirinya mengetahui siapa yang datang, wanita itu terkejut. "Ivander?"