
"Apa yang tidak mungkin?! Benar, kau tidak salah membaca! Itu yang selama ini suamimu sembunyikan!" Napas pria itu mulai memburu, seolah luruh sudah semua beban berat yang ada di pundaknya.
Sherina menangis tak percaya. Tidak mungkin jika sang suami telah melewati semua ini sendirian. Gagal ginjal kronis yang bahkan sudah diketahui sejak 4 tahun lalu itu, benar-benar berhasil mengagetkan wanita itu.
Sherina menggelengkan kepalanya, masih menolak semua kebenaran yang baru saja dirinya ketahui ini. Tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain menangisi semua penyesalannya.
"Empat tahun, Sherina... Empat tahun aku menahan semua ini." Marvin mendekat dan mencekal lengan kecil milik istrinya.
"Kau tidak tahu, segila apa aku meminta pada Tuhan agar kau bisa segera sadar. Selain karena aku dan anak-anak membutuhkan mu, aku juga ingin penyakitku ini segera diobati. Aku tidak ingin kau tahu jika aku sakit, jika nyawaku sudah terancam sejak bertahun-tahun yang lalu. Tapi apa? Bahkan setelah kau sadar, kau sama sekali tidak ingin bertemu denganku."
Sherina menarik napas dengan gelengan kepala yang menyertainya. Dia tidak percaya dengan semua yang suaminya ucapkan. Lebih tepatnya dia tidak bisa menerima semua kenyataan yang bermula dari pemikiran buntunya.
"Kau hanya percaya pada mantan suamimu, yang masih mencintaimu. Kau tidak percaya padaku, padaku yang sudah jelas tidak akan pernah berani membuat kepercayaan mu hilang dengan begitu saja. Siapa aku bagimu, Sher? Kenapa kau begitu berubah?"
__ADS_1
Luruh sudah air mata pria itu. Perlahan dia mulai mengikis jarak diantara keduanya, yang membuat Sherina harus mendongakkan kepalanya agar bisa menatap pria tersebut.
"Pisah pisah pisah! Hanya satu kata itu yang selalu keluar dari bibirmu! Sebegitu bersalahnya aku, sampai-sampai kau berulang kali mengucapkan katamenjijikan itu!? Pernikahan kita hanya sampai di sini?" bisik pria itu dengan dada yang terasa begitu sesak.
"Aku sadar, mungkin aku memang bukan jodohmu. Jalan kita sudah mulai berbeda, sekarang. Aku mati-matian memohon pada Tuhan agar kau tidak meninggalkanku, ketika aku tidak bisa melihat wajah cantikmu itu dengan jelas, nantinya. Dan bahkan ketika pendengaranku tidak lagi baik, kau masih Sudi untuk merawat dan mencintaiku. Tapi di sini kau justru berulang kali berharap agar pernikahan kita segera berakhir. Apakah doaku sia-sia?"
Sherina menggeleng. Dia menahan lengan sang suami dengan tangis yang semakin tidak dapat dikendalikan. Dia sadar jika dia bersalah.
"Tidak... Aku mohon maafkan aku. Aku bersalah." ucap Sherina dengan suara tercekat yang sama sekali tidak berarti di telinga pria itu.
Setelah mengatakan hal tersebut, Marvin segera meninggalkan Sherina dengan begitu saja. Hal tersebut membuat tubuh Sherina limbung. Andai saja tidak ada ranjang di belakang tubuhnya, mungkin tubuh wanita itu sudah terduduk di lantai.
Sejenak wanita itu membeku, mengingat kejadian yang baru saja terjadi antara dirinya dengan sang suami. Apa yang Marvin katakan? Dia ingin mengabulkan permintaannya?
__ADS_1
Tapi belum selesai dengan pikirannya, tiba-tiba dirinya langsung bangkit dari duduknya. Tujuannya saat ini adalah di lemari berkas yang ada di kamarnya. Seingatnya, di kamarnya ini ada cctv yang hanya terhubung ke monitor pribadi miliknya dan sang suami.
Dengan cepat Sherina langsung mengakses monitor tersebut dan seketika tubuhnya terasa lebih lemas. Napasnya tercekat di tenggorokan, dengan jantung yang terasa diremat dengan begitu kuat.
Matanya yang masih terus mengeluarkan air itu, menatap pergantian rekaman cctv yang berjumlah ribuan itu dengan sorot mata penuh ketakutan. Bukan hanya sekali dua kali, bahkan ratusan kali sang suami terlihat muntah dengan keadaan yang begitu memprihatinkan.
Dia tahu, mungkin efek dari banyaknya obat yang Marvin konsumsi membuat pria itu membuat tubuhnya berubah banyak.
Dia menutup bibirnya dengan begitu erat ketika melihat rekaman cctv dimana sang suami pingsan, dan tidak ada seseorang pun yang membantunya. Dia tergeletak dengan begitu saja di lantai, sampai pria itu sadar kembali.
"Maafkan aku, Vin. Aku gagal menjadi istri yang baik untukmu." Sherina mematikan monitornya dan menekuk kedua lututnya dengan begitu kuat.
Dia memikirkan langkah apa yang akan dirinya ambil setelah ini. Dia sadar jika semua ini hanyalah kesalahpahaman semata.
__ADS_1
Setelah berpikir cukup lama tiba-tiba saja wanita itu bangkit dengan sisa tenaganya. Dia bertekad untuk mencari suaminya dan membicarakan keputusannya.
"Tuhan, aku mencintai suamiku. Jika dia memang takdir untukku, jangan pisahkan kami."