
Nessie yang terbangun dan terkejut karena suaminya sudah di sebelahnya itu, seketika tersenyum. Dia memeluk suaminya dengan begitu bahagia. Akhirnya dia dapat memiliki Ivander seutuhnya.
'Wanita itu sudah pergi dari hidupku dan Ivander. Sekarang tugasku adalah menjadi istri yang baik untuk Ivander dan membuatnya lupa dengan Sherina.' Nessie membatin ucapannya, seraya mengucapkan banyak syukur dengan takdirnya yang sekarang.
Wanita itu membangunkan suaminya, dan segera bersiap untuk sarapan. Meskipun jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, tetapi mereka tetap bersantai. Mau bagaimana pun, mereka masih pengantin baru dan memerlukan banyak waktu untuk bersama.
"Sayang, apakah kau akan pergi ke kantor hari ini?" Sembari menyiapkan piring untuk suaminya, Nessie bertanya pada pria yang baru saja tiba di meja makan.
"Tentu saja, aku ada pertemuan dengan klien dari Jepang hari ini. Siapa yang memasak semua ini?" jawab Ivander lalu bertanya pada istrinya siapakah yang memasak se-komplit ini.
Nessie tersenyum tipis lalu memberikan piring yang sudah terisi oleh lauk pilihannya. "Bibi yang memasak. Kau tahu bukan jika istrimu ini tidak bisa memasak?"
Wanita itu terkekeh perlahan lalu segera mengambil sarapan untuknya.
Ivander menatap Nessie dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Terdapat banyak perbedaan yang ada pada diri istrinya yang sekarang dan juga mantan istrinya.
Memang sejatinya pria tak pandai bersyukur. Jika dilihat dan dirasakan, apa yang kurang dari Sherina hingga pria itu lebih memilih wanita seperti Nessie.
__ADS_1
Selesai sarapan, pria itu bergegas untuk pergi ke kantor. Saat berada di teras dan hendak berpamitan pada istrinya, kedua pasutri itu dikagetkan dengan kedatangan seseorang sepagi ini.
"Selamat pagi, mohon maaf mengganggu waktunya. Apakah benar dengan kediaman Tuan Ivander?" tanya pria itu yang membuat keduanya mengernyitkan keningnya.
"Benar sekali, dengan saya sendiri. Apakah ada yang bisa saya bantu?" jawab Ivander seraya menatap pria yang sekarang tengah mengeluarkan amplop berwarna coklat, dan menyodorkan padanya.
"Saya dari pihak pengadilan agama, yang bertugas untuk mengirimkan surat ini kepada Anda, Tuan." Pria itu menyerahkan amplop tadi pada Ivander.
Ivander yang tak mengingat jika dirinya akan memiliki korelasi dengan pengadilan agama, nantinya itu, segera membuka amplopnya. Dalam sepersekian detik, raut wajah pria itu berubah menjadi masam setelah mengetahui surat apa yang diberikan padanya.
"Itu adalah surat panggilan sidang pertama atas perceraian Anda dengan Nyonya Sherina Tuan. Kami memohon Anda untuk datang tepat waktu dan menyiapkan semua berkasnya."
"Apakah istri saya juga datang ke persidangan?" tanya Ivander yang langsung membuat Nessie membelalakan matanya.
Dia tak percaya jika Ivander masih saja menanyakan apakah Sherina akan datang ke panggilan tersebut atau tidak. Sementara wanita itu saja sudah pergi ke luar negeri.
"Setahu saya, Nyonya Sherina mewakilkan kepada kuasa hukumnya untuk menghadiri sidang pertama besok. Selebihnya, saya kurang tahu." Jawab pria tersebut yang kemudian berpamitan karena harus segera melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Setelah puas mengamati surat langgilan tersebut, pria itu menghela napasnya dan memasukkan surat itu kembali ke dalam. Nessie menawarkan untuk membawa masuk surat itu, tetapi langsung ditolak oleh Ivander.
"Jangan keluar dari batasanmu, Ness. Ini urusanku. Kau tidak ada hubungannya dengan pernikahanku ini!" Dengan tegas, pria itu merebut amplop yang sudah dipegang oleh Nessie.
Dia tahu, Nessie hanya ingin mengetahui apa yang tertulis di dalamnya. Lalu setelah mengetahui apa yang menjadi urusannya, pasti wanita itu akan terlalu ikut banyak mencampuri urusan dirinya.
Pria itu bergegas mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor yang hendak dia tuju. Nessie yang baru saja ditegur oleh suaminya itu, berusaha mati-matian untuk menahan emosinya.
Mengapa dia tak boleh tahu apa yang menjadi urusan Ivander. Dia ini istrinya! Bukankah istri boleh mengetahui apa yang menjadi masalah untuk suaminya?
"Ajukan banding untuk gugatan cerai yang Sherina berikan padaku!" Ucapan yang Ivander perintahkan pada seseorang di seberang sana itu, berhasil membuat Nessie membelalakan matanya lagi.
Wanita itu benar-benar terkejut saat mendengar jika suaminya tak akan mengabulkan gugatan cerai yang diminta oleh Sherina.
'Sial! Kenapa tiba-tiba Ivander menolak perceraiannya?! Aku harus melakukan sesuatu!' batin Nessie dengan ketakutan yang teramat besar di hatinya.
Tangan wanita itu mengepal saat melihat Ivander yang langsung pergi dengan begitu saja tanpa menghiraukannya. Dia benci dengan semua sikap yang diberikan suaminya pada Sherina.
__ADS_1
"Aku akan membalas semuanya, Rin! Kau yang mempersulit semuanya, bukan?"