
Tiga bulan kemudian.
Sherina menatap punggung kekar suaminya, yang saat ini tengah berdiri membelakanginya. Pria itu tampak antusias menuruti arahan yang dokter pribadinya berikan.
Kaki jenjang milik suaminya mencoba melangkah, dengan tumpuan tongkat yang ada di sebelah tangannya.
"Perkembangannya sudah sangat pesat, Pak. Saya yakin, tidak lama lagi Pak Marvin dapat kembali berjalan dengan normal. Satu pesan saya, jangan lupakan obat dan vitamin yang sudah saya berikan."
Marvin menganggukkan kepalanya dan masih mencoba untuk melangkah. Dia menatap Sherina yang duduk di sofa, yang saat ini tengah menatap dirinya dengan tatapan terharunya.
"Misalkan suami saya sudah merasa yakin jika dirinya bisa berjalan tanpa tongkat, apakah saya bisa langsung menghubungi dokter?" tanya Sherina sembari bangkit dari duduknya.
"Tentu saja bisa, bu. Saya juga akan terus memantau perkembangan kaki Pak Marvin menjelang kesembuhannya." Marvin menatap sang istri yang saat ini berdiri di sebelahnya.
Ibu satu anak itu benar-benar merasa bersyukur atas kemajuan yang terjadi pada suaminya. Setidaknya apa yang suaminya usahakan selama tiga bulan ini membuahkan hasil.
Mulai dari tidak merokok, rutin melakukan fisioterapi, belajar menggerakkan kakinya meski tanpa pengawasan dokter, dan juga pergi ke luar negeri untuk melakukan pengobatan dengan teknologi yang lebih canggih.
__ADS_1
"Baiklah, saya permisi terlebih dahulu. Jika terjadi sesuatu pada Pak Marvin, jangan ragu untuk menghubungi saya." ucap pria dengan snelinya tersebut, yang tidak lama setelah itu, langsung pamit keluar dari rumah Marvin.
Marvin mengecup kening Sherina, setelah kepergian dokter pribadinya. Dia benar-benar merasa bersyukur atas apa yang Sherina lakukan padanya selama ini.
"Sayang. Terimakasih atas semuanya. Aku berjanji, aku akan segera pulih. Kita akan pergi ke taman, dengan putri kita nanti." Sherina mengalihkan tatapannya dan menatap sang suami.
Wanita itu tersenyum hangat sembari mengelus lengan suaminya. "Sudah seharusnya jika aku melakukannya, Vin. Kau suamiku. Apapun yang terjadi padamu, adalah tanggung jawabku."
Marvin tersenyum mendengar ucapan istrinya. Dia mengusap kepala Sherina, sebelum tiba-tiba suara bel rumahnya berbunyi.
"Eh, ada tamu. Sebentar," ucap Sherina meninggalkan suaminya, dan berjalan menuju pintu rumahnya.
Tidak lama setelahnya, Sherina kembali masuk dan menyusul di mana keberadaan suaminya. Amplop coklat yang ada di tangan Sherina, berhasil membuat Marvin merasa penasaran.
"Sayang, apa yang kau bawa?" tanya Marvin begitu Sherina duduk di sebelahnya.
Sherina menahan napasnya untuk beberapa saat, sebelum menyodorkan amplop coklat tersebut pada suaminya.
__ADS_1
"Surat dari pengadilan agama." Jawab Sherina tanpa menatap kedua mata suaminya.
Tubuh Marvin seketika menegang. Jantung pria itu serasa berhenti berdetak, dengan tatapan kagetnya. Dia menatap sang istri yang sama sekali tidak berani menatapnya.
Wanita itu menundukkan kepalanya, dan memejamkan matanya sejenak. Hatinya seakan disayat dengan pisau tajam, ketika menerima surat tersebut.
"Sherina..." panggil Marvin dengan suara tercekat.
Ada rasa sesak yang begitu luar biasa, ketika menatap amplop tersebut. Apa yang istrinya lakukan? Kenapa dia bertindak terlalu jauh, bahkan tanpa pembicaraan apapun dengannya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melakukan hal ini, Sher? Sebegitu besarnya kesalahanku, sampai-sampai kau ingin mengorbankan pernikahan kita?"
Sherina semakin menundukkan kepalanya mendengar ucapan suaminya.
"Dengarkan aku terlebih dahulu," ucap Sherina lirih sembari menatap mata merah milik suaminya.
"Apa yang harus ku dengarkan? Kau ingin mengungkit semua kesalahanku? Semua dosa-dosa yang pernah aku lakukan, dahulu? Sebelum kau mengatakannya, biarkan aku yang mengatakannya."
__ADS_1
"Aku tahu aku bersalah. Tapi tidak seperti ini cara menyelesaikannya. Aku tidak ingin berpisah denganmu, Sher. Aku mencintaimu. Aku tidak ingin bercerai denganmu." Marvin mengeratkan rahangnya, ketika merasa jika dadanya semakin sesak.
"Dengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Aku mohon, Vin."