Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 67


__ADS_3

Marvin yang mendengar ucapan Sherina itu menghentikan dirinya. Dia menatap Sherina dan menunggu apa yang akan wanita itu katakan padanya.


"Teruskan. Ini belum membaik," ucapnya dengan harapan Marvin menuruti perkataannya.


Marvin tidak berbicara. Dia mengambil kursinya dan kembali mengelus perut Sherina. Dari tatapannya, Sherina yakin jika Marvin mengkhawatirkan dirinya dan juga anak mereka.


"Apakah Ivander yang memberitahumu jika aku di sini?" tanya Sherina mencoba berbasa-basi dengan pria itu.


Marvin tak menanggapi pertanyaan Sherina. Dia fokus menatap perut Sherina yang di dalamnya terdapat darah dagingnya.


"Marvin ... aku sedang bicara padamu." Sherina menyentuh lengan kekar Marvin, yang langsung dijauhi olehnya.


"Lalu kau berharap aku mendapatkan kabarnya dari pria mana lagi?!" Marvin menjawabnya dengan begitu ketus.


Sherina yang mendengar jawaban ketus dari Marvin itu seketika terdiam. Dia tidak mengharapkan pria itu mengatakan hal bodoh yang bahkan terdengar gila setelah dirinya mencoba untuk berbicara dengan baik-baik.


Marvin sadar jika apa yang dirinya katakan baru saja itu, bisa melukai hati Sherina. Jadi setelahnya Marvin terdiam menyesali apa yang baru saja dia katakan pada ibu hamil tersebut.


Lama keduanya terdiam tanpa berbicara satu sama lain. Sherina hanya menatap tangan kekar milik Marvin yang masih saja mengelus perutnya.


Tidak ada salah satu di antara mereka yang bersedia memulai percakapan terlebih dahulu. Ya, komunikasi lah yang menjadi penghalang bagi keduanya. Mereka berdua sama-sama memiliki ego yang tinggi, dan tidak ada yang ingin meruntuhkannya.


"Aku-"


"Vin,"


Saat keduanya ingin memulai percakapan, mereka bersamaan. Keduanya terdiam dan menunggu siapa di antara mereka yang bersedia berbicara terlebih dahulu.


"Kau saja yang berbicara terlebih dahulu." Sherina menatap Marvin dengan tatapan gugupnya.


"Tidak, kau saja." Marvin masih menggunakan nada bicaranya yang datar untuk berbicara dengan Sherina.


"Tidak, aku tidak akan bicara sebelum kau yang berbicara." Sherina yang keras kepala membuat Marvin menggeretakkan rahangnya.


"Mudah! Tidak perlu bicara dan jangan selesaikan masalahnya!" Marvin seolah tidak lagi bisa berbicara dengan lembut.


Entah hati pria itu yang sudah mengeras atau apa. Tapi melihat Sherina yang selalu membantah permintaamnya dan menyepelekan berbagai hal, membuat pria itu harus menguras tenaga sabarnya.


Sherina kembali terdiam. Dia sadar, dia tidak akan bisa memecahkan batu yang begitu keras ini dengan kekerasan juga. Dia harus berhasilbuat Marvin kembali percaya padanya.


"Baiklah, aku yang akan berbicara." Sherina mengalah dan menatap kedua netra milik pria itu.


Marvin terdiam. Dia menunggu Sherina berbicara dengan tangan yang dia tarik kembali. Pria dengan tatapan tajamnya itu menatap Sherina dengan begitu intens.


"Aku minta maaf. Aku tahu semua ini salahku. Tapi seharusnya kau tidak langsung pergi dengan begitu saja, biarkan aku menjelaskan terlebih dahulu." Sherina mencoba meminta maaf dengan sungguh-sungguh pada pria itu.

__ADS_1


Sekarang dia menyadari, hanya dengan kehilangan sikap hangat pria itu serta kepergiannya, semua itu berhasil memmbuat Sherina tersadar. Dia benar-benar menemukan cintanya.


"Kenapa tidak mengirim pesan padaku? Sebegitu tidak pentingnya aku, sampai-sampai kau tidak memberi kabar padaku? Atau kau marah dan ingin membalaskan dendam karena aku pergi dari rumah? Aku sudah mengatakannya padamu bukan, jika aku memiliki urusan?" Marvin bertanya dengan guratan kekecewaan disela nada tegasnya.


Sherina menahan napasnya. Pria itu bahkan menganggap dirinya tak mementingkannya, hanya karena masalah kemarin.


"Kau seharusnya bisa menilai, dan memberikan feedback yang sama padaku. Semarah-marahnya aku padamu, aku tidak akan pernah membiarkan mu merasa tidak ku pentingkan kehadirannya. Memang, aku tidak meminta izin darimu dan langsung pergi dengan begitu saja. Tapi setidaknya aku memberitahu mu jika aku pergi!"


Sherina menggigit bibir bagian bawahnya dengan mata yang mulai memanas. Dia begitu bodoh, hingga dirinya berhasil membuat pria se sempurna Marvin berpikir seperti itu. Tidak, apa yang dikatakan pria itu tidaklah benar.


"Aku tahu, aku bersalah akan hal itu. Tapi biarkan aku menjelaskan akar permasalahannya terlebih dahulu." Sherina menghapus air matanya dengan sebelah tangannya sebelum melanjutkan perkataannya.


"Untuk masalah sebelumnya, yang aku menolak permintaan mu itu-"


"Bukan masalah itu! Jika untuk hal itu, jujur saja aku sudah tidak memperdulikannya! Kau menolak ku, tidak membalas perasaanku, atau bahkan tidak pernah bersedia serius denganku, sudah tidak kuperdulikan sekarang. Anggap saja aku hanya bermain-main dengan ucapan ku. Aku tidak serius untuk melamar mu."


Sherina menahan napasnya dengan air mata yang kembali menetes dari kedua matanya. Apa yang Marvin katakan padanya, baru saja?


Tidak lagi mengharapkannya? Kenapa perkataannya terasa begitu menyakitkan di hatinya? Sherina menatap pria itu dengan tatapan kosongnya.


Dia terus menangis dengan tatapan yang sama sekali tidak berpindah. Marvin begitu jahat padanya. Kenapa pria itu terlalu mudah membuatnya merasa sakit hati.


"Baiklah. Semuanya akan sia-sia meskipun aku menjelaskannya panjang lebar, bukan?" Sherina berbicara dengan nada yang bergetar hebat.


"Ambil lah. Ini milikmu," ucap Sherina sembari menyerahkan cincin yang dahulu pernah Marvin berikan padanya.


Marvin mengepalkan tangannya semakin kuat saat Sherina melakukan hal bodoh itu. Kedua mata pria itu memanas, seiring dengan Sherina yang mencoba untuk bangun dari tidurnya.


"Ternyata benar, kau lah yang sama sekali tak menginginkan hubungan ini." Marvin menatap Sherina yang kini duduk di hadapannya dengan tatapan tajamnya.


Sherina mengusap air matanya dengan cepat, dan membalas tatapan pria itu.


"Ya, apa yang kau katakan dan apa yang kau pikirkan memang benar! Aku sama sekali tidak menghargai mu! Dan aku tak mengharapkan sesuatu dari hubungan ini, walau hanya sedikit saja! Kau benar, Vin!" Wanita yang merasa kecewa dengan semua sikap Marvin itu, berbicara dengan tangisnya.


"Sekarang kau tahu jika aku tak cukup baik untuk mu, bukan? Jadi tunggu apa lagi? Pergilah! Jangan pernah muncul kembali di hadapanku! Lupakan jika kau pernah mencintaiku, dan mengharapkan anak ini!" Sherina menatap kedua netra milik pria itu dengan begitu dalam.


Pria yang bahkan tak pernah menitikkan air matanya itu, merasa begitu hancur saat mendengar ucapan Sherina. Pria itu membiarkan air matanya turun membasahi rahang kokohnya.


"Baru sekarang, kau mengatakannya? Seharusnya kau mengatakannya sejak awal, agar tak membuang banyak waktu ku hanya untuk menunggu dan memperjuangkan mu!" Marvin berkata dengan nada beratnya.


Sherina tertawa datar dengan tatapan nyalangnya. "Nikmati penyesalanmu dan enyahlah dari hadapanku!"


Marvin terdiam saat menerima pengusiran dari wanita itu.


"Pergi!"

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun lagi, Marvin segara bangkit dari duduknya. Dia pergi dan meninggalkan Sherina dengan perasannya yang tak menentu.


Sementara Sherina, dia tidak benar-benar menginginkan pria itu pergi. Dia menatap punggung kekar Marvin yang sekarang telah menghilang dari pandangannya.


Wanita itu meluruhkan bahunya dan menangis. Suaranya yang serak itu menundukkan kepalanya dan membiarkan dirinya puas menangis. Dia lelah dengan semuanya.


Dia lelah karena Marvin tak mempercayainya. Dia lelah dengan kekeras kepalaan pria itu. Dia tidak menginginkan hal buruk ini terjadi di hubungannya dengan Marvin.


Pria itu salah besar. Dirinya sangat-sangat berharap besar dari hubungan ini. Dia memiliki mimpi yang begitu banyak dari hubungannya dengan pria itu.


"Aku mencintaimu, Vin. Aku minta maaf." Sherina merasa berputus asa dengan semuanya.


Kenapa hidupnya sangat-sangat menyakitkan. Kenapa ketika dia sudah akan menjemput kebehagiaan, ada saja rintangan yang harus dia hadapi. Dia benar-benar lelah.


****


Sementara Marvin, pria itu berjalan melalui korior panjang nan sepi hendak menuju lift. Tetapi saat tiba di depan lift yang terbuka, ada Ivander di dalamnya.


Ivander sedikit terkejut saat melihat Marvin yang pergi dangan wajah marahnya. Pria yang hendak keluar karena memang ruangan Kanwa berada di lantai yang sama dengan Sherina itu, mengurungkan niatnya.


Dia menunggu Marvin yang akan masuk. "Masuklah, kau tak perlu menghindari ku."


Marvin tak menjawab, lalu dia segera masuk. Pria itu berdiri di samping Ivander, dengan tangan yang berada di dalam sakunya.


"Masalahmu, selesai?" Ivander tak mengalihkan tatapannya dari depan, yang membuat Marvin melirikkan tatapannya ke pria itu.


Pada awalnya Marvin tak menjawab. Dia sama sekali tak ingin mengumbar permasalahannya dengan Sherina. Toh dia menganggap jika pertengkaran tadi merupakan kerikil kecil dalam hubungannya dengan Sherina. Dia tidak menganggap serius dengan apa yang dirinya dan Sherina perdebatkan, tadi.


"Jika sampai kau melewatkannya, sekali saja, kau akan menyesal. Ya, kau akan menyesal sepanjang hidup mu." Marvin menolehkan kepalanya ke pria yang tengah menyesali semua perbuatannya itu.


"Dia bukan tipe wanita yang akan memberikan kesempatan kedua untuk orang lain. Kau seharusnya bersyukur, karena dia mau memberimu kesempatan itu, setelah luka pertama yang kau berikan. Kau ingat? Saat kau merenggut kesuciannya dan dia mengandung, tanpa kedatanganmu lagi, dia masih bersedia memberi mu kesempatan. Itu sebuah keberuntungan, Vin."


Ivander menolehkan kepalanya ke pria yang ada di sampingnya, dengan tatapan kosong.


"Aku bahkan pernah meminta, memohon, bahkan mengemis agar dia memberiku kesempatan. Kau lah yang bahkan menyelamatkannya dari rencana licik ku, yang mana itu semua ku lakukan agar dia tetap menjadi milik ku. Tapi apa? Semua nihil, itu sia-sia."


Marvin mencerna apa saja yang pria itu katakan padanya.


"Kau tahu? Aku hidup di sisa umurku ini hanya untuk menikmati penyesalan ku. Penyesalan karena menyia-nyiakan wanita sebaik dia. Aku tidak akan pernah mendapatkan pengganti Sherina sampai kapan pun itu. Dan aku anggap itu sebagai penebusan dosaku, karena pernah membuatnya terluka."


"Ingatlah ini. Jangan pernah lepaskan dia, atau kau sendiri yang akan menyesal. Dia terlalu berharga jika harus kau lepas ."


Setelah mengatakan itu, Marvin telah tiba di lantai yang ia tuju. Ivander mengembalikan tatapannya ke depan dan menepuk pundak milik mantan sahabatnya itu.


"Semuanya ada di tangan mu. Ketahui lah, dia begitu mencintai mu."

__ADS_1


__ADS_2