
Sherina menatap kepergian Diko dengan tatapan yang kurang menyenangkan. Entah mengapa, ada perasaan yang kurang nyaman setelah pertemuannya dengan pria itu.
"Bisa-bisanya dia kaget pas tahu kamu nikah sama aku. Nggak ada yang salah, kan?" Marvin menggiring istri dan putri besarnya ke arah poli kandungan.
Sherina masih tidak menjawab. Dia memikirkan semua ucapan yang Diko katakan padanya serta sang suami. Tiba-tiba ada rasa gelisah dalam diri Sherina.
"Vin," panggil Sherina sebelum masuk ke ruangan periksa.
"Kita bicarakan nanti, ya? Sekarang, masuk dulu." Marvin yang mengetahui perubahan raut wajah sang istri tersebut, hanya mengedipkan matanya perlahan seolah memberi tahu jika Marvin sudah mengetahui semuanya.
Mereka segera masuk dan memeriksakan kandungan Sherina. Nyatanya usia kandungan Sherina menginjak usia 4 Minggu. Marvin tentu sangat senang mendnegar hal itu. Tapi salah satu ucapan sang dokter di akhir sesi, membuat kedua orang itu saling mengeratkan genggaman tangannya.
"Tapi perlu diwaspadai juga, kandungan ibu Sherina kali ini sangatlah lemah, jadi risiko kegugurannya sangatlah tinggi. Hal ini karena kelainan kromosom pada ibu Sherina, yang menyebabkan janin tidak mampu berkembang secara normal."
__ADS_1
Marvin menarik napasnya dalam-dalam dan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada sang istri. Begitu pula dengan Sherina, wanita tersebut menahan napasnya untuk beberapa saat, kemudian menolehkan kepalanya sejenak ke sang suami.
"Baik, Dok. Saya tidak akan membiarkan istri saya kelelahan. Saya juga akan mengonsultasikan apapun itu tentang perkembangan kehamilan istri saya." Marvin tersenyum tipis yang membuat sang dokter menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai periksa, Marvin berjalan keluar dengan keluarga kecilnya. Dia masih senantiasa menggendong Niskala, dengan Ailey yang berjalan sendiri di sebelahnya. Gadis kecil itu membawa boneka beruang kecil di kedua tangan kecilnya.
"Mau mampir makan siang dulu?" Marvin bertanya dengan lembut, yang membuat Sherina tersadar dari lamunannya.
Tangan wanita itu meraih lengan kekar milik suaminya, dan memeluknya dengan begitu erat.
Marvin tersenyum singkat lalu mengecup kening milik putri kecilnya. Dia membawa semuanya kembali ke rumah setelah penolakan Sherina yang mengatakan jika dia ingin segera tiba di rumah.
Setelah memastikan jika kedua putrinya sudah tertidur, Marvin bergegas naik ke atas dan menyusul sang istri. Pria itu membuka pintunya perlahan, dan melihat jika sang istri tengah duduk menghadap balkon.
__ADS_1
"Kenapa, hm? Semua akan bauk-baik saja, okay?" Marvin duduk di sebelah sang istri dan memeluknya dari samping.
Sherina membalas pelukan sang suami, dan mengeratkan cengkeraman tangannya di kaus milik sang suami. Perlahan Sherina mulai meluapkan semua yang dirinya takutkan sejak tadi.
"Aku takut, Vin. Aku minta maaf." Sherina berkata lirih, yang langsung membuat Marvin membawa Sherina ke pangkuannya.
"Dengarkan aku. Masalah ini, kita percayakan saja pada jalannya. Jika dia memang ditakdirkan untuk kita dan kedua putri kita, maka dia akan kuat seperti ibunya. Sudah, jangan menangis."
Sherina memuaskan pelukannya kepada sang suami. Sejenak kedua insan tersebut saling mengeratkan pelukannya satu sama lain, saling menguatkan.
"Diko pernah bilang kalau dia suka sama aku. Dia bahkan udah coba buat ngelamar aku, pas aku masih sama Ivander. Tapi waktu itu aku langsung nolak."
Marvin terdiam untuk beberapa saat. Dia menciumi bahu milik sang istri, dan melepas pelukan keduanya.
__ADS_1
"Aku sudah kirimkan seseorang untuk mengintainya. Tenang saja, aku tahu apa yang kamu takutkan."