
Pagi harinya, Sherina yang bahkan sudah bersiap untuk bekerja itu sejenak menghentikan kegiatannya karena mendapat telepon.
"Selamat pagi, Non. Bagaimana hari pertama Anda di Jerman?" Sherina tersenyum mendengar pertanyaan dari pengacaranya itu.
"Sangat baik, Pak. Bahkan saya akan berangkat bekerja, setelah ini." Sherina membawa tas nya dan bersiap untuk berangkat menuju kantornya.
"Syukurlah. Saya berharap agar Nona selalu bahagia di sana. Oh iya, Non. Saya ingin memberi kabar tentang kelanjutan gugatan yang nona layangkan untuk Tuan Ivander."
Sherina hanya mengangguk dan meminta pengacaranya itu untuk mengatakan bagaimana kelanjutan prosesnya. Dia berharap agar semua segera selesai.
"Tuan Ivander menolak gugatan Anda. Dan sekarang ini beliau sudah mengajukan banding, bahkan sejak sidang pertama belum dilakukan."
Langkah Sherina seketika terhenti, ketika dia mendengar apa yang pengacaranya katakan. Bagaimana bisa Ivander justru mempersulit proses perceraiannya.
Wanita itu memejamkan matanya sembari mengepalkan tangannya. Ada rasa sesak yang begitu hebat saat mengetahui jika suaminya ternyata tak menginginkan perpisahan keduanya.
__ADS_1
Tapi seketika Sherina menghempaskan pikiran yang mampir padanya. Dirinya kini belum mengetahui apa motif sebenarnya Ivander menolak gugatan cerainya.
"Apapun itu, jangan sampai dia memenangkan bandingnya. Saya ingin bercerai dengan pria itu dalam waktu dekat, Pak. Bahkan Anda sudah tahu segalanya, bukan?"
Bohong! Sherina sebenarnya juga menginginkan hal yang sama. Dia tidak ingin pernikahannya selesai dengan begitu saja. Tapi demi prinsipnya, Sherina harus merelakan pernikahannya dan suaminya.
"Saya tahu betul, Nona. Saya akan berusaha agar kalian tetap bisa bercerai. Kita akan bawa kasus tentang perselingkuhan dan perzinahan dalam pernikahan sebagai tambahan pertimbangan. Selebihnya, percayakan saja pada saya."
Sherina pun hanya pasrah dan menyerahkan semuanya pada pengacaranya. Besar harapannya agar proses perceraiannya dapat segera selesai, tanpa campur tangan dari kelicikan Ivander.
****
Malam harinya, Sherina yang baru tiba di apartemennya memutuskan untuk langsung mandi. Dia merendam tubuhnya yang terasa lelah untuk beberapa saat.
Wanita yang tengah memejamkan matanya saat berendam itu, tiba-tiba membuka matanya saat mendengar ponselnya berdering. Dengan cepat, Sherina segera membilas tubuhnya dan keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Dia mengernyit ketika melihat beberapa panggilan masuk yang tak terjawab. Dari kode nomor ponselnya, dia tahu darimana sang penelepon berasal.
"Siapa ini? Dan darimana dia mendapatkan nomorku?" Sherina bergumam dan memikirkan siapa yang menghubunginya.
Saat hendak meletakkan ponselnya kembali, Sherina terkejut karena nomor tersebut kembali meneleponnya. Lantaran dirinya merasa penasaran, maka Sherina pun menerima telepon misterius tersebut.
"Kau pikir kau bisa lari dariku, Sayang?" Sherina yang mendengar suara itu seketika terdiam membeku.
Tubuhnya seketika bergetar hebat ketika mendengar suara yang sangat dia benci itu. Sherina menekan kuat ponsel genggamnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kenapa kau diam saja, hm? Apakah kau tak merindukan sentuhanku?" bisik pria itu lagi yang membuat Sherina langsung melemparkan ponselnya dengan begitu saja.
"Diam! Dasar kau pria breng*sek!" Seperti bukan Sherina, wanita itu menutupi kedua telinganya dengan dengan tangis yang begitu histeris.
Sherina terlihat begitu ketakutan ketika mengingat siapa pria yang baru saja menelponnya. Yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana lagi cara yang harus dia gunakan untuk hilang dari radar pria itu.
__ADS_1
"Diko. Ya, aku harus memberi tahu Diko."