Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 94


__ADS_3

"Apa kau benar-benar yakin ingin berjalan sendiri? Jika tidak, maka jangan dipaksa. Aku akan membantumu," ucap sherina mencoba meyakinkan Marvin yang hendak bangun dari duduknya.


Marvin mendongakkan kepalanya dan menatap wajah khawatir milik istrinya. Pria itu mengerutkan hidung mancungnya, dan memajukan bibinya beberapa senti.


"Sayang ... Jangan terlalu khawatir. Suamimu ini sudah sembuh." Marvin memajukan wajahnya, dan mengecup perut milik Sherina yang tepat berada di hadapannya.


Sherina mencoba memahami suaminya. Dia tersenyum tipis lalu mengelus belakang kepala milik suaminya.


"Baiklah, ayo berangkat. Kita sudah terlambat," bisik Sherina yang membuat Marvin menarik wajahnya dari perutnya.


Marvin tersenyum nakal, lalu menaikkan wajahnya. "Beri aku kecupan."


Sherina menaikkan alisnya saat mendengar permintaan suaminya. "Di mana? Pipi?" tanya Sherina polos, yang membuat Marvin menghela napasnya.


Pria itu tidak menjawab, dia hanya membawa tangan yang mana terselip cincin pernikahannya, dan menyentuh bibinya dengan jari telunjuk.


Sherina tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya. Dia mencubit telinga suaminya dengan lembut, lalu memberi kecupan hangat di pipi pria itu.


"Tidak ada request. Ini sudah cukup." Sherina menarik wajahnya, dan tersenyum saat melihat beks lipstiknya yang bahkan belum mengering di bibir pinknya.


Marvin melengkungkan bibirnya ke bawah, dan melirikkan mata tajamnya dengan begitu lucu. "Itu tidak ku hitung. Jadi aku anggap kau memberinya secara cuma-cuma. Jika ingin segera berangkat, maka berikan aku satu kecupan dahulu sebagai depositnya."


Sherina menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan begitu gemas. Dia menyerah. Tidak akan ada ujungnya jika dirinya berdebat engan ego suaminya.


Tanpa mengatakan apapun itu, dia sedikit menundukkan kepalanya dan menempelkan bibir hangatnya ke bibir dingin milik suaminya. Wanita itu memejamkan matanya, dan hanya diam. Entah kapan terakhir kali dirinya mencium suaminya.


Tapi tiba-tiba wanita itu membuka kedua matanya, ketika merasa jika Marvin menuntut lebih. Sherina membulatkan matanya dan menatap mata suaminya yang saat ini terpejam.


Dengan sekuat tenaga Sherina hendak berbicara dan memukul dada suaminya dengan sedikit bertenaga. Tapi apa dayanya, yang memiliki kekuatan tak sebesar suaminya.

__ADS_1


Pria itu langsung menghentikan kegiatannya ketika tiba-tiba mendengar tangis putrinya. Kedua orang tua muda itu saling pandang sejenak, lalu mengendurkan bahunya.


"Sayang ... Kenapa kau mengganggu ayah dan ibu!" erang Marvin frustasi, yang langsung dipukul oleh Sherina.


"Diamlah! Ini semua gara-gara kau! Dasar pria menyebalkan!" Sherina mengomel dan berjalan mendekati putrinya yang masih berada di atas ranjang.


"Niskala Denallie Chadsell. Kenapa menangis, Sayang? Kemarilah, ibu akan menggendongmu." Sherina perlahan menggendong tubuh berisi milik putrinya, dan mendekapnya dengan begitu hangat.


"Sayang, lihatlah. Sekarang dia tidak lagi menangis setelah kau menggendongnya. Sepertinya dia memang sengaja ingin merebutmu dariku!" Marvin berucap tak terima sembari menatap punggung kecil anaknya yang berada di pelukan istrinya.


Sherina hanya tersenyum untuk menanggapi apa yang suaminya katakan. Dia mengangkat anaknya lebih tinggi, dan mengecup keningnya.


"Baiklah, sepertinya dia memang ingin menjadi penyaingku! Dengar Kala, mulai sekarang kita adalah musuh. Lihatlah, siapa yang akan dipilih oleh ibu!" Marvin sedikit kesal dengan tingkah anaknya akhir-akhir ini.


Dia seolah memiliki telepati dengan ibunya. Sepertinya putrinya itu masih belum sepenuhnya menerima dirinya sebagai ayah kandungnya.


"Marvin! Kau membuatnya menangis lagi!" Sherina menatap tajam suaminya, dan mengerutkan alisnya.


"Baiklah-baiklah. Ayah hanya bercanda, Sayang. Ambil saja, ayah merelakannya. Ibu hanya milikmu." Marvin mengecup pipi milik anaknya, dan berusaha menenangkannya.


Sherina mampu dibuat tertawa lepas saat kali ini putrinya langsung menghentikan tangisnya. Entahlah apa yang ada di dalam pikiran ayah dan anak satu ini.


"Jangan goda anakmu. Kita harus segera pergi ke rumah sakit. Kakak sudah menunggu ... Bukan begitu, Sayang?" Sherina mengusap pipi putrinya dengan begitu gemas.


Marvin tersenyum, dan berjalan mengikuti istri serta putri kecilnya.


"Kau tidak seharusnya melakukan hal itu, Vin. Lihatlah, kita benar-benar terlambat. Bagaimana jika dokternya sudah selesai visit? Bukankah ini akan menyulitkan mu?" omel Sherina selama dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Marvin menoleh sejenak, dan kembali memfokuskan pandangannya ke depan. "Konyol katamu? Sayang, bukankah itu hal lumrah yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri? Lagipula kita tidak selalu bisa melakukannya."

__ADS_1


Sherina membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia menghela napasnya dan menolehkan kepalanya untuk menatap sang suami.


"Vin, kau sebentar lagi akan memasuki usia lansia. Kau bahkan kau sudah memiliki dua putri. Jadi tolong kondisikan dirimu." Ucap Sherina asal, yang langsung membuat Marvin membelalakkan matanya.


"Apa Sayang? Lansia, katamu? Oh Tuhan, bagaimana aku harus menjelaskannya pada wanitaku ini ..."


Marvin memelas dan mengintip sang istri yang tengah cekikikan. Dia memegang perutnya dan sesekali melipat bibirnya ke dalam untuk menahan tawanya.


"Apa yang lucu? Hei, tatap aku! Apakah aku sudah tua? Apakah aku sudah layak dikategorikan ke dalam usia lansia?" tanya Marvin di sela tawa bahagia Sherina.


"Bukan seperti itu maksudku. Lansia disini bukan menjerumus ke umur, Sayang. Maksudku, kau akan merasakan lifestyle layaknya seorang lansia. Kita sudah memiliki dua putri. Kita hanya perlu membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang. Selebihnya tidak ada."


"Tidak ada yang lain? Sayang, ayolah ... Aku masih ingin memiliki banyak anak. Jika perlu aku akan memberikan lima anak perempuan lagi yang mirip denganmu."


Sherina seketika melongo mendengar penuturan suaminya. Dia mengeluarkan napasnya dengan tubuh yang langsung mengendur.


"Lima? Apakah kau ingin segera mengirimku ke panti jompo? Mengurus Niskala saja rasanya punggungku hampir remuk, dan kau dengan entengnya mengatakan ingin memiliki lima anak lagi? Astaga, sepertinya aku harus segera menemukan dimana tempat penukaran suami."


Sherina benar-benar tidak habis pikir dengan suaminya. Dirinya yakin jika suaminya berpikir agar mereka tidak kesepian ketika anak mereka besar nanti. Tapi, entahlah Sherina bingung bagaimana cara mengatakannya.


Marvin tersenyum tipis mendengar ucapan istrinya. Jujur saja apa yang dikatakan olehnya baru saja, tidak benar-benar dirinya inginkan.


"Aku bercanda, Sayang. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Lupakan saja, aku tidak benar-benar menginginkannya." Marvin tersenyum simpul, dan fokus melihat jalanan.


Sherina menahan napasnya untuk beberapa saat, dan menolehkan kepalanya pada sang suami. Dia menyadari perubahan raut wajah suaminya.


Tiba-tiba dirinya mengingat apa yang suaminya katakan beberapa minggu yang lalu, sebelum mereka menikah.


"Aku ingin memiliki banyak anak nantinya. Aku tahu benar bagaimana rasanya kesepian. Aku tumbuh tanpa kasih sayang orang tua, dan saudara. Aku benar-benar merasa dingin dan sepi. Aku tidak ingin anakku merasakan hal itu. Biarkan mereka berkumpul, dan saling menyayangi satu sama lain. Sepertinya itu cukup impas sebagai pesangon masa tuaku."

__ADS_1


Sherina tersenyum tipis, dan mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan besar suaminya.


"Bagaimana jika tidak semua perempuan? Bukankah kita membutuhkan bodyguard untuk kedua kakak cantiknya? Tiga anak laki-laki ... Bagaimana menurutmu?"


__ADS_2