
Setelah percakapan sore tadi dengan Marvin, wanita itu sejenak sudah melupakan apa yang pernah terjadi padanya.
Marvin yang melihat Sherina tengah memasak itu, berjalan mendekati Sherina. Dia berdiri di belakang Sherina dan melihat apa yang tengah dimasak oleh wanita itu.
"Jika kau lelah, sudahi saja. Kita bisa memesan makanan atau memanggil Anne untuk memasak." Marvin mencium kening Sherina sambil mengelus perut wanita itu.
"Jangan terlalu berlebihan, aku hanya memasak. Lagipula semenjak hamil, aku tidak bisa makan jika bukan masakanku sendiri." Sherina berjalan meninggalkan Marvin dan membawa masakannya yang baru saja selesai.
"Kemarilah, makan dahulu." Sherina masih berdiri dan membiarkan Marvin duduk terlebih dahulu.
Wanita itu menyiapkan makanan untuk Marvin dan duduk setelah menyiapkan makanan yang sama untuknya. "Apakah bayiku terlalu banyak menuntut?"
Sherina yang mendengar pertanyaan Marvin itu menggelengkan kepalanya. "Sekarang ini sudah tidak. Saat trimester kedua, barulah dia menghajar ibunya habis-habisan. Semua yang kulakukan tidak pernah selaras dengan maunya."
Marvin tersenyum mendengarnya. Dia menatap Sherina yang tengah melahap makanannya setelah selesai berdoa. "Oh ya, dia laki-laki atau perempuan?" tanya Marvin dengan penasaran.
"Perempuan. Dokter mengatakan aku rawan melahirkan lebih awal. Jadi tidak banyak yang bisa aku lakukan. Aku bahkan harus resign karena takut terjadi apa-apa dengannya." Sherina menjawab dengan santai.
Marvin terdiam. Dia mengingat cerita yang mamanya dulu pernah ceritakan padanya. Pada awalnya Marvin memiliki seorang kakak. Jenis kelaminnya pun sama seperti anaknya saat ini, perempuan. Tapi nahasnya kakak perempuannya meninggal sesaat setelah kelahiran prematurnya.
"Kita kembali ke negara kita ya, Sher? Selain karena banyak pekerjaanku yang tertinggal di sana, kau pasti juga akan lebih nyaman ketika kita kembali kesana." Sherina yang sedang asyik mengunyah makanannya itu, menatap Marvin.
"Kau tak harus membawa serta aku, Vin. Kembalilah, pekerjaanmu lebih membutuhkanmu. Lagipula, aku tidak memintamu untuk bertanggung jawab atas anak ini."
"Sherina!" Sherina yang baru saja menolak tawaran Marvin itu, terkesiap ketika Marvin membentaknya.
__ADS_1
Sherina langsung memutus tatapannya dengan Marvin dan kembali melanjutkan makannya. Dia tahu dimana letak kesalahannya. Sudah jelas-jelas Marvin menginginkan mereka kembali membaik, tapi dirinya terus saja bersikap seolah dia tak mengharapkan Marvin kembali.
Marvin yang sadar jika dia mulai emosi itu, hanya diam. Dia menyantap makanan yang Sherina siapkan untuknya tanpa bersuara. Seketika hawa berubah menjadi canggung dan dingin.
Sherina yang sudah selesai makan tersebut, menyilangkan kedua tangannya di atas meja, dan menatap Marvin. Pria itu masih terlihat jika sedang menahan amarah. Sherina menjadi tak enak hati setelah apa yang dia katakan tadi.
"Vin, ak-" Sherina yang hendak berbicara dengan Marvin itu, seketika menghentikan ucapannya tatkala melihat Marvin yang sudah berdiri.
Pria itu berjalan ke dapur dan membawa piring kotornya. Tak lupa, dia membereskan meja makan setelah keduanya selesai makan. Sherina menghirup napasnya dalam-dalam lalu mencoba bangkit dan menyusul Marvin.
"Kembali ke kamarmu. Ini sudah larut." Marvin yang tahu jika Sherina hendak berbicara dengannya itu langsung memotongnya.
Pria itu melewati Sherina dengan begitu saja yang membuat ibu hamil tersebut kembali menghembuskan napasnya panjang. "Aku salah,"
"Vin. Selimutnya kau ambil di dalam almari. Aku lupa mengeluarkannya." Sherina mengetuk pintu kamar Marvin dan segera masuk ke dalam kamarnya, ketika tak mendengar jawaban dari Marvin.
Setelah tiba di kamar, Sherina mengganti pakaiannya dan bersiap untuk tidur. Dia benar-benar merasa letih, seharian ini.
Beberapa saat setelah dirinya berbaring di atas ranjang, Sherina dikejutkan dengan pelukan dari belakang tubuhnya. Bahunya yang langsung digunakan sebagai penutup wajah orang tersebut, membuat Sherina tahu jika Marvin lah pelakunya.
"Kenapa kau kemari?" Sherina menolehkan kepalanya ke samping, untuk melihat Marvin.
"Jangan bicara! Diam, dan tidurlah!" Marvin mengeratkan pelukannya di tubuh Sherina dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sherina.
Sherina pasrah, wanita itu diam untuk beberapa saat. Tapi ketika dirinya mengingat tentang ucapan Nessie siang tadi, Sherina segera membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Siang tadi Nessie kemari." Dengan lampu kamar yang sudah gelap itu, Sherina menatap wajah Marvin. Rahang tegas yang kokoh itu kembali membuat Sherina mengangkat tangannya dan menyentuhnya.
"Apa yang wanita itu katakan?" Marvin merapatkan tubuh keduanya, dan menyimak apa yang akan dikatakan oleh Sherina.
"Dia memintaku untuk kembali pada Ivander. Dia mengatakan jika aku tidak kembali pada Ivander, pria itu akan menceraikan Nessie dan tak mengakui anak mereka." Sherina menceritakan apa yang Nessie katakan padanya.
Selama Sherina menjelaskan, Marvin hanya fokus mendengarkan dengan tangannya yang tengah mengelus perut Sherina.
"Seharusnya wanita itu meralat perkataannya, agar calon istriku ini tidak salah paham. Bukan kembali pada Ivander, tapi menikah lagi dengan pria itu!" Marvin menatap Sherina dengan wajah datarnya ketika mendengar ucapan Sherina tentang pria itu.
"Tapi yang Ivander katakan?" Sherina merasa sangsi dengan apa yang Ivander katakan tadi.
"Akta perceraian kalian sudah selesai ku urus. Aku benar-benar kesusahan untuk mengerjakannya. Tapi berkat bantuan Nessie, semua selesai." Marvin pun segera menceritakan tentang bagaimana sulitnya dirinya mengurus perceraian Sherina dan Ivander.
"Kau benar-benar sangat totalitas, Vin." Sherina menggelengkan kepalanya, menatap tak percaya pada pria yang saat ini berada di hadapannya.
"Aku sudah berjanji untuk menyelesaikan semua urusanmu, dan segera membawamu pergi. Maka dari itu aku mengurus semuanya. Dan ya, katakan pada Nessie jika sampai Ivander menceraikannya dan tak membantu biaya operasi ibunya karena kau tak kembali pada Ivander, aku akan membantunya. Aku yang akan mengcover semuanya."
Sherina tersenyum tipis mendengar ucapan Marvin. "Memangnya kau yakin jika aku tak akan kembali pada Ivander? Kau belum mendengar jawabanku, Vin."
Muka Marvin seketika berubah masam. Dia menatap Sherina dengan wajah datarnya.
"Kau akan kembali pada pria kejam sepertinya? Ayolah, Sher. Kau sudah mengandung anakku, dan aku juga sudah melakukan semuanya untukmu." Marvin memelas sambil menarik jemari Sherina.
Sherina tertawa ringan lalu masuk ke dalam pelukan Marvin. "Tidak. Aku sudah cukup dengan pria ini."
__ADS_1