
Ivander masih berusaha menelepon Sherina, meskipun sejak tadi usahanya sama sekali tak mendapatkan hasil. Lantaran kesal karena dirinya tahu jika Sherina pasti sudah memblokir nomornya, pria itu justru melempar ponselnya dengan begitu saja ke lantai.
"Aku harus mencari kemana perginya wanita itu!" Ivander yang bertekad untuk menemukan Sherina itu, segera berlari ke parkiran.
Nessie yang ditinggalkan dengan begitu saja di hari pernikahannya, hanya dapat menahan malu saat keluarga besarnya mulai membicarakannya.
"Jadi nessie merupakan istri kedua? Bagaimana dia mengundang kita semua, dengan tak tahu malunya?! Dasar menjijikan!" cibir salah satu bibi Nessie, yang masih terdengar oleh wanita itu.
"Benar! Jika tahu akan hal ini sebelumnya, aku tidak akan sudi untuk menghadiri pernikahan ini!" imbuh bibinya yang lain, yang membuat ibu Nessie semakin malu.
Nessie yang melihat raut malu sang ibu pun, segera menghampiri para bibinya. Dengan amarah yang sudah memuncak, wanita itu berdiri dan menatap semua bibinya dengan tatapan tajam.
"Apakah kalian tidak bisa, sehari saja tidak membicarakanku? Kenapa? Apakah kalian iri padaku, karena berhasil mendapatkan suami yang sangat kaya?! Justru memang itu rencanaku untuk membawa kalian kemari, agar kalian tak lagi meremehkanku dan ibuku!" Nessie berkata dengan begitu angkuh pada saudara-saudara ibunya.
"Kau lihat saja setelah ini, aku akan hidup berkecukupan bersama suamiku. Sudahlah, lebih baik kalian kenyangkan saja perut kalian sebelum kembali pulang ke rumah! Atau jika perlu, bawa semua makanan sisa di pestaku ini!"
Setelah mengatakan hal tersebut, Nessie pun kembali mendekati sang ibu dan mengajak untuk ke ruangan yang lain.
Ya, memang semua itu adalah rencana Nessie. Mulai dari megahnya acara pernikahannya dengan Ivander, padahal pria itu memerintahkan Nessie untuk memesan tempat yang sepi dan hanya dihadiri oleh keluarga inti Nessie.
Tapi, karena Nessie sempat mendengar pembicaraan antara Sherina dengan seseorang di telepon, maka dari itu Nessie pun menyiapkan semuanya. Dia sangat-sangat bahagia karena berhasil mendapatkan Ivander seutuhnya.
Sementara Ivander, pria itu melajukan mobilnya ke kantor tempat Sherina bekerja. Pria itu berharap agar pria tadi masih berada di kantornya.
Setelah tiba di kantor, pria itu langsung turun dan bergegas masuk. Saat tiba di bagian resepsionis, pria itu langsung bertanya apakah pria tadi masih ada di kantornya.
Namun yang didapat oleh pria itu justru kabar jika pria tadi sedang ada urusan di luar kantor. Meskipun Ivander sudah berusaha bertanya kemana perginya pria itu, tetapi dirinya masih tidak berhasil.
__ADS_1
"Apa yang harus ku lakukan?!" Ivander menghela napasnya dengan begitu gusar sembari melepas jasnya.
Saat sudah tiba di dalam mobil, pria itu membuang jas pengantinnya dengan kesal. Dia benar-benar bodoh! Bagaimana bisa dirinya tertipu dengan rencana Sherina.
Pria itu tak menyadari apa yang dia lakukan. Dia hanya berambisi untuk menemukan dimana istrinya berada. Padahal jika dipikirkan, apa yang dia harapkan jika bertemu dengan sang istri.
Apakah hartanya? Tidak, semua hartanya bahkan sudah istrinya kembalikan padanya. Apa yang sebenarnya pria itu ingin dapatkan ketika berhasil menemukan istrinya?
Bukankah hal itu menjadi sesuatu yang sangat dirinya inginkan, saat Sherina masih menjadi istrinya? Dan bukankah Nessie lah yang dirinya inginkan? Entahlah, tak ada yang tahu.
Ivander berdiam di parkiran kantor Sherina, sedikit lebih lama. Pria yang sedang menyandarkan punggungnya memejamkan matanya sembari menahan amarahnya.
Ada rasa sesak yang seketika memenuhi rongga dadanya. Rasa ingin menangis, berteriak, dan menghantam apapun itu membuat Ivander mengeratkan genggamannya di kemudi mobilnya.
"Sherina!" teriak pria itu frustasi sembari memukul setir mobilnya dan mengacak rambutnya.
Pria itu menghabiskan waktunya untuk mengurus pekerjaannya di kantor. Dirinya bahkan lupa jika dia bahkan sudah memiliki Nessie sebagai istrinya. Jangankan mengatakan pada istrinya jika dia ke kantor, bahkan pria itu sama sekali tak sadar jika waktu sudah malam.
Ivander yang memang sengaja menyibukkan dirinya dengan semua pekerjaan kantor itu, tiba-tiba terkejut saat dirinya kedatangan tamu yang tak dirinya inginkan.
"Sayang! Ternyata kamu disini? Kenapa ponselmu sama sekali tidak dapat ku hubungi?!" Dengan nada khawatirnya, wanita itu berjalan tergesa menuju sang suami.
Ivander yang tak senang dengan kedatangan Nessie, segera berdiri dari duduknya. Pria itu segera mematikan laptopnya, dan pergi meninggalkan Nessie.
"Sayang! Berhenti! Apakah kau tak mendengarkan aku?!" Nessie berteriak dengan kesal saat dirinya diabaikan dengan begitu saja oleh suaminya.
"Ivan! Berhenti!" bentak Nessie sembari menyusul sang suami yang hendak masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Wanita itu terlalu lambat berjalan, sehingga dirinya tertinggal sang suami yang sudah lebih dulu turun ke bawah.
"Aargh! Sial!" Nessie menendang tempat sampah yang ada di depan lift dengan frustasi.
Sementara Ivander yang sudah tiba di bawah pun dengan cepat berusaha mengindari istrinya. Setelah tiba di dalam mobil, pria itu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ivander memutuskan untuk pergi ke club, sebagai caranya menghindari sang istri. Tapi entah mengapa setelah dirinya mengetahui jika sang istri pergi ke luar negeri tanpa dirinya, dan membiarkannya menikah dengan Nessie, membuat pria itu sedikit tersadar.
Sherina merupakan wanita yang baik dan dialah yang paling terbaik. Percaya atau tidak, tapi pria itu sudah memiliki firasat yang buruk pada istrinya yang sekarang, sejak dirinya kecelakaan bersama Nessie beberapa minggu yang lalu.
"Aku berharap semoga kau berubah pikiran, Sher. Cepatlah pulang," ujar pria itu lirih sembari menatap ke jalanan yang mulai sepi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Setibanya Ivander di club, pria itu segera turun, dan memesan ruangan VVIP. Yang mana hanya dirinya, dan tak diganggu oleh orang lain.
Pria itu menghabiskan malamnya dengan meminum alkohol dan kawan-kawanya hingga pagi menjelang. Dia benar-benar tidak sadar jika dirinya kini sudah mabuk sangat berat.
Dirinya tidak menyangka, efek dari perginya wanita itu benar-benar berhasil membuatnya kalang kabut. Memori yang berputar di otaknya saat ini adalah bagaimana sia-sianya masa pernikahannya dengan Sherina selama 1 tahun.
"Sherina? Itu kau?" racau Ivander dengan tak jelas yang membuat Nessie mengepalkan tangannya erat-erat.
Dia yang baru mendapat kabar bahwa sang suami tengah mabuk berat di sebuah klub itu, memutuskan untuk menyusulnya.
Dia sangat-sangat terkejut, karena setelah dirinya dibuat kebingungan untuk mencari keberadaan sang suami, tapi ternyata suaminya justru tengah mabuk di klub malam.
Lebih parahnya, penyebab dari laki-laki itu mabuk adalah karena mantan istrinya, Sherina. Yang selalu Nessie pikirkan adalah, kenapa harus Sherina. Apa yang spesial dari wanita itu!
"Sherina, Sherina, Sherina! Kau selalu saja memikirkan wanita itu!"
__ADS_1