Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 78


__ADS_3

Malam harinya Sherina yang baru saja selesai membereskan semua sisa acaranya pagi tadi berjalan menuju kamarnya. Terlihat dari wajahnya, dia benar-benar sangat kelelahan.


"Istirahat dulu, Sayang. Kau sejak tadi bergerak kesana kemari." Sherina menatap Marvin dengan senyum datar di hadapannya.


"Sepertinya aku akan lahiran sekarang saja. Putriku ini sangat-sangat antusias sejak tadi." Sherina mengelus perutnya dan duduk di sebelah suaminya.


"Mandilah dan segera istirahat. Atau kau mau makan malam?" Sherina mengelus paha suaminya, yang langsung disambut oleh gelengan kepala dari Marvin.


"Aku langsung mandi saja. Kau beristirahatlah dulu." Marvin mengecup kening Sherina lalu berjalan menuju kamar mandi.


Sherina menatap kepergian Marvin sembari tersenyum. Wanita yang baru duduk beberapa saat itu, kembali bangkit dari duduknya. Dia berjalan menuju almarinya dan menyiapkan pakaian untuk suaminya.


Tak berapa lama, sesuai dugaan Sherina. Suaminya itu memuba sedikit pintu kamar mandi dan berteriak padanya. "Sayang! Berikan handuk dan pakaianku!"


Sherina berjalan menuju kamar mandi dan memberikan apa yang suaminya minta. Sembari menunggu Marvin selesai berganti pakaian, Sherina berjalan menuju balkon di kamarnya dengan nampan di tangannya.


Wanita itu meletakkan kopi kesukaan suaminya di meja, tak lupa susu hamil yang masih hangat. Sherina duduk menghadap ke rumah yang ada di seberangnya, sembari meniup susunya, berupaya agar susunya cepat dingin.


Beberapa saat setelah Sherina duduk di teras kamarnya, wanita itu menolehkan kepalanya ke samping saat Marvin berdiri di belakangnya dan memijat bahunya dengan lembut.


"Lihatlah, kali ini kau bersama denganku bukan lagi sebagai kekasihku atau calon istriku. Tapi kali ini kau adalah istriku." Sherina tersenyum tipis lalu meminta Marvin agar duduk di sebelahnya.


"Aku membuatkan kopi hitam untukmu. Duduk, dan minumlah," ucap Sherina yang langsung diagoki oleh Marvin.


Pria itu duduk di sebelah Sherina dan mendekatkan tubuh keduanya agar lebih rapat.


"Apakah Ivander sengaja membeli rumah di depan sana?" tanya Sherina pada Marvin, yang membuat pria yang tengah menyeruput kopi hitamnya itu segera meletakkan gelasnya kembali.


"Tidak. Tidak ada yang tahu jika gedung ini aku buat khusus untuk kita. Aku mengetahui jika dia membeli unit di sini pun karena salah satu karyawank mengatakan jika Ivander membeli unit di villa ini."

__ADS_1


Sherina hanya menganggukkan kepalanua dan ber-oh ria setelah mendengar penjelasan Marvin. "Memangnya apa yang terjadi? Kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya Marvin yang membuat Sherina takut jika suaminya itu memikirkan hal yang tidak tidak tentangnya.


"Tidak, aku hanya menanyakan apa yang Anne ingin tahu dari pertanyaan tadi. Dia mengatakan jika Ivander sengaja membeli rumah di Vila ini dan mengambil unit tepat di depan rumah kita, karena pria itu ingin memata-matai kehidupan kita. Tapi aku rasa tebakan Anne itu terbilang sedikit kekanakan." Marvin menganggukkan kepala setuju dengan apa yang Sherina katakan.


Keduanya menghabiskan minumannya hingga waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Lantaran Sherina sudah beberapa kali menguap, Marvin segera mengajak Sherina untuk masuk.


"Tidurlah, kau pasti kelelahan." Sherina perlahan mulai memejamkan matanya dan memeluk tubuh kekar Marvin yang saat ini sudah bertelanjang dada.


"Apakah putri kita baik-baik saja di salam sana?" Marvin yang masih belum mengantuk itu, mulai aktif mengganggu istrinya yang sudah hampir tertidur.


Sherina tidak menanggapinya dengan serius, dia hanya berdehem mengiyakan apa yang suaminya katakan. Tidak sampai di sana, Marvin terus saja menanyakan hal-hal yang tidak Sherina dengar dengan seksama.


Pria itu bahkan menyingkap baju longgar Sherina dan dengan puas menciumi seluruh permukaan perut istrinya. Sherina tidak merasa terganggu dengan apa yang Marvin lakukan.


Sampai tiba-tiba Marvin menaikkan tubuhnya agar sejajar dengan Sherina yang sudah tertidur. "Sayang, bolehkah?"


Sherina awalnya tidak terlalu menggubris apa yang dikatakan oleh suaminya. Tapi tangan nakal pria itu berhasil membuat Sherina membuka kedua matanya. Matanya yang merah menunjukkan jika dia baru saja hendak pergi ke alam mimpi.


"Aku mohon. Boleh ya, Sayang?" mohon Marvin yang mau tidak mau diiyakan oleh Sherina.


Ya, keduanya menghabiskan malam mereka untuk melakukan hal yang biasa dilakukan oleh pengantin baru.


****


Pagi harinya, Sherina yang bahkan sudah rapi berjalan naik ke kamarnya. Wanita itu beru saja menyelesaikan masak paginya. Ya, meskipun rumah yang dipilihkan oleh Marvin ini begitu besar, Sherina tetap tidak menginginkan adanya asisten rumah tangga di rumahnya.


Prinsipnya sejak dulu adalah, ini rumahnya. Dan hanya dialah yang boleh mengatur rumahnya. Tidak dengan campur tangan orang lain.


Sherina berjalan masuk ke kamarnya dan membangunkan Marvin yang masih tertidur. "Sayang, bangunlah. Ini sudah pagi," ucap Sherina sembari mengelus lengan kekar milik suaminya yang tidak terlapisi oleh sehelai benang pun.

__ADS_1


Sherina menghala nafasnya, ketika Marvin sama sekali tidak mendengar panggilannya. Wanita itu mengelus puncak kepala milik suaminya, lalu mencium keningnya. Dalam sekejap, Marvin mulai menggeliatkan tubuhnya dengan senyum yang ada di bibirnya.


"Selamat pagi, istriku." Marvin mengangkat kedua tangannya dan tersenyum melihat Sherina yang berada di sampingnya.


"Masih mengantuk?" Tanya Sherina sembari memijat kepala milik suaminya.


Marvin menggelengkan kepalanya dan kembali memejamkan matanya. Dia memiringkan tubuhnya dan memeluk tubuh istrinya.


"Tiga menit," minta Marvin yang disetujui oleh Sherina.


Wanita itu mengelus puncak kepala milik Marvin lalu turun ke tubuh kekarnya. Dia tidak pernah melihat suaminya ini mengeluh jika dia merasa lelah.


"Sarapan dahulu. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu." Marvin mengangguk dan langsung bangkit.


Sherina tersenyum tipis sembari melihat tato milik suaminya. "Untung aku benar menjadi istrimu. Jika tidak, aku yakin istrimu akan terkena mental kalau harus setiap hari melihat tato mu ini."


Marvin mengalihkan tatapannya dan mengelus dada serta lengannya. "Jikapun tidak, aku akan memaksa pada Tuhan. Intinya kau harus menjadi istriku!"


Sherina menggelengkan kepalanya lalu bangkit dari duduknya. Dia berjalan meninggalkan Marvin yang tengah bersiap menuju kamar mandi.


Setelah beberapa saat, Marvin sudah tiba di meja makan. Keduanya sarapan bersama untuk pertama kalinya setelah menikah.


"Kau akan pergi ke kantor?" Sherina menatap sang suami yang tengah melahap makanannya.


"Tidak! Tidak ada jadwal ke kantor atau pergi keluar rumah sampai putri kita lahir. Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganku, denganmu, atau dengan anak kita." Sherina hendak protes, tetapi apa yang dikatakan oleh pria itu ada benarnya.


Setelah percakapan dalamnya dengan Marvin kemarin malam, dirinya akan menuruti apa saja yang suaminya minta. Toh itu semua juga untuk kebaikan mereka.


"Aku akan pergi dengan Anne, siang nanti. Boleh?" Sherina yang tiba-tiba teringat dengan janjinya dengan Anne kemarin, bertanya pada suaminya.

__ADS_1


"Sayang ... Aku bahkan baru saja mengatakannya. Tidak ada yang boleh keluar dari rumah. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Jadi, bisakah kau tetap di rumah sampai putri kita lahir?"


Sherina mengangguk patuh. Dia tidak akan melanggar ucapan suaminya.


__ADS_2