Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 39


__ADS_3

Ivander yang sejak bangun tadi, sama seklai belum keluar dari kamarnya itu, mulai beranjak dari ranajangnya. Pria yang rambutnya masih acak-acakan karena memang belum dirinya tata itu, berjalan menuju balkon kamarnya.


Dia menekuk kedua tangannya di atas pembatas, dan memejamkan matanya dengan kepala yang berada di atas tangannya. Pria itu menghirup napasnya panjang-panjang, mencoba menetralkan emosinya.


"Apakah keputusanku untuk memberikan akta cerai palsu pada Sherina itu salah? Apakah dengan hal itu dia mengira jika dia sudah bebas?" lirih pria itu dengan dada yang begitu sesak.


Dia berpikir jika Sherina lah yang memutuskan untuk kembali dengan pria yang mencintainya itu. Dia tahu, cinta yang Marvin breikan pada istrinya itu, lebih besar dari apa yang dia punya ini. Apalagi dirinya benar-benar terlambat menyadari semuanya.


Andai saja dirinya menyadari perasaannya pada sang istri lebih cepat dari semua ini, pasti kini dirinya dapat hidup dengan bahagia bersama Sherina.


Setelah beberapa saat, Ivander mengangkat kepalanya, dan berdiri dengan helaan napas panjangnya. Pria itu menatap pemandangan yang ada di hadapannya, dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku.


Perhatian pria itu teralihkan ketika dia melihat aktivitas di bawah sana. Ivander yang langsung bisa mengenali siapa wanit itu, kembali meletakkan kedua tangannya di atas pembatas balkon.


Rahang pria itu seketika mengeras ketika melihat interaksi antara sang istri dengan pria yang tak lain adalah sahabatnya dahulu. hatinya terasa terbakar ketika melihat pria itu, dengan begitu hangatnya menvium kening milik istrinya. Satu hal yang tak pernah dia lakukan padan Sherina.


"Sh*it! Aku tidak akan membiarkan mu tetap hidup, Vin!" ucap Ivander setelah tangannya langsung menghantam tembok yang ada di sebelah pintu balkonnya.

__ADS_1


Sekarang apa yang harus dia lakukan? Apakah dia harus membawa Sherina pergi, dan mengatakan jika dia masih suami sah wanita itu.


Ivander bahkan sampai membenturkan kepalanya ke tembok, sembari memejamkan matanya. Dia benar-benar merasa terjebak dengan permainan yang dia buat sendiri.


Setelah mulai tenang, pria itu kembali menolehkan kepalanya ke bawah, dan tak lagi menjumpai keberadaan Marvin dengan mobilnya. Pria yang yakin jika Sherina sudah naik ke atas itu, segera masuk ke dalam.


Dia yang sedang berjalan menuju pintu itu, samar-samar mendengar suara nessie. Dia mendekat ke pintu, dan ternyata benar dugaannya. Ibu hamil itu tengah berbicara pada Sherina.


"Bagaimana malam mu, Nona Sherina? Apakah aku melewati malam mu dengan begitu tenang?" sapa Nessie pada Sherina yang saat ini bahkan tak menatapnya.


Sherina yang tak mendengar apa yang dikatakan oleh Nessie itu, memutuskan untuk segera masuk ke dalam. Tapi, belum sampai pintu rumahnya terbuka, Sherina tiba-tiba dihentikan oleh perkataan yang dikatakan oleh Nessie.


Dengan cepat, Sherina membalikkan tubuhnya, dan menatap Nessie dengan tatapan kagetnya. Bagaimana Nessie bisa tahu tentang masalah yang tengah menimpanya?


"Aku curiga, apakah kau sengaja mengajukan gugatan cerai pada Ivander karena kau sudah mendapatkan ganti yang hampir sama dengan suamiku? Ck, kau ini memang terlihat begitu murah!" asumsi Nessie dengan tatapan remeh pada istri pertama suaminya itu.


Sherina tak menjawab. Dia justru tersenyum miring dan terkekeh licik. Dia hanya menatap kedua mata Nessie dengan tatapan tak memiliki salah.

__ADS_1


Dia tertawa karena semua hal yang dikatakan oleh Nessie sama sekali tak benar. Tatapan mata wanita itu teralih pada Ivander yang tiba-tiba muncul di belakang tubuh Nessie.


"Berapa harga yang kau dapat setelah menjual tubuh mu itu, hm?" tanya Nessie lagi, yang kali ini membuat Sherina mengepalkan tangannya.


Dia masih menatap Ivader yang saat ini juga tengah menatapnya dengan tatapan bencinya. Tangan pria itu terulur, dan memeluk pinggang milik Nessie.


Sherina bingung dengan dirinya, dia merasa ada yang sakit dari dalam dirinya ketika melihat hal itu.


'Apa yang dia katakan kemarin? Apakah dia hanya membual?' batin Sherina seiring dengan matanya yang mulai memanas.


"Sayang, masuklah. Ayo," ucap Ivander dengan begitu lembut pada Nessie, yang langsung dituruti oleh wanita itu.


Sementara itu, Ivander masih berdiri di ambang pintu, berada tepat di hadapan Sherina. Pria itu menatap Sherina dengan kekecewaan yang begitu besar dalam hatinya.


Sherina yang sudah tak kuat untuk menahan air matanya itu, membiarkan air mata tersebut membasahi pipinya.


"Kau percaya pada semua itu, Van?"

__ADS_1


Hai bunda semua, Karita akan update 4 bab setiap harinya yaa. Jadi, nantikan saja keempat babnya disetiap harinya. Jika ingin memberi saran atau tambahan apapun itu, bisa disampaikan di kolom komentar. Terimakasih~


__ADS_2