Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 149 | SEASON 2


__ADS_3

"Niskala!" teriak seorang gadis dengan begitu histerisnya, tatkala melihat tubuh adik kecilnya terhempas dengan begitu saja setelah mendorongnya.


Semuanya berlalu dengan begitu cepat. Dalam hitungan detik, banyak orang yang sudah mengerubungi Niskala dengan begitu panik. Sementara dia, dia masih dengan posisi terjatuhnya, dan menatap adiknya dengan mata terbelalak.


Dengan napas memburunya, dia langsung mendekat dan terduduk lemas di sebelah tubuh Niskala yang sudah tak sadarkan diri. Dengan tangan yang bergetar hebat, wanita itu menyentuh sang adik dan membawa ke pelukannya.


"Niskala, bangun Sayang. Kakak minta maaf, Kal." lirih wanita itu penuh kesedihan lalu mendekap kepala Niskala yang sudah berlumuran darah.


Demi apapun, saat ini hanya ada penyesalan dalam diri Ailey. Dia sama sekali tidak menginginkan hal ini terjadi pada sang adik.


"Bersabarlah, sebentar lagi ambulans akan datang." Ailey tidak menghiraukan ucapan dari seseorang yang ada di belakangnya. Dia hanya bisa menangis sembari terus memeluk tubuh Niskala.


Tidak berselang lama setelahnya, riuh suara ambulans membuat Ailey mendongakkan kepalanya. Dia segera meminta bantuan orang-orang yang ada di sekelilingnya, dan membiarkan tubuh Niskala dibawa masuk ke dalam ambulans.


"Bawa segera ke rumah sakit, dan berikan tagihannya setelah mereka sampai. Lakukan yang terbaik untuk korban." Samar-samar Ailey mendengar ucapan dari seseorang yang berdiri di samping ambulans, sebelum pintunya tertutup.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan, tidak henti-hentinya Ailey mengusap kening sang adik dan terus menggenggam tangannya. Dunianya seakan terhenti setelah kejadian ini.


"Apa yang harus ku katakan pada ayah dan bunda. Mereka pasti akan semakin membenciku, setelah ini." Ailey memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya dengan begitu panjang.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka telah tiba di rumah sakit. Setelah pintu terbuka, petugas rumah sakit segera membawa brankar milik Niskala dengan cepat menuju ruang UGD.


Tangan wanita itu kian mendingin, bersamaan dengan dokter yang tak kunjung keluar dari dalam ruangan. Gadis berusia 23 tahun itu terus menggigit bibirnya, dan bahkan tidak sadar jika hal tersebut sudah berhasil membuat bibirnya mengeluarkan darah.


Beberapa saat kemudian, akhirnya pintu ruangan tersebut terbuka. Dengan cepat Ailey segera berdiri dan mendengarkan penjelasan yang dokter berikan terkait keadaan sang adik.


"Kecelakaan yang dialami oleh adik Anda ini mengakibatkan beberapa tulang di punggungnya, mengalami keretakan. Dan berita yang terburuk adalah, dari analisa pertama saya, tulang ekor milik adik Anda mengalami benturan yang sangat keras.persentase risiko lumpuhnya begitu besar."


Jantung Ailey seketika berhenti berdetak. Dan di detik berikutnya, Ailey bahkan sudah tidak kuat menopang dirinya sendiri. Untunglah ada dua perawat yang langsung membantunya dan mendudukannya di kursi tunggu.


"Kelumpuhan, Dok?" ulang gadis itu tak percaya, yang membuat dokter di hadapannya itu menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Saya tahu ini berat. Tapi, itulah hasilnya. Anda bisa menemui saya, untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya. Anda diperkenankan untuk mendiskusikan hal ini dengan keluarga terlebih dahulu."


Setelah mengatakan hal tersebut, sang dokter pun menghilang dari pandangan Ailey. Gadis itu kembali menundukkan kepalanya dan menangis. Berulang kali dia memukul kepalanya, seolah merasa bodoh atas semua yang terjadi.


"Apa yang harus aku lakukan." lirih Ailey putus asa, dengan ketakutan yang begitu besar.


Namun, bagaimana pun risikonya, dia tetap harus memberitahu kabar ini kepada kedua orang tuanya. Dengan napas yang tercekat, dan tangan yang bergetar hebat, Ailey mencoba menelpon ayahnya.


Tapi setelah panggilan ketiganya tak kunjung diterima oleh sang ayah, pada akhirnya Ailey dengan penuh ketakutan menelepon sang bunda.


Pada panggilan pertama, teleponnya dengan cepat sudah diterima oleh sang ibu. "Iya, Sayang. Ada apa?"


Ailey memejamkan matanya, sembari terus menggigit bibirnya. Setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya, dia mencoba mengatakannya dengan perlahan.


"Bunda. Niskala masuk rumah sakit. Kakak minta maaf ya, Bun."

__ADS_1


__ADS_2