
Selama di dalam ambulans, Ivander terus saja mengusap puncak kepalanya. Pria itu terlihat begitu khawatir padanya. Semua perlakuan pria itu benar-benar mirip seperti yang dahulu pernah dirinya inginkan ketika masih menjadi istri dari pria tersebut.
"Van," panggil Sherina yang membuat tatapan gelisah pria itu, beralih menuju padanya dan menatapnya dengan tatapan penuh makna.
"Ada apa? Apakah kau memerlukan sesuatu? Katakan saja," sahut Ivander sembari menundukkan kepalanya.
Sherina terdiam sejenak, sebelum menatap tangannya yang berada di genggaman pria itu. Dia menggeleng lemah, dan menatap tangannya, yang terlihat begitu kurus dan kering. Sherina juga merasa jika banyak perubahan yang terjadi pada tubuhnya ini.
"Selama itu aku koma?" Sherina mencoba menarik napasnya dengan begitu berat, ketika memutuskan untuk menanyakan semuanya pada Ivander, saat ini.
"Sstt... Kita bicarakan ini ketika keadaanmu sudah kembali pulih, ya? Kau harus segera sembuh. Anak-anak dan papa mama mengkhawatirkan mu. Begitu juga dengan aku dan Anne." Ivander menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan pertanyaan pembuka yang Sherina berikan padanya.
Sherina menyerah. Dia melepaskan tangannya dari Ivander, dan menindihkannya dengan tangan yang satunya. Dia menatap ke sembarang arah, dan menyembunyikan air matanya dari pria itu.
"Dimana Marvin? Apa dia tahu jika aku sudah tersadar?" Sherina kembali menolehkan kepalanya ke Ivander dan menatap pria itu penuh harap.
Tubuh Ivander sejenak membeku. Dia menatap Sherina dengan tatapan sendunya, tapi secepat mungkin dirinya kontrol ekspresi wajahnya. Dia berdehem sejenak, dan berpikir apakah ini sudah saatnya untuk dia mengatakan segalanya pada Sherina?
"Dengarkan aku. Apapun yang terjadi pada suami mu, jangan pedulikan. Fokus saja pada penyembuhan mu, dan kedua putri mu. Mau bagaimanapun, Ailey berhak untuk memilih dengan siapa dia akan tinggal."
Ivander tidak langsung menjelaskan segalanya pada Sherina. Dia hanya memberi nasihat agar wanita itu tidak terkejut ketika sudah mengetahui segalanya.
Sherina tidak paham dengan apa yang Ivander katakan. Sejujurnya dia sangat ingin tahu dengan apa yang pria itu sembunyikan darinya, tetapi dia tahu jika Ivander melakukan apa yang baik untuknya.
"Jangan khawatir. Ada aku dan Anne. Sampai kapanpun itu, kami akan ada di sisimu. Tenang saja." Ivander menepuk bahu Sherina yang bahkan tidak lebih besar dari kepalan tangannya.
Sherina tidak menjawab, hanya anggukan kecil yang menyertai persetujuan wanita itu. Keduanya kembali terdiam untuk beberapa saat, sama sekali tidak ada pembicaraan di antara keduanya.
"Apa ada wanita lain?" Tanya Sherina dengan tiba-tiba yang membuat Ivander tersedak ludahnya sendiri.
Pria itu menegakkan tubuhnya dan menatap Sherina dengan tatapan tak percaya. Wanita itu tidak bereaksi apa-apa, dia hanya menatap kosong langit-langit mobil ambulans yang dirinya tumpangi, dengan kedua tangan yang saling tindih.
"A... Apa yang kau katakan?"
Sherina hanya tersenyum tipis, tanpa menatap wajah Ivander yang saat ini sudah memerah. Pria itu bingung harus menanggapi dengan apa pertanyaan Sherina baru saja.
"Aku hanya menebak, tenanglah..." Sherina mengalihkan matanya dan menepuk lengan Ivander dengan punggung tangannya.
Ivander tidak dapat berekspresi, saat ini. Dia menatap Sherina yang masih tersenyum, dengan hati yang terasa begitu sakit.
Tubuh wanita itu seolah sudah digerogoti oleh waktu, yang membuatnya terlihat seperti mayat hidup. Empat tahun tidak pernah terkena sinar matahari, membuat kulitnya menjadi pucat dan tipis.
__ADS_1
"Ketika sembuh nanti, buatlah janji padaku. Kau harus mengembalikan Sherina yang dulu, dan hidup dengan lebih bahagia. Jangan buat aku dan Anne bersedih," lirih Ivander yang tidak menyangkal tebakan Sherina.
Hal tersebut nyatanya ditangkap dengan sempurna oleh Sherina. Wanita itu tertawa hambar dengan air mata yang kembali menetes. Entah kenapa rasa sakit yang ada, kali ini muncul dua kali lebih hebat.
"Pasti. Percayakan saja padaku. Sherina yang ini belum berubah," jawab Sherina meyakinkan Ivander.
Ivander hanya mengangguk dan kembali menggenggam tangan kurus milik Sherina. Keduanya saling menguatkan hingga akhirnya mereka telah tiba di rumah sakit.
"Aku pulang terlebih dahulu. Tidak apa-apa, 'kan?" Ivander menata piring kotor di meja dekat pintu ruangan Sherina, dan menolehkan kepalanya pada wanita yang baru saja dirinya suapi untuk pertama kalinya.
Sherina mengangguk, dan tersenyum hangat. "Terima kasih sudah membantuku. Pulang dan istirahatlah. Beri kabar padaku jika kalian akan kemari. Dan ya, jangan lupa bawa anak-anak."
Ivander kembali menghampiri Sherina dan mengelus puncak kepalanya. "Jika ada apapun itu, segera hubungi aku atau Anne."
****
Sesampainya Ivander di rumah, dia disambut dengan Anne yang baru saja selesai memandikan keempat anak-anaknya. Dia berjalan mendekati Ivander yang terlihat sangat lelah, dan mengambil jaket yang diberikan oleh pria tersebut.
"Kenapa sore sekali? Apakah ada masalah baru?" tanya Anne sembari mendongakkan kepalanya, untuk menatap pria tersebut.
Ivander menurunkan kepalanya. Dia tersenyum dengan tipis lalu memeluk tubuh Anne yang bahkan tidak sampai ke bahunya. Dia itu memejamkan matanya dan menghirup aroma tubuh dari wanita, yang sebentar lagi akan menjadi istrinya tersebut. Mencari ketenangan yang sejak tadi dirinya cari.
"Dasar pria baj*ngan! Istrinya bahkan sedang melawan kematian selama bertahun-tahun, tapi dia bersikap seolah sudah ditinggal oleh istrinya! Benar-benar gila!" ucap Anne berapi-api yang membuat Ivander menganggukkan kepalanya.
"Tenanglah, kita akan ada di sisi Sherina sampai kapanpun itu. Dan ya, meskipun kita belum pernah membicarakan ini secara langsung pada Marvin. Tapi aku sangat yakin jika semua yang kita pikirkan, benar-benar terjadi!"
Anne mengernyit, dan menatap pria itu bingung.
"Baru saja aku menutup gerbang, tiba-tiba mobilnya masuk ke halaman. Dan ya, wanita itu ikut bersamanya!" Ivander yang sudah bertahun-tahun selalu membicarakan hal ini, mulai berubah. Dia layaknya ibu-ibu komplek yang mendukung semua asumsi calon istrinya itu.
"Benarkah!? Kurang ajar memang mereka berdua! Kenapa tidak langsung ke rumah sakit untuk melihat istrinya? Dan kenapa tidak langsung mencari di mana keberadaan anaknya!?"
Ivander menghembuskan napasnya dan menatap Anne yang terlihat selalu berapi-api ketika mereka membahas tentang kelakuan Marvin.
"Jangan buka pintu jika dia kemari! Biarkan saja dia kelabakan mencari di mana anaknya!" Anne berjalan meninggalkan Ivander dan naik ke atas, dimana kamar anak-anak mereka berada.
"Itu juga kalau mereka datang. Kalau tidak? Seperti biasa!"
Ivander menatap rumah besar yang ada di seberang rumahnya, dan menghela napasnya dengan berat. Dia tidak menyangka jika kehidupan mantan istrinya akan serumit ini.
"Aku takut kau akan menyesal, Vin." Lirih Ivander dengan perasaan yang tidak bisa dirinya definisikan.
__ADS_1
Sementara di seberang sana, seorang pria yang baru saja melepaskan dasi di kerah kemejanya itu, menerima ukuran gelas berisi teh hangat pemberian sekretarisnya.
"Kau pasti lelah. Beristirahatlah, aku akan pulang terlebih dahulu." Belum sempat pria itu meminum tehnya, tiba-tiba wanita itu hendak berpamitan padanya.
"Tinggallah untuk beberapa saat. Kau juga pasti lelah," cegahnya yang langsung meletakkan cangkirnya ke atas meja.
Pria itu berdiri dan mengikuti langkah wanita tersebut. "Tidak perlu, aku masih memiliki urusan."
Seolah tidak memiliki alasan lain untuk menahan wanita itu pergi, dia hanya menganggukkan kepalanya dan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana.
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu. Hati-hati." Wanita itu tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya.
Sebelum wanita itu berbalik dan meninggalkannya, pria itu langsung berucap. "Oh ya, Al. Terimakasih untuk hari ini."
Senyum wanita itu semakin mengembang. Dia lalu bergegas pulang setelah menyelesaikan urusannya.
Setelah kepergian sekretarisnya, pria itu langsung berjalan menuju tangga dan berpapasan dengan pembantu yang mengurus semuanya.
"Bu, di mana anak-anak? Kenapa sepi sekali?" tanya pria itu dengan sopan, yang membuat wanita tua di hadapannya tersenyum tipis.
"Di rumah pamannya, Den. Sudah sejak siang tadi, mungkin akan menginap di sana. Besok mereka libur," jawab wanita yang sudah pria itu percayakan untuk mengurus rumah dan putrinya.
"Libur? Bukankah besok baru hari Rabu?" tanyanya kebingungan yang tidak bersahut dari wanita di depannya.
Tuannya ini benar-benar terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Dia bahkan jarang sekali berkumpul dengan anak-anaknya. Jangankan berkumpul, dia bahkan tidak keberatan jika anak-anaknya jarang merasa betah ketika di rumah.
"Surat pemberitahuannya sudah saya berikan di meja kerja Aden, sejak dua hari yang lalu." Pria itu sedikit terkejut, dan langsung masuk ke kamarnya.
Sesampainya di sana, dia duduk di atas ranjang dan menatap pantulan dirinya di cermin yang ada di seberangnya. Semuanya sudah berbeda sekarang.
Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan menutupi wajahnya dengan sebelah lengannya. Dia menghela napasnya panjang, dan memejamkan matanya.
Tidak terasa, pria itu justru tertidur tanpa berniat untuk tidur sungguhan.
Ternyata rasa cinta tidak selalu bisa dijaga, meskipun salah satu pemerannya tidak ada. Entahlah dia dapat menjaganya atau tidak.
"Marvin!" Tiba-tiba kedua mata pria itu terbuka, ketika samar-samar dirinya merasa jika ada yang memanggilnya, tidak lama setelah dirinya terpejam.
Napas pria itu memburu, dengan mata yang masih terbelalak. Dia mulai bangun dari posisinya, dan menatap dirinya di cermin.
"Alissa."
__ADS_1