Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 134


__ADS_3

Pagi harinya, ketika Marvin baru saja bangun dari tidurnya, dia mengernyit kebingungan ketika menemukan kompresan yang berada di keningnya. Dia membuka matanya dan melihat jam.


Seketika pria itu terkejut ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Dia dengan cepat langsung bangun dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Ya, dirinya yakin kali ini dia terlambat.


Dia menurunkan kopernya dari lemari dan mengambil beberapa bajunya secara acak setelah keluar dari kamar mandi. Pria itu benar-benar kalang kabut, dan tidak mengingat jika ada sang istri di rumahnya. Sehingga dia menyiapkan semuanya sendiri tanpa tertata, dan tidak memberi tahu sang istri untuk menyiapkan koper di malam sebelumnya.


Setelah berpakaian rapi dan menyiapkan semua berkas penting yang harus dibawa, dia keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan hati-hati, lengkap dengan koper yang dirinya jinjing.


Saat Marvin hendak berlalu begitu saja, melewati meja makan. Pria itu seketika menghentikan langkahnya, ketika melihat siluet Sherina yang tengah membawa masakan yang baru saja dirinya masak ke meja makan.


Pria itu menolehkan kepalanya dan terkejut ketika menyadari, jika sang istri sudah kembali ke rumah. Begitu juga dengan Sherina, wanita itu terkejut ketika melihat penampilan sang suami yang bahkan sudah rapi di waktu yang terbilang cukup pagi ini.


"Ah, ya. Aku harus pergi ke Milan pagi ini. Kemungkinan bulan ini aku sibuk di sana, jadi aku harus berangkat ke bandara." Marvin berjalan denga sedikit tergesa, mendekati Sherina yang masih berdiri mematung membawa mangkuk berisi masakannya.


Tanpa aba-aba, pria itu mengecup keningnya lalu turun ke bibirnya, dan meninggalkannya dengan begitu saja. Pria itu menyeret kopernya keluar dari rumah, dan meninggalkan Sherina yang masih terbingung.


"Bukankah dia masih sakit?" gumam Sherina lalu kemudian menyadarkan dirinya sendiri.


Dia segera meletakkan masakannya di atas meja makan dan kembali terdiam lagi. Dia mengendikkan bahunya acuh saat mengingat reaksi sang suami tadi.


Pria itu terlihat sudah terbiasa untuk melakukan semuanya sendiri. Sampai-sampai dia tidak menyadari jika dirinya sudah berada di rumah, dan mungkin sang suami akan melewatkannya dengan begitu saja jika dirinya masih berada di dapur.


Sherina menggelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan kegiatannya, untuk memasuki dapur. Setidaknya sang suami sudah berpamitan padanya, dan itu sudah lebih cukup untuk dirinya yang saat ini tengah menjaga jarak dengan sang suami.


Tidak lama setelah semua masakannya selesai, Sherina segera masuk ke kamarnya dan bersiap untuk pergi kantor. Tak lupa dirinya juga menyiapkan kedua putri kecilnya, dan sarapan bersama sebelum akhirnya berangkat bekerja dengan membawa kedua putrinya sekaligus.


"Sayang, ketika pulang nanti langsung lah ke rumah paman Ivander, okay? Bunda sepertinya akan pulang terlambat, dan ayah kalian sedang ada dinas ke luar negeri. Jadi untuk sementara, habiskan waktu kalian dengan ibu Anne terlebih dahulu. Bunda akan bicara pada Ibu, nanti."


Kedua putrinya itu hanya mengangguk patuh, sudah terbiasa dengan hal tersebut. Mereka terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, sehingga tidak mementingkan apakah ayah atau ibunya bisa bersama dengan mereka atau tidak.


Setelah mengantarkan kedua putrinya berangkat sekolah, akhirnya Sherina bergegas melajukan mobilnya menuju ke kantor. Dia memiliki jadwal yang cukup padat hari ini.


****


Siang harinya setelah keempat anaknya pulang sekolah, Anne membawa mereka ke dalam dan menggantikan baju mereka, sembari menunggu jadwal Ivander pulang ke rumah untuk makan siang.


"Bu, bunda tadi bilang kalau ayah lagi ke Milan. Jadi mungkin Ailey sama Kala pulangnya malam. Bunda juga bilang, kalau bunda pulangnya telat." ucap Ailey setelah membantu ibunya memakaikan baju untuk adik kecilnya.


"Baiklah, tidak masalah. Bukankah kalian sudah terbiasa tidur di sini? Ibu akan menemani kalian tidur nanti malam," ucap Anne ya membuat Niskala dan Ailey tersenyum senang.


Begitu juga dengan seorang pria yang baru saja tiba di rumah. Dia sudah melepaskan jasnya, dengan dasi yang sudah dirinya lepas juga. Dia berjalan masuk dan berdiri di belakang wanita yang sangat dirinya cintai itu.


"Ibu dan istri idaman. Hmm, aku merindukanmu." Ivander berbisik dengan bahasa Jerman pada Anne, agar kedua putri sahabatnya tidak mengerti.


"Pa, tidak perlu berbisik dengan bahasa yang tidak Ailey ketahui. Bilang saja pad ibu, Aiy akan membawa si bungsu kita ini keluar." Ailey mencibir lucu yang membuat Ivander menggelengkan kepalanya. Dia mengusak rambut Ailey gemas, dan menatap kepergian dua gadis kecilnya itu.

__ADS_1


Anne tersenyum canggung ketika Ivander memeluk tubuhnya dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu miliknya. Bagaimanapun pembicaraan antara pria itu dan kedua orang tuanya kemarin, berhasil membuat Anne sedikit ingin menjaga jarak dari pria itu.


"Bagaimana jika kita ke pantai? Dengan anak-anak." tanya Ivander memiringkan kepalanya dan menatap Anne dari samping.


Wanita itu tidak langsung menjawab. Wanita itu terdiam sejenak dan hal tersebut membuat Ivander tahu, juga ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Anne.


Ivander menarik nafasnya dalam dalam, sebelum akhirnya memutar tubuh mungil Anne dan menghadapkan padanya. Pria itu menatap wajah Anne dengan begitu lekat lalu mengecup kening milik Anne yang tertutup oleh poni tanggungnya dengan sedikit lama.


"Tidak perlu memikirkan hal itu. Percayalah padaku, aku sudah mengatasinya. Jadi maukah kita ke pantai?" ucap pria itu dan kembali mengulangi pertanyaannya yang membuat Anne mau tak mau menganggukkan kepalanya.


"Kau benar - benar ingin ke pantai?" tanya pria itu memastikan, yang langsung disambut dengan anggukan kepala dari wanitanya.


"Aku akan menyiapkan pakaian anak-anak." Anne langsung berlalu dari hadapan Ivander, setelah pria itu mengelus punggungnya dengan begitu lembut.


Dia meninggalkan Ivander yang tengah menatap kepergiannya dengan tatapan yang begitu dalam.


"Aku tidak akan pernah takut kehilangan apa pun itu, asalkan kau tetap berada di sisiku." ucap Ivander menatap kepergian Anne dan menyusul untuk berganti pakaian.


Mereka semua memulai perjalanan menuju pantai dengan begitu gembira. Sebelumnya Anne pun sudah meminta izin pada Sherina dan wanita itu tentu saja memperbolehkannya.


Melihat karakteristik keempat anak yang berbeda-beda, membuat Anne merasa sangat complicated.


Bagaimana tidak, dia yang awalnya hanya memiliki satu orang putra, lalu bertambah menjadi memiliki dua putra karena mengasuh Kanwa. Tidak lama setelah itu, dirinya memiliki dua orang putri lagi, titipan dari sahabatnya yang memang tidak bisa mengurus mereka. Jadi jika ditanya bagaimana perasaan Anne karena sudah merawat mereka semua sejak kecil, jujur saja wanita itu sangatlah senang. Paling tidak dirinya menyumbang kontribusi paling besar dalam membesarkan ke empat anak-anaknya.


Sesampainya mereka di pantai, Ivander membiarkan anak-anak mereka berkeliaran dan berlarian di sepanjang pantai dan menunggu Anne yang tengah mengeluarkan tas miliknya.


Seketika pria itu terkejut ketika menyadari jika tangan Anne kosong. Tidak terlihat adanya cincin yang diberikan dirinya padanya, 4 tahun yang lalu.


Ivander langsung menghentikan langkahnya setelah tahu akan hal itu. Dan hal yang sama juga dilakukan oleh Anne. Wanita itu menatap Ivander dengan tatapan bingungnya dan bertanya mengapa pria itu berhenti melangkah.


"Ada apa?" Tanya Anne kebingungan yang membuat sorot mata Ivander berubah menjadi tajam.


"Angkat tanganmu, dan perlihatkan jarimu padaku!" perintah pria itu yang membuat Anne, mendadak teringat dengan cincin yang dia lepaskan malam kemarin.


Dengan sedikit ragu-ragu, Anne mengangkat tangan kanannya dan menunjukkannya pada Ivander. Buku berniat untuk memberikan alasan mengapa dirinya melepaskan cincin, yang dahulu Ivander berikan, ketika pria itu melamar dirinya.


"A... aku minta maaf. Aku tidak sengaja melepasnya, dan menaruhnya di..." ucapan Anne menggantung karena dirinya sedang berpikir, di mana terakhir kali dirinya meletakkan cincinnya. Dia benar-benar lupa.


"Tidak sengaja melepasnya, atau tidak sengaja terlepas?" ucap pria itu yang membuat Anne menyadari ucapannya.


Dia memejamkan matanya sejenak dan menundukkan kepalanya. Dia tahu Ivander bukanlah tipikal orang yang mudah dibohongi. Terlebih lagi setelah apa yang dirinya berikan itu membutuhkan upaya besar dan effort nya tidak main-main.


"Ivander... aku minta maaf. Aku tidak berniat-"


"Lupakan!" Ivander langsung menghentikan penjelasan Anne, dan meninggalkan wanita itu di belakang.

__ADS_1


Dia berjalan menuju ke pantai, menyusul anak-anaknya yang sudah bermain air dengan tas milik Anne yang berada di bahunya. Entah mengapa, ada rasa sedikit sakit hati ketika mengetahui jika Anne melepaskan cincin, yang dirinya berikan 4 tahun silam. Tepat setelah penolakan yang Anne berikan padanya, malam itu.


Anne yang tahu jika ini semua salahnya pun segera menyusul Ivander. Dia berlari kecil untuk menggapai lengan pria itu, dan membalikkan tubuhnya ketika berhasil mencekal lengan kekar milik Ivander.


"Hei, Ivan. Dengarkan aku terlebih dahulu. Aku bisa menjelaskannya," ucap Anne ketakutan yang tidak membuat perasaan sakit hati itu seketika langsung hilang dari pria itu.


"Okay. Aku mengakui jika aku sudah mendengar percakapan antara kau dan juga kedua orang tuamu. Aku sadar apa posisiku di rumahmu, apa posisiku di hidupmu. Aku tidak lebih hanyalah seorang baby sitter, yang bertugas untuk mengurus putramu. Tidak lebih dari itu" jelas Anne dengan suara bergetar yang membuat Ivander langsung menatapnya dengan tatapan tajam.


"Apa yang kau katakan!? Coba kau katakan sekali lagi!" tekan pria itu yang membuat Anne tidak lagi berani mengatakan hal tadi.


"Tenanglah. Aku berkata yang sebenarnya. Bukankah hubungan kita berawal dari aku yang hanya baby sittermu dan hal itu berlangsung tanpa kita sadari? Kita sama-sama memiliki perasaan satu sama lain, tapi mungkin strata sosial kita yang membuat kemungkinan kita bersatu sedikit susah." Anne mengelus lengan kekar milik Ivander, mencoba menenangkan pria itu agar tidak mengedepankan emosinya.


Ivandar tidak mengucapkan sepatah kata apa pun. Dia hanya menatap kedua mata coklat itu, yang masih bisa dengan tenang mengatakan kebenarannya walaupun dia sudah mengatakan jika dia tidak menyukainya.


"Apapun pilihan yang akan kau ambil, aku tidak akan keberatan dan akan selalu mendukung mu. Percaya lah padaku."


"Jika kau menerima saran dariku, maka terimalah permintaan papa mu. Menikahlah dengan wanita pilihannya. Setidaknya itu akan menyelamatkan masa depanmu dan masa depan putramu," ucap Anne kembali yang membuat Ivander menggelengkan kepalanya.


"Aku benar-benar tidak menyangka hal ini akan keluar dari bibirmu, Ann. Kau tahu, bukan? Aku sudah menatapmasa depan yang indah bersama denganmu, dan anak-anak kita. Kau juga tahu jika aku sangat mencintaimu. Dan kau juga bahkan tahu, aku rela berubah dalam banyak hal agar kau bersedia untuk menerimaku sebagai pendamping hidupmu."


Ivander tertawa sumbang, dan menggelengkan kepalanya. Menatap tak percaya pada Anne yang terlihat menyesal sudah mengatakannya.


"Dengarkan, aku benar-benar tidak menyangka jika kau bisa berkata seperti ini. Apakah secepat ini kau menyerah dengan hubungan kita? Apakah semua pondasi yang sudah kita bangun selama bertahun-tahun ini, dengan sengaja kau rubuhkan dengan begitu mudahnya?" Ivander mengeratkan rahangnya, menahan sakit yang begitu luar biasa di dalam dirinya.


"Tidak... tidak seperti itu! Aku mohon tunggu penjelasan ku!"


Ivander yang tidak ingin mendengar penjelasan apa pun itu dari Anne, memutuskan untuk kembali ke mobil. Langkah besar pria itu membuat Anne mau tidak mau harus berlari agar tidak tertinggal jauh dari pria itu.


"Ivander! Aku mohon tunggu sebentar!" Teriak wanita itu, yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Ivander.


Yang ada di pikiran pria itu sekarang adalah, bagaimana bisa Anne menyerah dengan begitu mudahnya. Setelah semua perjuangan yang dirinya lakukan, setelah semua penolakan yang dia terima, dan setelah semua hal yang harus dia gadaikan untuk menebus hubungan yang sangat dia inginkan bersama wanita itu.


Dia bekerja siang dan malam untuk menyiapkan masa depannya dengan keluarga kecilnya. Dan dia bahkan harus pandai membagi waktu antara pekerjaan, anak-anak, dan juga wanita itu. Serta tak jarang kedua orang tuanya juga, membuat Ivander merasa gagal dengan semua usahanya. Semua sia-sia. Pikir pria itu.


"Baiklah, aku akan mengatakannya sekarang! Aku mencintaimu. Aku bersedia menikah denganmu!" Teriak Anne putus asa, yang membuat tubuh Ivander langsung membeku.


Jantung pria itu seolah berhenti berdenyut, ketika mendengar empat kata yang dirinya tunggu selama 4 tahun terakhir ini. Dan ya, akhirnya kalimat itu keluar dari bibir Anne.


"Aku mencintaimu! Maka dari itu aku harus mengorbankan semuanya agar kau bisa bahagia, kau bisa hidup nyaman, dan kau bisa hidup bahagia!"


"Aku pikir dengan berkorbannya aku, itu akan membuatmu merasa tenang. Tapi aku sadar, jika itu salah! Aku mencintaimu, Van!"


Anne menangis karena merasa lega setelah dirinya berhasil mengucapkannya, tadi. Ya, dirinya sadar jika dia sangat mencintai pria, yang sudah menemaninya selama 4 tahun ini.


Ivander menengadahkan kepalanya ke langit, dan memejamkan matanya sejenak. Pria itu merasa semua beban yang selama ini dirinya pikul senidri, seolah lenyap begitu saja terbawa angin.

__ADS_1


Dia membalikkan tubuhnya dan menatap wanita dengan dress berwarna broken whitnya miliknya. Rambutnya yang tergerai bebas, menambah kesan menawan di fitur wanitanya.


"Will you marry me, Annelis Manuela Madri?"


__ADS_2